Until the End

Until the End
Draft



Bel pulang sekolah pun berbunyi, Azzam sengaja menjemput Reysha di depan kelasnya karena memang kelas Azzam keluar lebih dulu di banding Reysha.


"Udah lama?" tanya Reysha yang baru saja keluar dari kelasnya.


"Nggak kok." jawab Azzam.


Reysha pun menggandeng tangan Azzam, tentu saja itu membuat Azzam tersenyum kecil.


"Reysha tunggu." teriak seseorang yang Reysha kenal.


"Apalagi sih?" ketus Reysha saat Marvel dan Mita menghampirinya.


"Aku mau minta maaf sama kamu, aku nggak pernah selingkuh di belakang kamu Sa, aku sama Mita cuma sahabatan doang." ucap Marvel.


Reysha melirik sinis Mita yang berdiri di samping Marvel. Dia sungguh muak dengan tampang polos Mita itu.


"Iya kan Ta? kita nggak ada hubungan apa-apa." tanya Marvel.


"Bukannya kita ada hubungan ya Vel? Kamu sendiri kan yang bilang sama aku kalau kamu bosen sama Reysha, kamu sendiri yang mau kita friends with benefit di belakang Reysha." kata Mita mendongakkan wajahnya menatap Marvel dan Reysha bergantian.


Azzam dan Reysha hanya menatap intens Marvel yang sedang menatap Mita dengan penuh amarah.


"Kamu jangan ngada-ngada Ta, aku cuma sayang sama Reysha nggak ada yang lain, kamu tau sendiri kan kalau aku antar jemput kamu karena di suruh kedua orang tua aku, aku muak sama kamu Ta." keluh Marvel.


"Kamu jangan kebanyakan bohong Vel, bukannya kamu sendiri yang deketin aku."


"Berisik lo berdua! Ngeselin banget sih buang-buang waktu gue aja, lagian ya Kak Marvel, gue itu bersyukur banget lepas dari cowok brengsek kaya lo! So lo sendiri yang bilang kalau gue bakal nyesel putus sama lo? Tapi sampai sekarang gue nggak pernah nyesel tuh pisah sama lo? Lagian ngapain gue pakai nyesel segala, orang gue udah dapet gantinya yang lebih baik."


Marvel menatap tajam Azzam yang masih menggandeng tangan Reysha, tentu saja Marvel tidak akan terima jika Azzam yang menggantikan posisinya di hati Reysha.


Mita pun sama halnya dengan Marvel, dia kesal kepada Reysha yang mendapatkan pria sebaik Azzam, bahkan dirinya saja belum bisa menguasai hati Marvel.


"Kamu emang semurah itu ya sampai-sampai secepat itu ngelupain kebersamaan kita."


"Jaga bicara lo, jangan pernah hina pacar gue." ketus Azzam saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut Marvel.


"Tapi emang bener kalau Reysha itu murahan." sahut Mita.


"Udah deh Kak jangan di dengerin, emang cowok gatel sama cewek kegatelan itu cocok, saling garuk menggaruk. Mending kita pergi aja." kata Reysha menarik Azzam agar segera menjauh dari pasangan kegatelan itu.


"Mantan kamu itu." ucap Azzam ketika sudah berada di parkiran.


"Ish jangan dibahas kenapa sih."


*****


Azzam dan Reysha sudah sampai di rumah. Mereka berdua disambut Arkan dan Marisa yang sudah menyiapkan barang-barang putra dan menantunya.


"Lah kok udah semua Bun?" tanya Reysha.


"Iya bunda tau kalian pasti capek, jadi bunda inisiatif buat beresin barang-barang kalian,"


"Mobilnya juga udah siap, kalian hati-hati di jalan ya nantinya, atau kalian mau ganti baju dulu?" tanya Arkan.


"Kayanya nggak usah, kita langsung ke rumah Reysha aja, yah." sahut Azzam.


"Kalian udah kasih tau orang tua kamu Sa?"


"Belum, kita mau bikin suprise buat Mama sama Papa." jawab Reysha.


"Ingat Zam, jaga sikap ya di rumah mertua kamu, walaupun beda rumah juga kalian bakal tetap satu lingkungan."


Azzam mengangguk, keduanya memasuki mobil yang sengaja Arkan berikan untuk putra kesayangannya. Tentu saja harganya pun sangat fantastis. Apalagi Azzam adalah putra satu-satunya Arkan dan Marisa.


"Seneng dong, aku bakal banyak belajar dari Mama biar jadi istri yang baik." ucap Reysha.


"Sekolah dulu yang pinter, habis itu baru boleh mikirin cara gimana jadi istri yang baik." ucap Azzam mengacak gemas rambut Reysha, sebelah tangannya masih fokus untuk mengendalikan stir mobilnya.


Lima belas menit kemudian mobil Azzam pun sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Prayoga yang disana terdapat beberapa mobil di halaman rumahnya.


"Loh kok rame?" bingung Reysha melihat sederetan mobil berbaris didepan rumah.


"Mungkin lagi ada tamu." sahut Azzam.


Reysha pun melirik mobil yang tak asing baginya, tentu saja ia langsung berlari masuk meninggalkan Azzam sendirian.


"Dasar nakal." ucap Azzam terkekeh kecil melihat Reysha berlari begitu saja memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum para sugar Daddy-nya Reysha." pekik Reysha saat memasuki rumah disambut dengan tatapan para pria dewasa.


"Wa'alaikumussalam, kebiasaan ya kamu kalau masuk rumah teriak-teriak mulu." omel Alesha sambil berkacak pinggang.


"Kok masih pakai baju sekolah? Kamu habis ngelayab kemana?" tanya Rey.


"Nggak ngelayab Pa, aku kan mau tinggal disini, tuh Kak Azzam ada dibelakang." tunjuk Reysha saat Azzam baru saja memasuki rumah dengan membawa tas digendongnya dan juga dua koper ditangannya yang ia tarik.


"Dasar bandel, bukannya dibantuin malah kabur kesini biarin Azzam bawa koper sendirian." ujar Rey mengambil salah satu koper ditangan Azzam.


"Anak perawan emang gitu, lagi lucu-lucunya." sahut Rendi.


"Emang yakin masih perawan?" tanya Kaivan membuat Reysha mengerucutkan bibirnya lucu.


"Jangan nodai otak Reysha ya, kok tumben pada ngumpul semua?" tanya Reysha.


Alesha pun mempersilahkan Azzam agar duduk, sebelum duduk tentunya Azzam bersalaman terlebih dahulu kepada keempat pria tersebut.


"Iya karena keponakan kita ada disini, Nesa nginep di rumah ini." jawab Ciko.


"Bagus ya, sekarang aku nggak dianggap keponakan lagi, pokoknya aku pundung nih." gerutu Reysha.


"Yang udah nikah ya nggak dianggap keponakan lagi lah." Kata Rendi.


"Emang yang paling baik itu cuma Om Friza, oh iya emang Om Friza kemana sampai Nesa dititipin disini?"


"Ada urusan di New York, udah sana ajak Azzam ke kamar buat ganti baju, nanti masalah beres-beres barang-barang kalian biar bi Ijah sama Mama aja." titah Alesha.


"Oke Ma, kalau gitu kita berdua pamit ke kamar dulu ya Om." pamit Reysha.


Reysha pun mengambil alih koper yang sempat Rey bawa, sedangkan Azzam juga membawa kopernya sendiri.


"Nggak papa kan kalau dikamar ini dulu? Bangunan rumah juga belum jadi tadi." ujar Reysha melemparkan tasnya ke atas ranjang.


"Nggak apa-apa, oh iya tadi nggak liat Haidar tuh."


"Pasti lagi belajar dikamar, atau nggak dia lagi hafalan ngaji buat setoran nanti sore, emang kayanya aku ketukar deh pas di rumah sakit, Mama sama Papa rajin ibadah, Haidar juga sama bahkan Haidar niru Mama sama Papa pintarnya, kok aku beda sendiri ya?" guman Reysha.


"Ya makannya belajar, nanti kalau Haidar setoran kamu harus ikut les juga, aku juga mau sih sebenarnya."


"Beneran? Kalau kamu ikut aku juga ikut." sahut Reysha antusias.


"Ya tapi jangan karena aku, harus karena kemauan kamu sendiri." kata Azzam.


Reysha pun langsung mengangguk cepat dan memeluk Azzam.