Until the End

Until the End
Kebahagiaan yang Sebenarnya



Hari berjalan begitu cepat, umur Reysha sudah hampir menginjak empat tahun, dimana dia sekarang terlihat sangat cantik seperti Alesha, bahkan kini Alesha dinyatakan tengah hamil untuk yang kedua kalinya.


Peran orang tua dalam mengasuh anak memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak baik dari segi positif maupun segi negatif. Karena bersama orang tuanya lah anak banyak menghabiskan waktunya dan bersama orang tua pula anak mendapat pelajaran.


"Papa liat deh." celoteh Reysha sambil mengobrak-abrik mainan yang sudah Alesha bereskan.


"Iya sayang, pinter banget sih anak Papa, mainannya jangan di lempar-lempar sayang, nanti Mama marah." ujar Rey yang sedang menemani putrinya bermain.


Hari ini adalah hari weekend, jadi Rey menghabiskan waktunya bersama keluarga. Alesha sedang memasak makan siang untuk suami dan anaknya.


"Kesel banget aku Mas." keluh Alesha membawa semangkuk sop kesukaan Reysha dan memberikannya kepada Rey.


"Kenapa sayang?" tanya Rey mengambil mangkuk bubur tersebut dan menyuapi putrinya dengan telaten.


"Masa tiap hari Reysha manggilin kamu terus, aku juga pengen kan."


Rey terkekeh gemas, bisa-bisanya Alesha kesal hanya gara-gara Risa sering manggil dia.


"Sayang, namanya juga anak-anak ya wajar dong kaya gitu, lagian yang sering sama Reysha kan kamu" ujar Rey mengacak gemas Khimar Alesha.


Alesha hanya menghela napas panjang, setelah selesai menyuapi Risa dan menidurkannya, kini Rey dan Alesha sedang menikmati makanannya.


"Gimana sama kuliah kamu?" tanya Rey yang masih sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Sejauh ini masih baik-baik aja sih, tapi gara-gara kuliah aku jadi agak jauh sama Reysha." keluh Alesha, dirinya pun sangat ingin menyaksikan tumbuh kembang putrinya.


"Kamu kan masih bisa liat Reysha pulang kuliah sayang, jangan di bikin pusing gitu, lagian kalo kamu udah selesai dengan pendidikan kamu, kamu juga bisa kan menghabiskan banyak waktu buat Risa."


"Ya tapi beda Mas, aku maunya didik anak aku sendiri, tapi ini aku malah sibuk sama urusan aku."


"Udah gak papa, lagian bentar lagi kamu juga udah mau sidang kan, Reysha juga Alhamdulillah banyak di kelilingi orang-orang baik, ada ibu, Mama,bunda dan ayah, juga ada bang Alan yang nemenin Reysha terus.


Alesha hanya menganggukkan kepalanya, dia membereskan bekas makanannya kemudian ikut bergabung dengan Rey yang sedang menonton tv.


"Setelah lulus, Mas mau kamu ngurus butik yang udah Mas siapin buat kamu." Alesha mengerutkan keningnya, sejak kapan Rey membuatkannya butik.


"Butik? sejak kapan Mas punya butik." tanya Alesha.


"Sejak kamu masuk kuliah, Mas udah bikin butik buat kamu, tadinya Mba Kinan yang ngurus butik, tapi sebentar lagi kamu kan lulus, dan


pastinya kamu yang akan ngurus butik itu, tapi sekarang kan kamu juga lagi hamil, jadi Mas gak bakal ngijinin kamu kerja dulu."


bel rumah Rey berbunyi menandakan ada seseorang yang datang berkunjung."Biar aku aja yang liat Mas." ujar Alesha berjalan menuju pintu utama.


"Assalamualaikum." salam Bimo dan Mega memasuki rumah Alesha.


"Wa'alaikumussalam." jawab Alesha menyalami kedua tangan orangtuanya.


"Kamu apa kabar sayang? gimana sama kandungan kamu." tanya Mega memegang perut Alesha yang sudah sedikit membuncit mengingat jika usia kandungannya sudah memasuki bulan ketiga.


"Alhamdulillah baik Bun, bunda sama ayah baik kan."


"Baik sayang." jawab Bimo.


Rey pun ikut bergabung bersama kedua mertuanya, ia duduk di sebelah Alesha sambil mengusap pelan perut istrinya.


"Reysha mana?" tanya Bimo yang tidak melihat kehadiran cucunya.


"Reysha tadi tidur yah, ayah kok repot-repot bawa ini semua." ujar Rey yang melihat ada banyak buah-buahan serta susu hamil yang Bimo dan Mega bawa.


"Ini nggak seberapa Rey, lagian apa sih yang nggak buat cucu ayah."


"Andai Safira masih ada, mungkin dia juga akan merasakan kebahagiaan melihat anak-anaknya, apakah ini karma untukku karena telah merebut kebahagiaan orang lain, sampai-sampai kebahagiaan putriku juga terenggut." ujar Mega dalam hati.


Sebenernya karma tidak ada dalam Islam. Tetapi ajaran Islam menyepakati jika tingkah laku buruk akan mengakibatkan sebuah keburukan juga. Sehingga umat muslim diwajibkan untuk senantiasa berbuat baik


Dalam firman Allah swt, Surat An-Nahl ayat 61 menjelaskan:


وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ


Artinya: "Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya."


Allah swt juga berfirman:


مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ


Artinya: "Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An-Nahl[16]: 97)


Untuk itu, kita sebagai umat manusia harus berbuat baik dan menjauhi segala larangan serta menjalankan semua perintah dari Allah swt. Amalan-amalan perbuatan yang baik akan dibalas oleh Allah swt dengan segala sesuatu yang baik pula.


Bersambung...........