Until the End

Until the End
sakitnya menjadi diriku



Rey melajukan motornya menuju sekolah dengan membonceng Alesha yang kini sedang bersandar di punggungnya.


"Jangan dengerin omongan ibu ya Sha, mas gak mau kamu tertekan dan masa remaja kamu lagi-lagi mas renggut" ucap Rey mengusap lembut tangan Alesha yang sedang melingkar di perutnya.


Alesha tersenyum dan menggeleng, ia sama sekali tidak tertekan dengan semua ini, ia akan menjalankan kewajibannya sebagai menantu dan istri dengan ikhlas walau pada akhirnya ia berjanji akan mundur dari pernikahan ini.


"Nggak mas, Asha gak tertekan kok malah Asha mau cepet-cepet diberi momongan biar ibu,mas Rey dan mba Safira bisa merasakan kebahagian malaikat yang akan hadir di rahim Asha" ucap Alesha tersenyum tanpa beban.


Rey menghela nafas kasar menatap wajah Alesha dari spion motornya.


"Kita bicarain itu nanti ya sayang, mas masih mau menghabiskan waktu berdua sama kamu sebelum ada Rey junior yang bakal jadi perusuh" Alesha mencubit pelan perut Rey mendengar suaminya menyebut calon anaknya perusuh.


"Enak aja perusuh"


"Mas gak becanda sha, kita nikmatin aja waktu kita sama-sama, masalah anak mas gak pernah maksa Safira ataupun kamu memberikan keturunan sama mas"


"Iya sih sebenernya Asha juga belum cukup umur bahas punya anak masa anak kecil udah bisa bikin anak hehe" tawa Alesha membuat Rey gemas.


"Tapi kayaknya ibu udah pengen banget deh gendong anaknya mas Rey, bukannya alasan kita nikah juga biar mas dapet keturunan" ucap Alesha dengan sangat pelan tetapi Rey masih bisa mendengarnya.


"Jangan pernah ngomong kaya gitu sha, pernikahan bukan cuma tentang keturunan aja, kita nikah juga untuk meraih ridho Allah"


Masih banyak pertanyaan yang ingin Alesha tanyakan, tetapi ini bukan waktu yang tepat untuk ia bertanya karena itu semua akan menjadi beban pikirannya.


Sepuluh menit berlalu akhirnya keduanya telah sampai di cafe biasa Alesha turun, sebab Alesha tidak pernah turun didepan sekolah takut-takut temannya mengetahui status Alesha sekarang.


"Mas doain semoga olimpiade nya berjalan lancar Zaujati" ucap Rey mengecup kening Alesha kala Alesha mencium punggung tangannya.


"Iya makasih mas, kalau gitu Alesha duluan ya, Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" jawab Rey dengan menatap sendu istrinya yang kian menjauh.


Dilain sisi Alan tengah berhadapan dengan wanita yang sangat ia hindari, Alan membenci wanita dihadapannya.


"Aku cinta sama kamu Alan, aku masih cinta sama kamu" pekik wanita tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tapi gue udah gak cinta sama lo, gue muak sama lo Resa, lo udah selingkuh di belakang gue, kesalahan lo sangat besar dan gak bakal gue lupain luka yang lo torehkan ke gue"


"Kamu salah paham kak, aku gak pernah selingkuh, kalau kamu gak percaya kamu bisa tanyain semua ini sama Alesha, dia tau semuanya" lirih Resa


Alan berdecih pelan menatap sinis Resa, seorang gadis yang sangat ia cintai tetapi menghianati dirinya, bahkan ia melihat dengan mata kepalanya sendiri melihat Ciko selaku teman adiknya menyatakan perasaannya kepada Resa, dan resa tersenyum bahagia sambil memeluk Ciko.


Andai Alesha tau kalau Alan dan Resa memiliki hubungan dia akan meluruskan permasalahan ini, namun Resa meminta Alan agar merahasiakan hubungannya kepada Alesha karena Resa akan merasa canggung terhadap Alesha dan keluarganya.


"Itu semua gak seperti yang kamu lihat kak, Ciko cuma latihan buat nembak ceweknya"


"Dan asal lo tau kalau cewek yang dimaksud Ciko itu lo Resa, gue nyesel pernah ngingkarin janji ke bunda, bunda bener kalau cinta yang haram bakal menyakitkan, karena itu adalah jalan yang salah" ucap Alan pergi meninggalkan Resa yang terduduk di bangku taman sambil menangis.


"Asha gue butuh lo hiks hiks" ucap Resa dalam hati kemudian langsung beranjak menuju sekolah karena hari ini ia juga harus ikut olimpiade bersama Alesha.


*****


"Gak ada Alesha rumah jadi sepi ya mas, biasanya dia yang bakal bikin rumah kita jadi rame" ujar Safira membuka suara.


"Kan enak kalau sepi kita bisa mesra-mesraan kaya dulu lagi kan Humaira" ujar Rey tanpa beban


"Mas gak boleh ngomong kaya gitu, kalau Alesha tau pasti dia bakal sakit hat---"


"Ah santai aja kali mba" ujar Alesha memotong pembicaraan antara Rey dan Safira.


Bola mata Safira hampir melompat melihat keberadaan Alesha, ia takut Alesha salah paham dan berujung sakit hati.


"Alesha kamu kok udah pulang?" Tanya Safira mengalihkan pembicaraan.


"Oh iya tadi ada yang main curang dan bikin Alesha didiskualifikasi, kalau gitu Alesha pamit ke kamar dulu ya mba, Alesha capek" pamit Alesha melangkahkan kakinya memasuki kamar.


Sedangkan Rey yang masih duduk menatap dalam diam punggung Alesha yang semakin menjauh, rasa takut kian menambah saat Alesha mendengar ucapannya.


Entahlah perasaan macam apa ini, satu sisi Rey sangat mencintai Safira tetapi satu sisi ia takut Alesha pergi meninggalkannya, rasa takut pada diri Rey entah itu rasa nyaman atau rasa takut ibunya kecewa.


"Mas, kan aku udah bilang jangan pernah ngomong sembarangan, aku takut Alesha salah paham sama kamu"


"Aku gak bermaksud gitu Fir." ujar Rey dengan lirih.


Safira pergi tanpa menggubris perkataan Rey, Alesha masih muda dan ia takut Alesha akan bertindak yang tidak-tidak dan mengecewakan Ira, pasti Ira akan menyalahkan Safira lagi kalau terjadi sesuatu pada Alesha.


Rey pergi menyusul Alesha ke kamarnya, ia akan menjelaskan perkataannya tadi.


Rey menghela nafas panjang kala Alesha berbaring diatas ranjang masih menggunakan seragam sekolahnya.


"Asha bangun yuk, ganti dulu bajunya" ucap Rey membangunkan Alesha.


"Capek banget males bangun" ujar Alesha yang masih memejamkan matanya.


"Ya udah tapi nanti ganti ya bajunya"


"Hm"


"Alesha maafin ucapan mas tadi ya, mas gak bermaksud---"


"Aish, gak papa santai aja mas, wajar kan semenjak ada Alesha kalian jarang berduaan"


"Nggak gitu sha"


"Udah ah jangan tegang gitu Alesha mah santai hehe, ya udahlah aku ngantuk banget tapi males ganti baju jadi langsung tidur aja ya" ucap Alesha kembali memejamkan matanya dan menaikan selimutnya sampai sebatas dada.


Rey kembali menghela nafas kasar, kenapa ia tidak pernah tegas akan dirinya, pertama ia tidak tegas terhadap ibunya yang menyuruh menikah lagi, dan sekarang ia tidak tegas akan perasaannya sendiri.


Bersambung.........