
Saat ini Alesha tengah sibuk dengan pekerjaannya, selain mendesain baju Alesha juga harus mengawasi karyawannya, karena Minggu lalu telah terjadi penggelapan uang di butiknya.
"Sha ini kan udah hampir jam tiga, kita juga belum makan kan, lebih baik kita makan dulu aja di restauran deket sini, banyak makanan enak-enak loh, Mbak juga pengen tau masalah Reysha yang bisa tiba-tiba nikah." ajak Mbak Kinan.
Alesha pun mengangguk mengiyakan ajakan Mbak Kinan Kakak iparnya." Kalau gitu aku beres-beres dulu ya Mbak." ujar Alesha.
Setelahnya mereka berjalan menuju restauran terdekat, Alesha dan Kinan sama-sama menjalankan bisnis yang dimodali Rey, tentu saja agar mereka bisa leluasa dengan usaha miliknya sendiri.
Sesampainya di sana mereka duduk di kursi paling ujung dan memesan makanan yang mereka mau.
"Jadi gimana ceritanya Sha? Mbak kaget banget loh, masa keponakan Mbak tiba-tiba menikah, apalagi Reysha kan masih kelas sebelas."
Alesha menghela nafas panjang kemudian menceritakan semua yang terjadi pada Reysha.
flashback
"Semua ini nggak seperti yang kalian kira, aku mau ngambil buku di perpustakaan, tapi tiba-tiba Kak Azzam lari-lari masuk perpustakaan dan nggak sengaja nabrak aku, akhirnya Kak Azzam jatuh diatas tubuh aku."
"Gue nggak sengaja nabrak lo." ketus Azzam.
"Diam." bentak Reysha menatap tajam Azzam yang tak kalah tajam menatap Reysha sengit.
"Oke lanjut lagi Reysha." ujar Pak Alvaro.
"Ya udah gitu aja, kita nggak ngelakuin apa-apa." ujar Reysha membela dirinya.
"Tapi saya nggak percaya Reysha, buktinya baju Azzam kancingnya kebuka, apalagi tangan Azzam tepat berada di atas dada kamu Reysha, saya melihat dengan jelas kalau kalian tengah melakukan hal yang tidak-tidak di sekolah ini." tegas Pak Alvaro selaku guru agama di tempat Reysha belajar.
Reysha yang emosi menggebrak meja yang ada di hadapannya." Saya benar-benar nggak ngelakuin apa-apa Pak. Ma, Mama pasti percaya sama Reysha kan?" tanya Reysha menggoyangkan lengan Alesha.
"Papa juga pasti nggak percaya kan sama tuduhan itu semua? Reysha nggak pernah diajari hal-hal buruk kaya gitu sama kalian, Reysha disini fokus untuk menuntut ilmu aja."
"Udah keciduk masih ngelak aja." ujar Pak Alvaro.
"Pak, anak saya nggak mungkin melakukan itu semua." ujar Rey membuka suaranya.
"Iya benar Pak, lagian kalau memang benar bapak nggak punya bukti yang kuat untuk menghakimi mereka." ketus Arkan ayah dari Azzam.
"Mending di nikahin aja, dari pada berbuat hal yang tidak-tidak."
"Bapak jangan seenaknya ya, anak saya masih sekolah, mana bisa dinikahkan. Lagian bapak punya masalah apa sama anak saya sampai ngotot kaya gitu." tolak Alesha, dia tidak habis pikir dengan cara berpikir Pak Alvaro yang terlihat kolot, bukannya itu sama saja memfitnah tanpa adanya bukti yang kuat.
"Pak Alvaro bisa tenang dulu." tegas kepala sekolah menengahi perdebatan sengit antara Alesha dan Pak Alvaro.
"Keputusan saya sudah bulat, mereka harus segera menikah untuk menghindari fitnah lagi, apalagi Pak Alvaro memergoki mereka, jika terjadi apa-apa dengan Reysha bagaimana? apalagi kemungkinan terburuknya adalah hamil diluar nikah." putus kepala sekolah.
"Saya tidak setuju, kalau putri saya menikah bagaimana dengan sekolahnya? apa kalian tega membuat seorang murid harus putus sekolah hanya gara-gara kesalahan yang tidak mereka lakukan?." tanya Alesha dengan air mata yang membasahi pipinya.
"Kita tidak akan mengeluarkan Reysha jika memang dia tidak hamil."
"Yakin bapak bisa merahasiakan ini semua? saya tau anak saya tidak akan mungkin setega itu merusak masa depan anak orang, dan saya juga nggak yakin Reysha melakukan itu semua, dia dari keluarga yang terhormat." tanya Marisa selaku orang tua Azzam.
"Saya pasti merahasiakan ini semua." ujar kepala sekolah.
"MAMA, REYSHA NGGAK MAU." pekik Reysha berlari keluar dari ruangan kepala sekolah.
flashback end
"Mbak juga nggak yakin Reysha kaya gitu, tapi semoga aja Reysha sama Azzam baik-baik aja, keliatannya Azzam juga cowok baik-baik." ucap Kinan.
"Sha, kamu kenapa?" tanya Mbak Kinan yang melihat Alesha memegang kepalanya.
"Mbak, boleh kan aku pulang duluan, kepala aku pusing banget." ujar Alesha memberi alasan, ia ingin mengikuti kemana perginya sosok wanita yang mirip Safira itu.
"Ya udah, mau Mbak anterin nggak?" tanya Mbak Kinan dan Alesha pun menggeleng.
Setelah itu Alesha pergi mengikuti wanita yang memakai gamis warna pink dan kerudung senada itu, dia ingin memastikan jika itu benar-benar Safira. walaupun nyatanya Alesha melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Safira telah meninggal dunia.
Alesha pun kehilangan jejak wanita itu, dia memutuskan untuk pulang ke rumah, tetapi sebelum itu Alesha menyuruh Rey agar segera pulang.
"Mas, kamu masih di kantor?" tanya Alesha ketika sambungan telponnya terhubung.
"Iya sayang, emang kenapa?" tanya Rey.
"Kamu bisa pulang cepet nggak, atau kalau nggak aku mau ke kantor kamu boleh kan?"
"Kenapa tiba-tiba sayang? Mas bisa aja pulang sekarang."
"Nggak Mas biar aku aja yang ke sana, aku mau ngomong sesuatu sama kamu Mas." jawab Alesha.
"Oke sayang, hati-hati di jalan ya, Mas tunggu di ruangan Mas." ujar Rey kemudian mematikan sambungan telponnya.
Rey menatap ponselnya yang masih ada digenggaman tangan, hatinya menjadi gelisah saat tiba-tiba Alesha ingin bertemu dengannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa hati aku gelisah kaya gini, tapi semoga Alesha baik-baik aja." ujar Rey menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.
duapuluh menit berlalu akhirnya Alesha pun telah sampai di kantor Rey, ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan tersebut. Banyak pasang mata uang memandang takjub Alesha karena nama Alesha Prasetia telah melejit berkat bakatnya dalam mendesain baju, ada juga yang menatap tak suka Alesha, karena mereka berpikir jika wanita beranak dua itu tidak pantas untuk Rey Prayoga.
Alesha pun berpapasan dengan Danu suami Kinan yang tak lain Kakak ipar suaminya. "Selamat sore Sha, tumben banget kamu dateng kesini emang urusan butik udah selesai?" tanya Danu pada Alesha.
"Sore Mas, iya aku sengaja kesini mau ketemu Mas Rey." jawab Alesha.
"Oh ya udah, kalau gitu Mas mau lanjutin kerja dulu, pasti Rey juga udah nungguin kamu." ujar Danu, akhirnya Alesha pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan Rey.
"Assalamualaikum Mas." salam Alesha membuka ruangan Rey.
"Wa'alaikumussalam sayang, sini duduk." ajak Rey menghampiri Alesha dan menyuruhnya duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Tiba-tiba banget kamu mau mampir, mau ngomongin apa sih, biasanya juga kita ngobrol kalau udah di rumah." ujar Rey memeluk pinggang Alesha dari samping.
Alesha sebenarnya gugup, dia masih tidak percaya kalau dirinya melihat Safira berdiri dihadapannya.
"Tadi aku sama Mbak Kinan makan di restauran deket butik, terus tiba-tiba aku liat Mbak Safira Mas." ujar Alesha membuat Rey melepaskan pelukannya dan menatap Alesha.
"Kamu jangan bercanda sayang, mana mungkin itu Safira."
"Tapi mukanya mirip banget Mas." lirih Alesha.
"Kamu jangan aneh-aneh Sha, kayanya kamu kecapean makannya kaya gini, Mas liat sendiri Safira dikuburkan, Mas ikut nganterin dia ke peristirahatan terakhirnya." ujar Rey dengan dingin.
"Tolong jangan membuka luka lama lagi Sha."
Alesha menggenggam erat tangan suaminya. "Iya aku tau, tapi dia mirip banget sama Mbak Safira, Mas. Dan itu semua bikin aku jadi takut, aku takut kamu ninggalin aku karena melihat wanita yang mirip sama Mbak Safira, aku takut." ujar Alesha dengan mata yang berkaca-kaca.
Tentu saja Rey tidak tega melihat Alesha seperti itu." Kamu nggak usah mikir macam-macam yang, sekarang dihidup aku cuma ada kamu, aku dan anak-anak." ucap Rey memeluk tubuh istrinya.
"Kita pulang ya sayang, kayanya kamu kecapean, kita juga harus bantu Reysha sama Azzam, mereka kan bakal pindah malam ini."