Until the End

Until the End
Kedatangan Alan dan Resa



Malam ini Alesha dikagetkan dengan kedatangan Alan dan Resa yang tiba-tiba. Mereka datang dengan membawa beberapa makanan dan mainan untuk Reysha.


"Kalian kalau mau dateng kasih tau aku dulu. Biar aku bikinin makan siang," Kata Alesha sambil meletakan dua gelas teh hangat di depan mereka lalu ikut duduk di samping Resa.


"Lo kaya sama siapa aja Sha," Resa mengambil gelasnya dan menyeruput teh buatan Alesha, "Pak Rey gimana keadaannya?" tanya Resa.


Resa memang tahu apa yang sedang dialami keluarga Alesha. Ia juga banyak memberi Alesha dan Rey dukungan supaya kuat untuk menjalani ini semua.


"Ya gitu, akhir-akhir ini dia ngeluh pandangannya suka tiba-tiba kabur." jawab Alesha,sebisa mungkin ia tersenyum di hadapan orang-orang terdekatnya.


"Sekarang dia bang Rey,dimana sha?" Tanya Alan.


"Baru banget tidur bang. Tadi habis minum obat," Jelas Alesha.


Alan dan Resa mengangguk paham, "Terus kandungan lo gimana? Sehatkan?" Resa mengelus perut Alesha yang sudah sangat besar. Maklum saja, kandungan Alesha sudah menginjak bulan ke 9. Tandanya sebentar lagi ia akan segera melahirkan.


Tidak terasa memang. Rasanya baru kemarin Alesha mendapat kabar bahwa dia sedang mengandung anak kedua. Tapi tiba-tiba saja ia sudah akan melahirkan.


Semenjak kandunganku menginjak bulan ke delapan, orang tua Alesha, Maura,Bimo, Mega dan Ira sering datang ke rumah untuk membantu Alesha mengurus Rey dan Reysha. Mereka semua tidak ingin melihat Alesha kelelahan dan jatuh sakit,bahkan Kinan dan Danu juga sering menyempatkan waktunya datang ke rumah.


"Sehat Sa."


"Bagus deh. Lo jangan sampai mikir yang berat-berat ya. Fokus dulu sama kandungan lo. Tenang aja, Pak Rey sama Reysha banyak yang jagain kok."


Alan mengangguk setuju, "Resa bener. Kalau kamu butuh bantuan juga jangan sungkan untuk minta sama Abang."


Alesha tersenyum, "Iya," Senang rasanya punya orang-orang yang menyayangi kita, "Btw kalian berdua keliatan akrab banget."


Alan senyum. Diliriknya Resa dengan malu, "Udah balikan malah," Balas Alan yang membuat Alesha kaget.


"Seriusan?!"


Resa berdecak, "Biasa aja kali. Kayak habis liat setan aja."


"Ya lo kan emang setan."


"Sialan."


Aku terkekeh, "Coba-coba cerita kenapa bisa balikan gini."


"Mungkin karena kita sering ngabisin waktu bareng di kantor ya jadi lama-lama deket, habis itu ngerasa cocok satu sama lain," Cerita Alan, "Tapi Resa ini susah banget diajak balikan Sha."


"Iya dong. Gue harus jual mahal," Balas Resa dengan sombongnya.


"Halah,mending kalo udah cocok langsung nikah aja, lagian gak baik kan pacar-pacaran. nanti sakit hati kaya yang udah udah."ucap Alesha diangguki Alan.


"iya niatnya Abang juga gitu."


"Alan, Resa," mereka bertiga serempak menoleh ke sumber suara. Alesha melihat suaminya keluar dari kamar dengan menggandeng tangan Reysha.


"bang, gimana keadaan lo?" Alan membantu Rey untuk duduk di sofa.


"Yang kaya kamu liat sekarang aja. saya kurusan, sering sakit kepala, pandangan juga mulai kabur. Makanya Reysha nuntun saya ke sini."


"Widih, keponakan Om pinter ya jaga Papa," Puji Alan.


"Iya pinter, nggak kaya Omnya," Celetuk Rey yang membuat kami tertawa, kecuali Alan.


Kedatangan Alan dan Resa mampu menghibur Alesha dan Rey. Memang benar kata orang, dukungan dari keluarga dan teman dekat itu sangat berarti. Apalagi untuk Rey yang sedang sakit seperti sekarang.


"Akhirnya Abang sama Resa lagi, tapi semoga aja mereka cepet-cepet nikah, aku aja udah mau punya anak dua. nanti Abang keburu tua kalo gak nikah-nikah." Rey terkekeh.


"Dosa kamu nistain Kakak sendiri," Rey meletakan kepalanya diatas paha Alesha. Dengan reflek tangan Alesha mengelus rambutnya seperti biasa yang aku lakukan.


"Rey junior bentar lagi lahir. Nggak sabar deh pengen liat mukanya mirip siapa."


Alesha tersenyum, "Makanya kamu cepet sembuh, supaya bisa di samping aku sama anak-anak terus."


"Iya sayang. Doain mas ya."


Aku mengangguk.


"Mas?"


"Ya?"


"Rambut kamu rontok lagi," ucap Alesha lirih sambil melihat helaian rambut Rey yang berada di telapak tangannya.


Rey meniup helaian itu, "Tapi kamu tetep cinta kan, kalaupun Mas botak?" Tanyanya sambil menunjukan cengiran lebar.


Alesha tau Rey hanya ingin menghiburku saja.


"Hm, ganteng kok. Mau kamu botak pun tetep ganteng," Alesha berusaha tersenyum, "Papa dari anak-anak aku akan selalu di hati aku dan yang paling aku cinta."


"Tidur yuk?" Ajak Alesha.


"Ayo ma!" Yang menyahut malah Reysha.


"Eh Reysha tidur di kamar sendiri. Papa mau tidur sama mama," Ujar Rey


"Mau sama Mama," Rengeknya.


"Iya sama Mama. Ayo kita ke kamar," Alesha dibantu Reysha menuntun Rey ke dalam kamar. Sebenarnya bisa saja Rey berjalan sendiri, tapi ia bilang pandangannya kembali kabur.


Reysha tidur diantara Alesha dan Rey.


"Tutup matanya. Udah malem," Alesha menepuk-nepuk bokong Reysha.


Reysha menggeleng, "Reysha mau minum susu dari Mama."


Alesha membelalakkan mata kaget. Reysha itu sudah berhenti ASI sejak umurnya satu tahun "Kok minta susu lagi? Kan Kakak udah besar."


"Tapi kakak pernah liat papa minum susu dari Mama, padahal Papa juga kan udah besar."


Alesha dan Rey reflek saling menatap. Bingung harus mengatakan apa pada putrinya. Tidak mungkin kan jika mereka bilang pada Reysha bahwa Mama dan papanya tengah bermain kuda-kudaan saat itu. Yang ada Reysha semakin penasaran dan tertarik.


"Ssstt, udah malam loh sayang, nanti kalau Kakak nggak tidur ada hantu yang bakal ganggu Reysha, emang kakak mau diganggu hantu?" Tanya Rey yang dibalas gelengan cepat oleh Reysha.


"Makanya tidur. Ayo sini papa peluk," Baru saja Rey akan memeluk Reysha, tapi dengan cepat Reysha menepisnya, "Kakak mau di peluk Mama aja," Balasnya lalu memeluk Alesha.


Lagi lagi Rey mendengus, "Nggak di dalam perut, nggak di luar, kamu tetep nyebelin tau nggak?" ucap Rey.


Alesha terkekeh, "Biasanya anak cewe kan deketnya sama Papa nya,tapi Reysha malah lebih deket sama aku."


"nggak apa-apa,nanti adeknya harus Deket sama Mas."


Bersambung.........