
Alesha menggeliat dalam tidurnya saat pelukan seseorang disampingnya mengerat, ia pun membuka mata. Dan pemandangan pertama yang dilihatnya yakni, wajah tampan sang suami yang memejamkan mata.
Senyum Alesha kembali mengembang cerah saat mengingat perlakuan dan ucapan lembut sang suami, mampu membuatnya semakin dicintai.
"Sudah puas melamunnya?" tanya Rey yang baru saja membuka matanya.
Alesha terkejut saat sepasang tangan besar Rey menangkup wajahnya.
"Morning kiss sayang."
Tanpa Alesha membalas ucapan Rey terlebih dahulu, benda kenyal telah menempel sempurna di bibir Alesha.
Rey terkekeh pelan, kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.
"Mas Rey ih! Main nyosor aja, aku kan belom siap," seru Alesha sembari menarik pelan kepala sang suami untuk menjauh dari lehernya.
Rey mendongak menatap Alesha, kemudian menarik sang istri untuk masuk kembali ke dalam pelukan hangatnya.
"Gak usah masak, dan Mas gak usah kerja, kita habiskan sehari di kamar terus, gimana sayang?"
Alesha mendelik, ia melepaskan tangan besar Rey yang memeluk pinggangnya.
"Gak mauk! Kasihan Haidar."
"Ada Bi Ijah, sayang."
Alesha menghela nafasnya, "Walaupun masih ada Bi ijah, tapi tetep Alesha yang menjadi Ibu dari anak-anak Mas, jad--"
"Iya-iya, yasudah sana keluar, Mas mau mandi," ujarnya seraya turun dari tempat tidur dan melenggang masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan kebingungan di diri Alesha.
******
Haidar memakan sarapan paginya dengan santai, berbeda dengan Rey yang terlihat ogah-ogahan membuat Alesha mengulum senyumnya. Selalu begini kalau pagi-pagi, ada saja drama yang dibuat sang suaminya agar tidak pergi bekerja, membuatnya pening tiba-tiba.
"Mama aku sudah selesai," katanya menimbulkan senyuman dari Alesha.
"Iya Nak, berangkatnya mau bareng Papa atau naik angkutan umum?" tanya Alesha seraya memasukkan bekal makanan sang putra ke dalam tasnya, tidak lupa botol minumannya juga.
Haidar terdiam sebentar, menatap wajah masam Rey, kemudian tersenyum tipis, seakan mengerti suasana hati sang Ayah.
"Haidar berangkat naik angkutan umum aja Ma," balasnya membuat Alesha menatap Haidar.
"Nggak bareng sama Papa aja?" tawar Alesha lagi.
Haidar menggeleng, ia turun dari kursinya, kemudian melangkah mendekati Alesha untuk mengambil tasnya.
"Haidar berangkat Ma," ujarnya seraya mengecup punggung tangan Alesha, kemudian mencium pipi sang Mama.
Langkah kaki Haidar berjalan menuju Rey yang memakan omlette dengan santainya.
"Haidar berangkat Pa," pamitnya membuat Rey melengkungkan senyumnya.
"Iya Nak, maaf Papa gak bisa nganterin kamu ke sekolah," katanya membuat Rey mengangguk.
"Nggak apa-apa Pa. Haidar kan sudah besar. Bisa berangkat naik angkutan umum saja."
Rey tersenyum, tangannya mengusap puncak kepala sang putra yang semakin besar.
"Mau Papa antar ke depan?" Haidar menggeleng dan mencium punggung tangan Rey.
"Haidar berangkat dulu, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumussalam." jawab kedua orang tuanya.
"Hati-hati Nak!" seru Alesha membuat Rey melirik sang istri, kemudian membuang muka dan kembali memakan omlette kembali.
Alesha terdiam, bingung dengan sikap sang suami yang ternyata marah padanya.
Sedangkan Rey mengulum senyumnya melihat wajah bingung sang istri saat melihatnya marah. Ini merupakan bagian dari rencana Rey lagi. Karena ada hadiah lainnya untuk sang istri.
*****
Helaan nafas Alesha keluarkan saat melihat Rey masih duduk tenang disana. "Mas Rey gak berangkat ker--"
Grep!
Alesha terkejut, saat tubuhnya terjatuh dipangkuan suaminya, "Mas ada sesuatu untukmu," ucapnya membuat Alesha terdiam menatap wajah tampan suaminya.
Tangannya menangkup wajah Rey, kemudian tersenyum. "Mas gak marah?"
Rey menaikkan alisnya, "Memangnya Mas bisa marah sama kamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Alesha, Rey malah balik bertanya membuat Alesha melepas tangkupan tangannya dari wajah Rey.
Tetapi, Rey menghentikan pergerakan sang istri yang akan menjauhkan tangan mungilnya.
"Kamu tutup mata dulu, ada hadiah buat kamu," katanya membuat Alesha menatap intens bola mata Rey.
"Nggak percaya sama Mas?" tanya Rey.
Alesha mengangguk, "Takut Mas nyosor lagi."
Tawa Rey mengudara, "Kan udah halal sayang."
Alesha memutar kedua bola matanya, "Ya udah iya, aku tutup mata, tapi Mas Rey jangan macem-macem!"
Rey mengangguk dengan senyum gelinya. "Iyaaa sayangnya Mas, cepet tutup mata."
Alesha pun menutup kedua matanya, membuat pandanganya gelap. Di sisi lain, Rey mengambil bingkisan paper bag di bawah kursinya, kemudian meletakkannya di pangkuan sang istri.
"Boleh buka mata Mas?" tanya Alesha membuat Rey tersenyum jahil.
"Belom sayang, bentar yah," balasnya kemudian memajukan wajahnya untuk menatap lekat wajah cantik Alesha, lalu mengecup kedua kelopak mata Alesha dengan lembut, membuat sang empu terkejut, dan itu dirasakan Rey, karena posisi mereka masih tetap sama.
Rey menjauhkan wajahnya dari sang istri, lalu berkata, "Sekarang buka mata kamu."
Alesha perlahan membuka matanya, dan pemandangan pertama yang ia lihat wajah berbinar Rey.
"Coba buka," titah Rey pada paper bag diatas pangkuan Alesha, membuat sang empu langsung menoleh pada paper bag itu.
Rey menatap gemas Alesha, kemudian mengecup pipinya. "Kok malah bengong? Buka dong, kamu gak kepo sama is--"
Alesha menubruk dada bidang Rey dengan gerakan cepat membuat Rey hampir terjungkal kalau ia tidak seimbang.
"Kenapa sayang?"
Alesha menggeleng, "Aku tau apa isinya, pasti mahal, kamu sering banget beliin aku barang-barang mahal." lirihnya menimbulkan kekehan di diri Rey.
"Jangan hanya menerka sayang, kamu kan belom lihat isinya apa, coba sekarang buka dulu."
Alesha melepas pelukannya, kemudian berkata. "Paper bag nya aja udah ada merknya, pasti harga barang di dalamnya mahal, udah aku tebak."
Rey tertawa pelan, merasa gemas dengan tingkah sang istri. "Kalau memang mahal kenapa? Kan kamu istri Mas, nggak apa-apa kalau uang Mas kamu habiskan se--"
"Aku nikah sama kamu bukan karena wajah tampan Mas, ataupun harta yang Mas punya, tetapi cinta dan kasih sayang tuluslah yang membuat aku nyaman dan bisa bertahan sampai sekarang."
"Kamu bisa gombal kek gitu siapa yang ajarin sih? Mas sampai baper loh."
Alesha tertawa pelan, tangannya mengusap rahang tegas Rey lalu berkata, "Ini bukan gombal Mas, pure and real dari hati Alesha."
Rey tersenyum manis, lalu membawa Alesha ke dalam pelukannya. "Ututu, so sweet banget sih sayangnya Mas."
Alesha terkekeh dalam pelukan Rey, kemudian melepas pelukannya. "Asha buka ya?"
Rey mengangguk, membuat Alesha dengan cekatan membuka paper bag tersebut, lalu menemukan kotak persegi di dalamnya.
"Coba tebak."
Alesha terdiam, menatap lekat kotak persegi tersebut. "Kalung berlian?"
Rey menggeleng.
"Cincin emas?"
Rey lagi-lagi menggeleng.
"Gelang tangan liontin?"
Rey kembali menggeleng, menghadirkan kekesalan dalam diri Alesha.
"Ah kelamaan Mas, aku buka aja deh!"
Tawa Rey mengudara, lalu mengangguk mempersilahkan Alesha membuka kotak persegi tersebut.
Tampilan pertama yang Alesha lihat saat netranya menatap isi di dalam kotak tersebut adalah, mewah.
Dengan gerakan slow motionnya, Alesha mendongak menatap Rey. "M-mas ini?"
Rey mengangguk. "Iya buat kamu, coba pakai."
Alesha tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia pun berkaca menatap bola mata Rey, langsung saja ia menghambur ke pelukan sang suami.
"Kenapa Mas beli jam lagi? aku kan udah punya koleksi jam tangan banyak, bahkan semua itu Mas yang beliin, tapi kenapa beli jam tangan lagi?"
Rey melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Alesha. "Kamu enggak suka?"
Alesha menggeleng, "Bukan begitu Mas, aku tetap suka apapun yang Mas berikan, tetapi aku kan punya ban--"
Cup
Alesha mendelik saat Rey mengecup bibirnya, membuatnya terdiam seketika.
"Bawel banget sih kamu. Kamu kan gak tau alasan Mas beliin jam tangan itu khusus buat kamu sayang," ujarnya membuat Alesha terdiam.
Rey mendekatkan wajahnya pada sang istri, mempertemukan hidung mereka, kemudian Rey berkata.
"Karena jam tangan itu, sudah Mas pasang alat pelacak, dan penyedap suara."
Alesha menggesekkan hidungnya pada hidung Rey. "Mas serius ihhh!"
Rey tertawa pelan, ia memiringkan wajahnya kemudian menatap lekat bibir ranum Alesha.
"Apasih yang enggak serius kalau tentang kamu?"
Alesha tersipu malu, tubuhnya langsung menegang saat jempol Rey mengusap lembut permukaan bibirnya, bahkan Alesha menyadari sorot gelap pada mata sang suami, lantas kedua mata Alesha pun memejam otomatis.
******
"Sudah pulang Nak?" tanya Rey sembari mengusap pucuk kepala Haidar yang mengecup punggung tangannya.
Haidar tersenyum tipis, "Udah Pa, Haidar ke kamar dulu."
"Nggak mau makan siang? Mama udah masak buat makan siang."
Haidar menggeleng pelan, "Nanti, Haidar mau ngerjain tugas rumah dulu."
Rey tersenyum tipis, "Oke, tapi jangan sampai lupa makan."
Haidar mengangguk, lantas berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Rey masih menatap punggung sang putra, lalu melangkah kembali menuju keranjang kotor.
Setelah meletakkan baju di keranjang tersebut, Rey menuju ke depan rumah, tujuannya hanya ingin memanaskan mobilnya, akan tetapi ia ternyata melihat tukang sayur yang membuatnya cemburu buta. Langkah kakinya menuju tukang sayur tersebut.
"Ekhem!"
Penjual sayur yang dagangannya sudah hampir habis, menoleh menatap Rey. "Eh suami bapak suaminya Mbak Alesha ya."
Rey menaikkan alisnya menatap penjual sayur itu, menatapnya intens, membuat pria tersebut mengerutkan keningnya.
"Ada yang salah ya Pak?"
Netra Rey melotot saat dipanggil Pak, seharusnya kan jika dia memanggil Alesha dengan sebutan Mbak maka Rey juga harus disebut Mas "Pak?!"
Penjual sayur pun terkekeh, "Iya, Pak Rey kan?"
Rey berdehem pelan, menghembuskan nafasnya berusaha mengontrol kekesalannya pada tukang sayur tersebut.
"Tapi saya bukan Bapak kamu, jangan panggil saya Pak."
Pri itu menipiskan bibirnya, merasa kaget karena ternyata suami Alesha orangnya sensian.
"Jangan dekat-dekat dengan istri saya," ujarnya membuat tukang sayur melotot.
"Neng Alesha maksud Pak Rey?"
Tukang sayur itu pun langsung menutup mulutnya saat keceplosan memanggil Rey dengan 'Pak' lagi.
"Eh maksud saya, Mas Rey."
Rey terdiam, merasa kesal sekaligus terkekeh dalam hati melihat raut lucu pria tersebut.
"Iya, siapa lagi istri saya kalau bukan Aleshayang," balas Rey merasa kesal lagi.
Tukang sayu pun manggut-manggut. "Tapi Mas, Neng Alesha kan emang harus dekat sama saya."
Rey membulatkan matanya, "Kenapa begitu?!"
Pria itu mengulum senyumnya, "Kan emang belanjanya sama saya Mas."
"Ya udah, besok saya belikan bahan makanan biar jangan deket-deket lagi," balasnya santai, membuat tukang sayuran hampir menjatuhkan gerobaknya.
"Serius Mas?"
Rey mengangguk, "Serius, biar gak usah deket sama bapak lagi."
Seketika tukang sayur itu pun langsung pingsan di tempat.