Until the End

Until the End
Tak habis pikir



Alesha ikut ke kantor Rey karena memang hari ini butiknya sedang tidak terlalu ramai.


Di tengah-tengah perjalanannya menuju ruangan Rey, dia bertemu dengan Kakak iparnya, Danu.


"Kalian habis dari mana?" tanya Danu yang melihat Rey dan Alesha seperti habis dari luar.


"Kita dari sekolah Reysha, Mas." jawab Alesha.


"Kenapa sama dia?" tanya Danu.


"Ada yang membully Reysha, dia anak dari rekan kita, dan maaf Mas Danu, aku terpaksa memutuskan kontrak kerja sama mereka karena emosi." ujar Rey yang merasa bersalah.


"Gimana kalau kita bicara di ruangan kamu, Mas harus dengerin dulu cerita kamu setelah itu baru menilai keputusan kamu benar apa nggak." kata Danu.


Kemudian mereka bertiga pun memasuki ruangan Rey, disana Rey dan Danu duduk di sofa, sedangkan Alesha langsung memasuki kamar pribadi yang ada disana karena tidak ingin ikut campur akan menyangkut pekerjaan suaminya.


"Jadi apa yang terjadi?" tanya Danu dengan penasaran saat mendengar tiba-tiba Rey memutuskan kerja samanya dengan seseorang.


"Tadi Reysha menampar Intan putri dari Sonia dan Dimas, awalnya aku kira memang Reysha yang mencari masalah, tetapi ternyata Intan yang sering membully anak-anak disana. Bahkan Intan pernah mengurung Reysha di toilet hingga pingsan, untung saja ada Azzam yang menolong Reysha." jelas Rey mengusap kasar wajahnya.


"Maka dari itu aku memutuskan kerja sama ini, bukan cuma karena masalah itu Mas, tapi Sonia juga meragukan cara aku dan Alesha dalam mendidik Reysha, dia bilang kalau Reysha kurang didikan, dan hal itu mampu membuat Alesha sedih." tuturnya lagi.


Danu mengangguk mengerti, bukan salah Reysha juga jika keponakannya itu berani menampar Intan, mungkin gadis itu sudah berada di titik kehabisan kesabarannya.


"Mas mengerti, Mas juga setuju kalau kita memutuskan kerja sama ini, mungkin saja sikap Intan itu cerminan dari orang tuanya, sudah terlihat juga dari cara bicara Sonia saat mengatakan jika Alesha kurang didikan."


"Kalau gitu Mas balik ke ruang kerja dulu, Mas yang akan mengurus pembatalan kerja sama ini." ujar Danu.


Setelah kepergian Danu, Rey mengunci pintu ruangannya. Dan ia menyusul Alesha yang sedang duduk manis sambil mengotak-atik tab nya.


"Katanya nggak ada kerjaan, tapi ini malah sibuk sendiri." sindir Rey, Alesha langsung menyimpan tabnya dan langsung mendekati suaminya yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Kan tadi aku sendirian di sini, makannya aku ngerjain kerjaan aku." jelas Alesha.


Rey menarik pinggang Alesha agar lebih mendekat dengannya, ia menghirup aroma tubuh Alesha yang mampu meredakan emosinya.


"Masih sedih?" tanya Rey.


"Aku nggak sedih Mas, aku cuma nggak habis pikir kalau ada orang yang meragukan didikan aku, padahal selama ini aku berusaha buat jadi ibu serta istri yang baik bagi keluargaku." ujar Alesha mengalungkan lengannya di leher Rey kemudian menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Kita nggak bisa mengontrol ucapan seseorang, yang pasti kita udah berusaha memberikan yang terbaik buat anak-anak kita, yakin aja kalau Azzam bisa melindungi Reysha." sahut Rey.


"Tapi sikap Reysha kaya aku dulu ya, yang nggak mau di tindas, bahkan aku sering ngelawan kalau nggak suka, aku jadi keinget masa-masa sekolah, apalagi pas ketemu sama kamu di depan gerbang itu." ujar Alesha.


"Emang pernah?" tanya Rey.


"Pernah sayang, pas itu aku lagi nunggu bang Alan jemput, terus tiba-tiba kamu muncul sama motor kamu itu di depan aku, kamu nyapa, terus cuaca lagi mendung, kamu bilang maaf ya saya pulang duluan, saya nggak bisa mengantarkan kamu pulang karena kita bukan mahram."


"Aku ingat, terus kamu malah pulang sama Friza, ingat itu bikin aku kesel tau nggak, apalagi kamu senyum-senyum sama dia." ujar Rey melepas paksa pelukan Alesha.


"Oh jadi gini, nggak mau dipeluk aku? Awas ya kalau nanti malam minta peluk aku gak mau." ujar Alesha bersedekap dada sambil memalingkan wajahnya.


"Aku cemburu sayang, padahal waktu itu aku nggak punya rasa sama kamu."


****


Malamnya saat Reysha sedang asik memainkan ponsel tiba-tiba Azzam datang sambil mengomeli nya.


"Seharusnya lo gak ngerepotin Papa sama Mama buat datang ke sekolah Sa." ucap Azzam duduk di sofa sedangkan Reysha masih duduk di atas ranjang.


"Gue nggak nyuruh Mama sama Papa buat datang, tapi nyokapnya Intan yang pengen ketemu Papa m" balas Reysha tanpa mengalihkan pandangannya.


"Tapi lo nggak seharusnya ngadu itu semua Sa, itu bakal jadi beban pikiran Mama sama Papa." Kata Azzam lagi.


"Kok lo malah belain Intan sih? Ini Semua kan karena lo, kalau lo gak duduk bareng gue sama temen-temen gue semuanya gak bakal gini. Si nenek lampir itu yang ngajak ribut gue duluan." ujar Reysha berapi-api.


"Lo suka ya sama Intan?" selidik Reysha. Azzam hanya diam tidak menjawab ia malas bertengkar.


"Tuh kan lo nggak jawab. Jadi bener lo suka sama Intan? Halah lo sama Marvel sama aja, gue benci sama lo, padahal cewek lo sendiri yang salah." Kata Reysha marah lalu berdiri diatas kasur dan merebahkan dirinya ditengah-tengah lalu merentangkan kedua tangan serta kakinya.


"Lo gak boleh tidur disini, malam ini lo tidur di sofa" ucap Reysha yang sudah seperti istri yang sedang cemburu karena suaminya selingkuh.


Azzam tersenyum kecil. "Gak masalah" balasnya cuek sambil merebahkan dirinya di atas sofa.


"Bodo amat" Kata Reysha.


Azzam memaklumi sikap Reysha, ia mengerti maksud gadis itu. Azzam jadi merasa gagal saja karena tidak bisa menjaga Reysha dengan baik seperti amanah mertuanya. Ia menjadi tidak enak pada mertuanya karena merepotkan mereka berdua.


Lima belas menit berlalu, Reysha melirik Azzam yang sudah tertidur di sofa. Ia menjadi tidak tega melihatnya, sebenarnya ini bukan kesalahan Azzam yang seperti Reysha katakan tadi. Ini semua salah Intan yang cemburuan hanya karena Reysha duduk disebelah Azzam.


Reysha mengubah posisinya menjadi duduk lalu menghela nafas. "Zam, Azzam...." Panggil Reysha.


"Zam bangun...." Panggilnya lagi.


Ia turun dari kasur untuk membangunkan Azzam. Reysha mengguncang tubuh cowok itu. "Bangun Zam, pindah ke kasur." ucap Reysha jutek.


"isssh kebo banget" keluh Reysha, mungkin cowok itu kelelahan karena latihan futsal.


Reysha memandang wajah Azzam dari dekat lalu tersenyum. Azzam pria yang baik, ia tidak boleh mengecewakan Azzam dengan tingkatnya lagi. Setelah lama memandangi wajah Azzam, akhirnya Reysha kembali ke atas ranjang untuk menidurkan badannya.


Biarlah malam ini Azzam tidur di sofa, lagian siapa suruh Azzam susah untuk dibangunkan.