Until the End

Until the End
poligami



Rey memasuki rumahnya, ia melihat Safira yang sedang berada di dapur, tapi matanya Seketika membelalakkan melihat air yang sudah mendidih namun Safira tidak menyadarinya.


"Safira" teriak Rey yang langsung mematikan kompornya.


"Kamu apa-apaan sih fir, tangan kamu bisa melepuh kalo aku gak dateng, lagian kamu ngelamunin apa sih sampe gak fokus kaya gitu"


Safira menggeleng pelan lalu menarik tangan Rey agar duduk di meja makan, Safira akan mengatakan hal ini walau hatinya sakit.


"Mas"


"Kenapa?" tanya Rey yang menyadari wajah gelisah Safira.


"Aku setuju apa yang diucapkan ibu tadi pagi" ujar Safira


Rey mengepalkan tangannya menahan emosi yang akan meledak saat ini juga, ia menghela nafas kasar sebelum meladeni ucapan ngelantur istrinya.


"Fira aku udah bilang kalau aku gak mau dan gak akan pernah poligami"


"Tapi mas aku tau kamu juga pasti menginginkan seorang anak, dan kamu tau sendiri kalo aku gak akan pernah bisa ngasih itu karena aku mandul" lirih Safira


"Sekali nggak ya tetep nggak fir, kamu boleh aja ngomong setuju buat nyuruh aku nikah lagi, tapi gimana dengan hati kamu? Itu bakal nyakitin kamu"


Safira bungkam, sejujurnya ia hanya ingin menjadi satu-satunya, tapi dia tidak ingin egois, disini banyak orang yang tersakiti karena dirinya, dia menyakiti mertuanya karena tidak bisa memiliki keturunan, bahkan dia juga tau kalau suaminya pun tersakiti akan kondisinya.


"Kamu gak perlu tanyain hati aku mas, aku lebih sakit melihat ibu yang menginginkan seorang cucu dan melihat tatapan kamu ketika melihat anak kecil, aku tau kamu menginginkannya mas"


"Aku udah bilang fir,aku gak bakal sanggup mempunyai dua istri"


"Kalo gitu lepasin aku, kamu bisa menikah lagi tanpa memiliki dua istri"


Rey mencengkram bahu Safira dengan kuat, ia tidak suka ketika Safira mengatakan hal menjijikan seperti itu, apa menurut Safira pernikahan hanyalah soal keturunan saja.


"Fir, pernikahan itu bukan main-main, pernikahan juga bukan tentang keturunan aja, saya gak suka kamu mengatakan hal seperti itu, jika kamu memang ingin saya menikah lagi,baik saya akan melakukan apa yang kamu mau, tapi jangan salahin saya kalau suatu saat saya mulai membagi rasa sayangku untuk dia yang nanti akan menjadi istri saya"


Rey pergi meninggalkan rumahnya untuk meredam emosi, sedangkan Safira terduduk lemas, hatinya tercubit saat Rey mengganti kosa katanya menjadi saya, dan ia jauh lebih sakit saat Rey mengatakan akan membagi kasih sayangnya untuk istrinya kelak.


Tapi bukankah ini kemauan Safira yang ingin Rey menikah lagi dan bahagia bersama pasangannya kelak yang akan menjadi ibu dari anak-anak Rey.


Disisi lain Rey kini memarkirkan motornya didepan rumah ibunya, jika Safira ingin dia menikah lagi maka dia akan menurutinya, Rey muak kala Safira terus membahas perihal anak ketika mereka sedang berdua, kalau pun Safira tidak bisa memiliki anak mereka bisa mengadopsi seorang anak, bukan kah darah daging ataupun tidak yang namanya anak sama saja.


"Assalamualaikum" salam Rey memasuki rumah ibunya.


"Wa'alaikumussalam" jawab Ira, ibunya Rey.


"Tumben kamu kesini?" tanya Ira.


"Nggak papa bu cuma pengen nenangin diri aja" jawab Rey merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.


Danu yang melihat adik iparnya manja dengan ibunya menggelengkan kepala, tingkah Rey yang masih manja walaupun sudah memiliki istri membuatnya tersenyum akan keharmonisan keluarga ini.


"Masih manja aja ya Rey" ujar Danu duduk dihadapan Rey dengan menyesap segelas teh yang ada ditangannya.


"Gak papa Mas, ibunya juga mau hehe"


Kinan ikut bergabung bersama mereka dengan membawa kedua anaknya yang bernama Fajar dan Meisa.


Rey yang sangat menyukai anak-anak langsung saja merebut Meisa bayi mungil berusia 11 bulan dari pangkuan ibunya.


Kinan menatap sendu adik satu-satunya, Rey pasti menginginkan seorang anak dalam kehidupannya, tapi mau bagaimanapun ini semua takdir ia juga tidak mungkin menyuruh Rey menikah lagi, Danu yang melihat perubahan raut wajah istrinya menggenggam tangan Kinan guna menenangkan hatinya.


"Bu, aku mau menikah lagi" ujar Rey yang membuat Ira,Kinan dan Danu menatap tidak percaya pria yang berada dihadapannya.


"K-kamu beneran nak?" tanya Ira


"Iya bu"


"Mending kamu pikiran lagi baik-baik Rey pernikahan itu bukan hal yang mudah apalagi memiliki dua tanggungjawab yang berat" ujar Kinan


"Kamu gak usah ikut campur nan, ini emang keputusan yang baik buat Rey" jawab Ira, ia tidak mau sampai putranya berubah pikiran.


"Aku udah pikiran ini dengan baik mba, dan aku yakin dengan keputusan aku, lagian Safira juga yang menyuruh aku nikah lagi"


"Jadi kamu mau memilih calon istri sendiri atau mau ibu yang cariin"


"Rey yakin pilihan ibu yang terbaik" jawab Rey


*****


Malam harinya Rey tengah sampai dirumahnya, ia memasuki rumah guna bersiap-siap untuk meminang seorang wanita, jika memang ini yang dimau Safira maka jangan salahkan Rey jika suatu saat nama Safira akan tergeser oleh nama lain karena ini bukan keinginan Rey.


"Mas baru pulang?" tanya Safira mencium punggung tangan suaminya.


"Iya"


"Mas mau makan apa? Biar Fira masakin"


"Gak usah, Mas mau makan malam sama keluarga calon istri Mas" ujar Rey menekankan kata calon istri.


Deg


Jantung Safira terasa berdetak begitu cepat, kenapa Safira merasakan sakit yang berkali-kali lipat dari apa yang ia bayangkan.


"M-mas mau menikah lagi?" tanya Safira


"Bukankah ini kemauan kamu?" ujar Rey menatap datar Safira, lagi-lagi Safira merasakan sakit ketika Rey yang biasanya menatap lembut Safira kini tatapan itu berubah menjadi datar.


"Iya Mas Fira bersyukur kalo mas mau menuruti kemauan Fira, kalo gitu Mas mandi aja dulu biar Fira siapin baju buat Mas"


Rey membuang mukanya saat manik mata Safira menatapnya, sejujurnya Rey tidak tega melihat kesedihan dibalik wajah bahagia Safira, ia begitu mencintai Safira bahkan sangat-sangat mencintai istrinya, tapi kenapa istrinya begitu egois.


Safira melangkahkan kaki memasuki kamar menyiapkan air untuk Rey mandi, tapi bukan cuma itu di dalam kamar mandi Safira menumpahkan segala kesedihannya.


"Abi,umi Safira kangen, Safira gak kuat menghadapi cobaan ini, disatu sisi Safira ingin mas Rey bahagia memiliki keturunan dan juga Safira ingin memiliki seorang anak, tapi Safira juga gak sanggup menghadapi ini kedepannya"


"Safira harap calon istri mas Rey akan baik kepada Fira dan mau berbagi anaknya suatu saat kelak agar Safira bisa merasakan rasanya jadi seorang ibu" tangis Safira, ketika air sudah penuh Safira mengusap air matanya kemudian keluar dari kamar mandi.


"Airnya udah siap mas" ujar Safira.


"Kata ibu kamu juga harus ikut, karena saya gak mau pernikahan saya nanti diawali dengan kebohongan, saya akan mengenalkan diri sebagai Rey yang sudah memiliki istri" ujar Rey kemudian memasuki kamar mandi.


Sungguh Safira rasanya tidak ingin ikut, ia tidak sanggup kalau harus menyaksikan suaminya melamar seorang wanita.