
"Assalamualaikum istrinya Mas." salam Rey memeluk istrinya yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang.
Alesha tersenyum tipis dan menjawab salam suaminya, ditatapnya sang suami yang baru saja keluar dari kamar mandi dan memeluknya, tak lupa juga ia menyapa buah hatinya. Tatapan mata mereka bertemu menyiratkan rasa sayang yang terpendam, Alesha langsung memalingkan wajahnya, ia tidak ingin terbawa perasaan yang semakin jauh hingga membuatnya lupa akan tujuannya setelah ini.
Pria yang berada di hadapannya itu memegang erat tangan Alesha dan menciumnya berkali-kali.
Dulu Rey berpikir jika kehadiran seorang anak akan mampu membuatnya bahagia, namun Rey salah karena tak pernah terbayangkan jika itu malah membuat rumit keadaan. Sakit sekali ketika membayangkan suatu saat dirinya akan berpisah dengan Alesha.
Takdir memang kadang selucu itu, dia yang menghadirkan Alesha namun dia juga yang akan merenggutnya.
Rey merebahkan kepalanya di pangkuan Alesha sambil menghadap perut buncit istrinya. Tangan Alesha refleks mengusap kepala Rey dengan lembut.
"Gimana, udah dapet pendonor buat Mba Safira?" tanya Alesha dengan lembut, setidaknya sekarang ia masih menjadi istri Rey yang juga harus memperhatikan kesehatan suaminya.
Rey menggeleng." Akan susah mencari pendonor Sha, Mas udah berusaha tapi hasilnya tetap tidak ada." lirih Rey.
"Kita harus banyak-banyak sabar, kita juga harus banyak berdoa buat kesembuhan Mba Safira."
Rey hanya mengangguk dan kembali membenamkan wajahnya ke perut Alesha.
"Kamu mau makan apa? Nanti aku buatin, tapi jangan aneh-aneh ya."
"Aneh-aneh gimana sih.?"
"Ya maksudnya jangan minta di masakin yang aneh-aneh, aku kan gak bisa masak." ujar Alesha.
"Terserah kamu aja, aku bakal makan masakan kamu." jawab Rey.
"Ya udah Mas minggir dulu." ucap Alesha berusaha menyingkirkan kepala Rey dari pahanya.
"Bentar, lima menit lagi Sha." Alesha hanya mengangguk pasrah membiarkan Rey menikmati usapan di kepalanya.
Rey mendengus pelan, dengan terpaksa ia bangkit dan mengecup singkat kening Alesha."Mas bantuin masak ya."
"Boleh, kamu yang masak juga gak papa." gurau Alesha, Rey mencubit gemas hidung istrinya.
"Enak di kamu aja."
Setelah perdebatan kecil antara suami dan istri kini mereka berdua sedang memasak bersama Rey yang sibuk dengan pisau dapurnya dan Alesha yang sibuk dengan peralatan masaknya.
Dua puluh menit berlalu akhirnya sop ayam buatan Rey dan Alesha siap di santap.
Safira yang baru keluar dari kamarnya langsung menghampiri Rey dan Alesha.
"Assalamualaikum Humaira." ucap Rey mencium kening Safira.
"Wa'alaikumussalam Mas." jawab Safira.
"Aku pernah mengatakan jika aku tidak meminta kemewahan dan kekayaan harta,tetapi jadikan aku istri yang sholehah untuk mendapatkan ridho dari maha pencipta, tapi bagaimana bisa dia membimbingku sedangkan dia selalu membuatku cemburu terhadap istri lainnya." ucap Alesha dalam hati melihat kemesraan Rey dan Safira.
"Betapa sakitnya hati Mba Safira saat harus berbagi suami."
"Wah aromanya enak nih, Mba boleh cobain masakan kamu." tanya Safira.
"Boleh banget Mba." Alesha segera mengambilkan nasi dan semangkuk sop untuk Safira dan Rey.
Rey tersenyum melihat keakraban kedua istrinya, tetapi di dalam lubuk hati Rey yang terdalam ia merasakan takut, takut jika kehilangan dua-duanya.
Kenapa cobaan harus datang bersamaan, di saat Alesha memiliki niat untuk pergi, Safira justru mengidap penyakit yang entah itu bisa sembuh atau tidak.
Bagaimana jika Safira tidak dapat pendonornya, apakah Rey sanggup kehilangan kedua istrinya. Apakah Rey egois jika harus terus memaksa agar Alesha selalu berada di sampingnya