
Alesha dan Rey sudah pulang ke rumah. Keadaan Reysha juga sudah sehat. Hanya saja ia masih jarang bicara.
Rey Dia masih mendiami Alesha, bicara saja hanya seperlunya. Entah sampai kapan dia akan bersikap sedemikian.
"Kamu besok kerja Mas?" Tanya Alesha sembari meletakan makan malam di depan suaminya.
"Hm," Jawabnya singkat.
"Nasinya mau nambah?" Tanya Alesha lagi saat Rey sudah menghabiskan nasinya. Rey hanya menggeleng lalu meninggalkan Alesha ke kamar.
Diam-diam Alesha menangis. Ia hanya tidak suka jika Rey mendiaminya lama-lama. Alesha tahu dirinya salah karena sudah meninggalkan Reysha dan teledor.
Tapi apa dia harus bersikap seperti ini terus padanya?
"Mama? Mama nangis?" Alesha melihat Reysha berdiri di depannya sambil membawa mainan.
Alesha mengusap air matanya lalu menggeleng, "Mama nggak apa-apa. kakak kok belum bobo?"
"kakak mau bobo sama Mama."
Alesha berusaha tersenyum, "Ayo bobo sama Mama dikamar?" Alesha menggendong Reysha dan membawanya ke kamar.
"Sini Mama peluk," Alesha menidurkan Reysha sembari mengelus-elus punggungnya.
"Mama besok nggak boleh keluar rumah. mama di dalem aja sama Reysha," Ujar Reysha yang membuatku bingung.
"Emangnya kenapa sayang?"
Reysha diam, tidak lama kemudian ia menggeleng, "Pokoknya nggak boleh."
"Ya udah. Sekarang kakak bobo aja," ujar Alesha yang dibalas anggukan Reysha. Sikap Reysha menurutnya benar-benar aneh. Ia sudah beberapa kali melarang Alesha untuk melakukan sesuatu.
Saat sedang menidurkan Reysha, ponsel Alesha yang ia letakan di atas meja kecil milik Reysha bergetar. Perlahan ia turun dari kasur dan mengambil ponselnya "Juan?" Gumam Alesha saat melihat pesan yang masuk.
+62857xxxxxx
|Alesha, aku Juan
|Tolong save nomor aku ya
^^^Maaf, tolong jangan hubungin aku lagi|^^^
^^^Aku juga nggak mau liat kamu main kerumah^^^
^^^Aku takut Mas Rey salah paham lagi sama kamu^^^
Alesha langsung menghapus bekas chatannya dan Juan. Ia hanya takut Rey melihatnya dan kembali salah paham.
******
"Sini Mas biar aku pakein," Alesha segera menghampiri Rey saat melihat suaminya itu tengah memakai dasi.
Rey menepis lengan Alesha, tidak kasar, tapi mampu membuatnya mematung, "Aku bisa sendiri," Balas Rey dengan dingin.
Alesha menghela nafasnya, "Mas, kamu kenapa sih sama aku? Kamu masih marah karena Reysha yang hampir tenggelam hah?" Rey tidak menjawab pertanyaan Alesha.
"Jawab aku Mas!" Bentak Alesha, "Aku udah berkali-kali minta maaf sama kamu. Aku juga udah ngaku salah. Tapi kenapa kamu terus-terusan kayak gini sih?"
"Putri aku hampir mati gara-gara kamu. Mana mungkin aku nggak marah?"
"Iya aku tau Reysha hampir mati. Tapi Mas, itu bukan sepenuhnya salah aku. Aku yakin Reysha itu udah aku pakein pelampung supaya dia aman."
"Mana buktinya? Jelas-jelas aku liat dengan mata kepala aku sendiri Reysha nggak pakai apa-apa kok," Yakin Rey, "Udah ya. Aku sibuk. Mending kamu jagain anak-anak, jangan sampai mereka celaka lagi karena kamu."
Alesha meneteskan air matanya. Ia tidak suka dengan sikap Rey yang menyudutkannya seperti ini. Akhirnya ia meninggalkan Rey dan pergi ke kamar anak-anaknya.
Rey menghela nafasnya kasar. Ia tahu jika dirinya sudah keterlaluan pada Alesha akhir-akhir ini. Tapi ia juga tidak bisa menahan amarahnya pada wanita itu.
Drtt..Drtt
Fokus Rey teralihkan ketika mendengar getaran yang berasal dari ponsel Alesha yang tergeletak di kasur. Rey mengambil ponsel itu dan melihatnya. Seketika genggaman Rey pada ponsel itu mengerat kala melihat isi pesan yang baru saja masuk.
+62857xxxxxx
|Aku cinta kamu Sha
|Aku tau kita saling cinta
Rey membanting ponsel Alesha. Lalu ia bergegas ke kamar anak-anaknya.
"Loh Mas, aku kira kam---," Ucapan Alesha terhenti saat Rey mengambil Haidar dari gendongannya.
"kakak, kamu sekarang ikut Papa sama adek ya?" Rey menarik lengan Reysha pelan dan membawanya menjauh dari Alesha.
Rey tidak menanggapi Alesha, ia sibuk mencari kunci mobilnya. Saat sudah ketemu, Rey melangkahkan kakinya untuk keluar rumah. Tapi langkahnya harus terhenti karena Alesha berdiri tepat di depan pintu, "Jawab aku Mas, kamu mau bawa Reysha sama Haidar kemana?"
"Minggir," Ucap Rey dengan dinginnya.
Alesha menggeleng, "Aku nggak akan minggir sebelum kamu kasih tau aku."
Rey berdecak, "Minggir Alesha."
"Mas! Kamu kenapasih?! Kenapa tiba-tiba berubah kayak gini?!"
"Aku? Berubah? Kamu yang berubah! Kamu bahkan bohongin aku..."
Alesha mengerutkan keningnya, "Bohongin apa? Aku nggak bohong sama kamu Mas."
"Aku tau. Aku tau kamu punya perasaan sama tetangga kita itukan?"
"Tetangga?" Alesha berpikir keras. Siapa tetangga yang Rey maksud, "Juan?"
"Kalau kamu udah tau jawabannya, sekarang kamu minggir. Aku bisa ngurus anak-anak sendiri. Supaya kamu sama Juan itu bisa pacaran sepuasnya."
"Mas!" Pekik Alesha sambil terisak, "Kamu salah paham. Aku bener-bener nggak punya perasaan apa-apa sama Juan."
"Halah, aku nggak percaya. Tadi aku liat sendiri Juan ngirim pesan itu sama kamu. Jadi sekarang kamu minggir!"
Alesha menggeleng, ia melebarkan lengannya untuk menahan langkah Rey, "Aku nggak mau kamu sama anak-anak pergi Mas..."
Rey tidak mendengarkan Alesha, pria itu malah mendorong tubuh Alesha agar istrinya minggir, "Mas! Jangan bawa anak-anak Mas!" Alesha menangis saat Rey membawa Reysha dan Haidar ke dalam mobil, lalu meninggalkan Alesha begitu saja.
"Mas jangan bawa mereka..." Kaki Alesha melemas, ia jatuh terduduk tepat di depan rumahnya dan menangis.
******
"Papa, kenapa Papa ninggalin Mama?" Tanya Reysha. Mata anak itu sudah berair. Ia tidak mau jika Alesha ditinggal sendirian di rumah.
"Nggak apa-apa. kakak diem aja ya? Ikut Papa ke rumah lama kita."
Reysha menggeleng, "kakak mau pergi sama Mama..."
"Reysha diem! Kepala Papa pusing," Bentak Rey. Bukannya diam, Reysha malah menangis kencang, "Mama..." Lirihnya.
Rey memukul stir mobilnya, "Kalau kamu nggak diem, Papa bakal turunin kamu di jalan," Ancam Rey. Seketika tangisan Reysha berhenti, hanya isakannya yang terdengar.
"Papa jahat! Kalau kita pergi Mama bisa disakitin Om Juan"
"M-maksud kakak apa?"
"Om Juan yang udah dorong kakak, Om Juan mau Mama sama Papa pisah biar Om Juan bisa bawa Mama pergi jauh dari kita." pekik Reysha menitikkan air matanya.
******
Alesha terus menangisi kepergian anak-anaknya. Ia benar-benar tidak menyangka jika Rey akan mengira kalau dirinya dan Juan saling cinta. Padahal Alesha sudah berulang kali menegaskan pada Rey jika ia tidak jatuh cinta pada lelaki itu.
"Alesha?" Aku mendongak saat seseorang memanggil namanya. Itu Juan. Kenapa orang ini selalu ada di dekatknya?!
Alesha berdiri dan menatap Juan dengan emosi, "Kamu ngirim pesan apa sih? Kenapa Mas Rey bisa sampai salah paham sama aku kayak gini?!"
Juan tersenyum, "Aku cuma ngetik apa yang jadi kenyataan kok."
"Apanya yang kenyataan hah?"
"Kenyataan kalau kita saling cinta," Jawab Juan.
Alesha tertawa remeh, "Kamu gila, kamu bener-bener gila Juan! Kita itu baru ketemu beberapa hari yang lalu. Dan kamu? kamu bilang kita saling cinta )? Omong kosong apaan itu?"
"Bukan omong kosong. Tapi aku emang jatuh cinta sama kamu Sha. Aku jatuh cinta sejak pertama kali kita ketemu."
"Juan! aku udah punya suami. aku cuma cinta sama Mas Rey, bukan kamu!"
Juan tiba-tiba mendekat kearah Alesha. Alesha bisa melihat sorot matanya yang menyimpan amarah, "Kamu nggak boleh cinta sama orang lain, kecuali aku," Juan tiba-tiba saja menggendong Alesha dan membawanya pergi.
"Juan! Turunin aku!" Alesha memukuli tubuh Juan. Tapi pria itu malah membawaku masuk kedalam rumahnya.
Saat sudah di kamar, Juan menurunkan tubuh Alesha. Ia memojokkan tubuh Alesha ke tembok, "Kamu mau ngapain? Lepasin aku!"
Bukannya menjawab. Juan malah tersenyum, dan mendekatkan wajahnya ke wajah Alesha.
Brengsek!
Juan berani mencium bibirku, "Juan leph-***!" Alesha mendorong tubuh Juan. Tapi pria itu malah menahan tengkuk Alesha, dan tidak membiarkannya kabur.
Bersambung...........