
Perlahan-lahan Alesha bisa menerima kembali Rey dalam hidupnya, dia tidak boleh egois hanya memikirkan dirinya saja, ayah, bunda, abang,dan ibu pasti akan kecewa jika mengetahui permasalahan keduanya apalagi sekarang ia akan segera memiliki buah hati.
Tapi hampir seminggu ini Alesha masih tetap tinggal di rumah orang tuanya, karena ia belum siap bertemu dengan Safira dan mengingat kembali kisahnya dan Alvin. Namun Alesha tidak pernah melarang kapanpun Rey ingin menemui Safira. Safira tetaplah istri tertua Rey dan Alesha tidak bisa egois karena janjinya hanya memberikan keturunan untuk keluarga Rey.
Rey mengusap pelan kepala Alesha yang sedang bersandar di dadanya, ia ingin mengungkapkan semua perasaannya kepada Alesha dengan sebuah lagu.
Cinta ini padamu suci...
Bagai embun dipagi hari...
Tak perduli apa yang terjadi...
Engkau tetap kucintai...
Istriku... Engkau ratu dihatiku...
Keringatku demi cinta...
Kasihku untukmu saja...
Bersamamu ku bahagia...
Walau hidup sederhana...
Engkau istriku yang halal....
Janganlah tergoda setan....
Walaupun banyak rayuan.....
Yang s'lalu jadi rintangan
Harapanku hanya satu...
Setiamu kepadaku...
Susah senang ku kan selalu
Bersama dengan dirimu....
Isrtiku... Engkau ratu dihatiku...
Alesha mendongakkan kepalanya kala air mata Rey jatuh membasahi pipi Alesha, ia terkejut karena Rey menangis saat menyanyikannya sebuah lagu yang memiliki arti penting dalam setiap liriknya.
"Mas nangis?" tanya Alesha mengusap pipi Rey yang basah akibat air matanya.
"Enggak kok Sha" jawab Rey memalingkan wajahnya.
Tidak ada yang lebih bahagia dari di cintai oleh orang yang tepat dimana engkau dijadikan ratu di hatinya.
Sama halnya dengan Alesha, ia bahagia Rey menerima dia apa adanya dan menerima segala kekurangannya, bahkan tingkah kekanak-kanakannya, namun dirinya sedang perang batin, ia tidak tau apakah sekarang ia mencintai Rey atau tidak, kalau memang iya apakah Alesha sanggup nantinya ketika melihat Rey bahagia bersama Safira?.
Alesha menepis jauh-jauh perasaannya, tetapi dia tidak bisa membohongi perasaannya lagi saat ini.
Tidak lama kemudian Rey beranjak untuk bersiap-siap pergi ke masjid.
Alesha menatap kagum penampilan Rey yang sedang memakai baju Muslim berwarna putih dipadukan dengan sarung hitam serta tidak lupa peci yang berada di kepalanya membuat Rey dua kali lipat lebih tampan dari biasanya.
"Zaujati, Mas pergi ke masjid dulu ya" pamit Rey karena waktu magrib hampir tiba.
"Tapi ba'da isya langsung pulang ya" ujar Alesha dengan nada merengek seperti anak kecil.
"Iya sayang, kalau gitu Mas pamit, assalamu'alaikum" ujar Rey mengulurkan tangannya dan mencium kening Alesha.
"Wa'alaikumussalam" jawab Alesha menerima uluran tangan Rey.
Dilain sisi Safira tengah mengalami pusing berat, akhir-akhir ini badannya pun mulai melemah. Tidak ada orang disisinya dan tidak ada suami disampingnya.
Safira cukup tenang karena tidak banyak yang tau tentang keadaannya, ia takut jika semua orang tau maka ia akan menjadi beban untuk mereka.
Safira mengingat jelas kejadian malam itu disaat dirinya pulang dari panti asuhan dengan membawa sepeda motor miliknya dulu, ia menabrak seorang laki-laki yang ia yakini masih duduk di bangku SMA. Karena takut bukannya menolong namun Safira malah kabur dan langsung menjual motor miliknya, ia sempat berbohong kepada Rey perihal motornya yang hilang, namun nyatanya ia jual.
Sebulan setelah kejadian itu Safira mencari tau tentang seseorang yang ia tabrak, namun naas remaja tersebut tewas di tempat. Rasa salah selalu ada didalam hati Safira, apalagi saat ia tau bahwa remaja tersebut adalah pujaan hati Alesha.
Safira ingin menebus kesalahannya dengan membiarkan Rey terus bersama Alesha, setidaknya jika Alesha mulai mencintai Rey maka Alvin akan terlupakan, dan itu bisa membuat Alesha kembali bahagia.
Ketika kabar Alesha telah mengandung anak dari Rey, Safira langsung membagikan makanan ke orang-orang yang membutuhkan, sebab bayi yang di kandung Alesha adalah kebahagiaan bagi keluarganya.
*****
Selagi menunggu suaminya pulang, Alesha memilih berbaring di atas tempat tidur di temani berbagai macam makanan sehat dan juga susu ibu hamil.
Ia membaca novel yang baru saja dibelikan abangnya tadi, namun rasa bosan membuat Alesha lebih memilih memainkan ponselnya.
Tok tok tok
"Bunda boleh masuk nggak sha?" tanya bunda dibalik pintu.
"Masuk aja Bun" jawab Alesha membenarkan posisinya agar duduk di atas ranjang.
Mega dan Ira masuk dengan membawa gaun putih yang cukup sederhana namun tampak elegan, gaun tersebut akan dipakai Alesha di acara resepsinya yang akan di langsungkan besok.
"Bumil ngemil mulu deh, jangan sampai baju buat besok gak muat lagi" cibir bunda
"Ih bunda" rengek Alesha, badannya tidak terlalu besar bukan? Perutnya saja masih rata seperti jalan raya.
"Selamat ya sayang, sekarang kamu bakal jadi calon orang tua, gak salah ibu pilih kamu jadi menantu ibu" ujar Ira memeluk menantunya.
"Makasih ibu, doain kandungan aku sehat-sehat sampai lahiran nanti"
"Ibu bakal selalu doain itu sayang"
Kinan masuk ke kamar bersama Meisa yang ada di gendongannya, balita yang berusia satu tahun lebih itu tampak menggemaskan bagi Alesha.
"Meicaaaaaa" pekik Alesha yang langsung melompat mendekati Meisa.
"Astaghfirullah, Alesha" teriak Mega dan Ira karena kaget.
"Kenapa sih bun" ujar Alesha dengan wajah polosnya.
"Inget sayang kamu gak sendiri lagi, ada janin di perut kamu, jadi jangan lompat-lompat ya, kasian dedenya" ucap Bu Ira memberikan pengertian kepada menantunya.
"Maaf" ucap Alesha menundukkan kepalanya.
"Nggak papa, asal jangan diulangi lagi"
"Oh iya Sha, kamu kan lagi hamil jadi kamu mau lanjut kuliah tahun ini apa ditunda dulu terus masuk tahun depan?" tanya Kinan
Alesha menundukkan wajahnya sebelum menjawab pertanyaan Kinan,jujur Alesha masih ingin melanjutkan kuliahnya tahun ini, tapi jika keadaan seperti ini lebih baik ia tunda untuk tahun depan demi keselamatan anaknya.
"Kayanya di tunda dulu deh kak, soalnya Asha gak mau dedenya kenapa-kenapa"
"Bagus itu, kamu fokus rawat suami sama kandungan kamu aja" ujar bunda yang langsung diangguki Alesha.
Tidak ada salahnya untuk mencoba memperbaiki rumah tangganya, ia harus menjaga anaknya sampai lahir nanti.
Setelah isya Bu Ira, Kinan dan Danu pamit pulang karena masih banyak yang harus mereka siapkan untuk acara besok.
"Assalamu'alaikum Zaujati" salam Rey ketika memasuki kamar Alesha.
"Wa'alaikumussalam" jawab Alesha yang langsung mencium tangan suaminya.
"Kamu udah minum susu hamilnya?" tanya Rey mengusap kepala Alesha.
"Udah, tadi dibikinin bunda" jawab Alesha
"Syukurlah, kita istirahat yuk, besok kita harus bangun pagi-pagi, ingat kamu jangan kecapean ya, besok pokoknya kamu hanya perlu duduk,karena besok kamu akan menjadi ratu sehari di acara resepsi kita"
"Cuma sehari nih?" ujar Alesha mencebikan bibirnya.
"Selamanya,di hati Mas" jawab Rey tersenyum geli.
"Habibi" ucap Alesha menggoda Rey.
Rey langsung menatap Alesha dan tersenyum saat Alesha memanggilnya Habibi.
"Ana uhibbuki fillah Zaujati" ucap Rey mencubit gemas hidung Alesha.
"Ana uhibbuka fillah Zauji" jawab Alesha yang langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rey karena malu.
"Kamu gak lagi becanda kan Sha?" tanya Rey memastikan ucapan Alesha, Alesha yang masih bersembunyi hanya menganggukkan kepalanya membuat Rey langsung menggendong Alesha keatas ranjang dan langsung memeluk Alesha dengan posisi berbaring.
"Alhamdulillah, Mas seneng banget akhirnya cinta Mas terbalaskan"