Until the End

Until the End
Berkumpul



Reysha dan Azzam tengah duduk bersama sambil menunggu suara Azzam Maghrib tiba.


"Kak Azzam baik kan?" tanya Haidar sambil melihat wajah cantik kakaknya.


"Baik, tapi kadang ngeselin sih." jawab Reysha.


"Seenggaknya baik, Haidar suka sama pembawaan kak Azzam, dia keliatannya juga perhatian banget sama banyak orang." balas Haidar.


Tak lama kemudian Alesha dan Rey pun ikut bergabung bersama anak-anaknya.


"Kenapa bisa nyimpulin kalau Azzam perhatian sama baik?" tanya Reysha.


"Soalnya Kak Azzam nggak terlalu banyak bicara aja, dia melakukan semuanya dengan tindakan bukan cuma dimulut aja, itu sih yang Haidar tangkap." jawab Haidar.


Reysha hanya manggut-manggut membenarkan ucapan Haidar, karena memang Azzam orang yang irit bicara.


Memiliki saudara, baik itu kakak atau adik, adalah hal yang wajib disyukuri. Memiliki saudara baik kakak maupun adik membuat hidup kalian makin berwarna dan berharga.


Saat masih kecil kakak beradik akan menghabiskan waktu bersama, dengan bermain hingga bertengkar merebutkan mainan atau makanan yang dimasak oleh ibu. Nah ketika besar dan beranjak dewasa, momen-momen kebersamaan dengan saudara akan sangat dirindukan. Bahkan secintanya kamu dengan pacar ataupun teman, pasti rasa cintamu pada kakak atau adik akan jauh lebih besar


"Kakak beradik memang begitu jail dan menyebalkan. Namun, itulah cara mereka untuk menunjukkan rasa kasih sayangnya." ujar Rey melihat kebersamaan mereka.


"Kaya kamu emang, jahil banget sama aku." ucap Alesha.


"Kan cuma sama kamu doang sayang, jahilnya juga kalau lagi berdua." jawab Rey.


Tak lama setelahnya adzan magrib berkumandang, mereka semua bersiap-siap untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.


Setiap orang muslim nemiliki kewajiban melaksanakan salat lima waktu dalam sehari semalam. Sebagai orang yang beriman, kita sami’na wa atha’na terhadap perintah tersebut.


Sholat merupakan amalan yang akan yang akan dihitung pertama di hari kiamat dan akan menentukan. Apabila sholatnya baik, maka semua amal yang lain tidak diperhitungkan lagi karena sudah dianggap baik sehingga akan mendapatkan tempat terbaik, surga.


Sebaliknya, bila sholatnya kurang/tidak baik, baru amal yang lain akan diperhitungkan untuk menentukan nasib selanjutnya. Karena itulah, kita sebagai orang tua perlu mengajarkan dan melatih anak-anak kita untuk dapat melakukan sholat dengan benar.


Solat berjamaah di rumah juga dapat digunakan untuk membina kebersamaan keluarga sehingga akan merekatkan dan mendekatkan hubungan satu sama lain. Saling menunggu semua siap sudah berwudlu, menunggu memakai mukena, kemudian salat sunnah rawatib kita contohkan, kemudian kita praktekkan untuk membaca iqomah anak kita tanda salat akan di mulai. Setelah salam, berdzikir bersama sama, berdoa bersama dipimpin oleh sang ayah, diamini oleh semua jamaah, kemudian bersalaman, mencium tangan orangtua tanda ta’dhim, salaman antar saudara tanda kasih sayang.


Dalam kebersamaan berjamaah, sekali waktu orang tua dapat menambah pengetahuan dan pemahaman ajaran agama. Setelah selesai pelaksanaan solat dan amalan ikutannya, misalnya, orang tua menyampaikan kajian atau sekedar nasehat kepada anak-anak tentang berbagai kebaikan yang telah diajarkan oleh Rasulullah. Sekali waktu anak-anak juga bisa dilatih untuk menyampaikan atau ditanya pemahaman tentang berbagai hal yang terkait dengan agama.


Setelah isya, Alesha menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya di bantu bi Ijah.


"Yuk kita makan malam." ajak Alesha, bi Ijah yang sudah biasa pun ikut duduk di samping Reysha, karena memang ia sudah dianggap ibu oleh Alesha.


"Wow, ini makanan kesukaan aku semua Ma." ujar Reysha melihat berbagai makanan berjejer di meja makan.


"Iya sayang, karena biasanya Mama kan cuma buat makanan kesukaan Papa sama Haidar setelah kamu menikah, maka saat kamu disini Mama akan menyiapkan yang terbaik buat kamu." jawab Alesha.


"Mama emang selalu jadi yang terbaik buat Reysha." ujar Reysha antusias mencomot makanannya.


"Alhamdulillah dong non, berarti Mama sayang banget sama non Reysha." sahut bi Ijah.


Reysha hanya mengangguk dan tersenyum, memang mamanya ini tidak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Haidar.


"Alhamdulillah kita masih diberi nikmat ya." ucap Rey ketika sudah menghabiskan makanan di piringnya.


"Iya, kita juga harus selalu bersyukur bisa hidup enak, banyak diluaran sana yang nggak bisa seperti kita." sahut Alesha.


"Oh iya, Azzam kok belum jemput kamu juga?" tanya Rey.


"Katanya pulang malam Pa, ini kan hari terakhir dia latihan." jawab Reysha.


"Iya Papa ngerti, apalagi kalian masih muda, pasti masih kepengen kumpul-kumpul sama temen, semoga aja kalian bisa jalanin ini semua ya." kata Rey.


"Aamiin Pa, semoga aja Reysha bisa sekuat Mama nikah di usia muda, bahkan Mama juga masih sekolah kan pas nikah sama Papa." tanya Reysha.


"Iya Mama kalian hebat, dia bisa ngurus Papa dengan baik walaupun masih sekolah, Mama kalian juga punya hati yang lapang menerima kenyataan kalau cuma dijadikan yang kedua." ujar Rey dengan suara pelan.


"Papa maaf, bisa nggak jangan pernah ungkit-ungkit lagi kalau Mama itu yang kedua, rasanya Reysha nggak suka, Reysha bisa ngerasain gimana jadi Mama." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafin Papa." sahut Rey.


Alesha baru saja kembali dari dapur setelah membereskan meja makan di bantu bi Ijah.


"Lagi ngomongin apaan sih, kok serius banget." tanya Alesha mengambil duduk di samping suaminya.


"Lagi ngomongin Mama, Papa bilang Mama selalu cantik tiap hari bikin Papa makin cinta." ucap Haidar mampu membuat Alesha tersipu malu.


"Emang bener, Mama kamu makin berumur makin cantik." sahut Rey merangkul bahu Alesha.


"Tapi kan nggak mesti pakai kata berumur juga Mas." keluh Alesha.


Tiba-tiba bel rumah berbunyi, BI Ijah langsung membukakan pintu untuk tamu tersebut, wajah Azzam pun terlihat saat pintu di buka. BI Ijah mempersilahkan Azzam agar masuk.


"Mari masuk den, ibu sama bapak juga ada di ruang keluarga, non Reysha juga disana," ujar bi Ijah.


"Makasih bi." Azzam mengangguk dan langsung menghampiri Reysha.


"Assalamualaikum Pa, Ma." salam Azzam mencium punggung tangan mertuanya.


"Wa'alaikumussalam, udah selesai latihannya Zam?" tanya Rey.


"Udah Pa, maaf ya kalau Azzam jemputnya kelamaan." kata Azzam yang merasa bersalah.


"Nggak apa-apa Zam, Papa maklumin karena kalian masih muda juga, tapi jangan sampai kelupaan kalau udah punya istri." nasihat Rey.


"Alhamdulillah nggak bakal lupa kalau yang satu itu Pa." jawab Azzam tersenyum kecil.


"Iya dong masa lupa sama anak Mama, kalau lupa nanti kamu Mama jewer." canda Alesha.


"Kalau gitu aku mau ajak Reysha pulang ya Pa, masalah pindah aku bakal segera omongin sama ayah." ucapnya yang diangguki Rey dan Alesha.