
Rey terus berada di sisi Alesha, matanya tidak pernah lepas dari istrinya itu. Menyesal memang tidak ada gunanya tetapi berusaha memperbaiki itu jalannya.
Ponsel Rey berdering, ia menatap sebentar Alesha dan keluar kamar untuk mengangkat panggilan.
"Halo, Assalamualaikum Pak." salam pria di seberang sana.
"Wa'alaikumussalam, ada apa?"
"Saya sudah menangkap pria itu, bapak mau saya apakan dia?"
"Terserah mau kalian apakan, tapi yang pasti jangan sampai dia berani menemui istri saya lagi." titah Rey kemudian mematikan teleponnya.
Rey kembali memasuki kamarnya dan melihat Alesha sudah duduk diatas ranjang sambil menatap lurus dengan pandangan kosong.
"Sayang.." panggil Rey sama sekali tidak dihiraukan Alesha.
"Kamu jangan kaya gini terus, anak-anak pasti sedih liat mamanya begini."
"Kamu sayang kan sama aku? jadi ayo kita berjuang sama-sama lagi, aku mohon jangan kaya gini Sha." lirih Rey mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Kalau kamu mau pergi ninggalin aku, kenapa kamu nyuruh aku berjuang saat sakit, tau gitu aku juga mau ma---" ucapan Rey terpotong saat Alesha menaruh jari telunjuknya di bibir Rey.
Alesha menghambur kedalam pelukan suaminya menumpahkan segala rasa sakitnya, rasa trauma dan benci akan dirinya sendiri yang harus merasakan kenyataan seperti ini.
Alesha sudah tidak lagi seperti Alesha yang dulu. Alesha yang manja, kadang kekanak-kanakan, tapi memiliki jiwa keibuan, Alesha yang ceria seolah lenyap tergantikan dengan Alesha yang lebih banyak diam dan menangis. Semua itu terjadi tak lain alasannya karna satu, ialah karena Alesha merasa dunianya sudah hancur semenjak kejadian itu.
Berulang kali Rey meminta agar Aleshanya tidak memikirkan yang tidak-tidak dan membantunya untuk melupakan semua kejadian itu, tetapi Alesha masih sulit untuk melupakan kejadian mengerikan tersebut.
"Mau jalan-jalan?" tawar Rey melerai pelukannya dan mengusap sudut mata Alesha yang berair.
Alesha mengangguk agar Rey merasa senang dan tidak merasa bersalah kembali, ia juga ingin sehat kembali dan berkumpul dengan anak-anaknya lagi yang sekarang sedang diasuh oleh Ira.
*****
Saat ini mereka yang sedang jalan-jalan sore di taman komplek rumahnya. Sejak tadi Alesha hanya mengikuti kemana langkah Rey pergi. Kesehatan Alesha pun sudah berangsur pulih.
Di taman, terdapat beberapa penjual jajanan . Dan biasanya jika sudah melihat banyak jajanan seperti ini, pasti akan bersikap manja agar Rey mau membelikan berbagai macam makanan untuknya. Namun sekarang Alesha hanya banyak diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, terlihat seperti patung yang sedang di tuntun oleh Rey.
"Kita duduk dulu ya sayang." ajak Rey menarik tangan Alesha pada salah satu bangku taman.
"Dari tadi kamu diam aja, serasa Mas ini lagi bawa patung, kamu mau jajan nggak? biasanya kamu selalu manja kalau udah banyak penjual makanan."
"Mau." jawab Alesha dengan singkat.
"Kamu mau jajan apa sayang? biar nanti Mas yang beliin kamu jajanan." ujar Rey mengusap lembut kepala Alesha.
"Terserah.." jawaban Alesha membuat Rey menghela nafas panjang.
Rey lebih menyukai Alesha yang sering manja dan tidak mau kalah, Rey juga lebih menyukai Alesha yang sering mengeluh karena Reysha selalu saja membuat ulah ketika Rey sedang tidak berada di rumah. Bukan seperti sekarang, bahkan mereka terlihat asing saat Alesha hanya menjawab seadanya.
Hari - hari yang mereka lalui, pun terlihat datar tanpa adanya lagi candaan, rayuan, bahkan keharmonisan keluarganya. Itu memang pantas Rey dapatkan karena tidak mempercayai istrinya yang selama ini selalu setia menemani. Tapi kenapa harus Reysha dan Haidar yang menjadi korbannya? berkat kesalahannya, semua ini berimbas kepada Alesha, Reysha dan Haidar.
"Mas merindukan kamu Sha, Mas merindukan sikap manja dan rayuan kamu disaat sedang menginginkan sesuatu." lirih Rey dalam hati.
"Ya udah kamu diem dulu di sini ya, Mas beliin kamu makanan dulu." ujar Rey meninggalkan Alesha, ia berjalan menuju penjual arumanis yang berupa makanan kesukaan Alesha serta es krim coklat.
Mata Rey tidak pernah berpaling dari istrinya, dia takut terjadi sesuatu dengan Alesha karena perempuan itu masih dalam tahap pemulihan.
"Ini, Mas beliin kamu arumanis, kamu suka banget kan sama itu." ujar Rey dibalas senyum tipis Alesha.
Alesha pun menerima makanan tersebut, Rey terlihat senang saat Alesha menikmati makanannya, matanya tertuju pada bibir wanita itu yang sedang mengunyah arumanis.
Rey mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir istrinya, Alesha memejamkan matanya, tapi sesaat kemudian ia mendorong dada Rey saat bayang-bayang Juan memenuhi kepalanya. Walaupun bayang-bayang itu sering muncul, tetapi Alesha tidak mau membuat Rey sedih dengan mengatakannya.
Rey mengusap sudut bibirnya. " Kenapa?" tanya Rey saat Alesha melepaskan pangutannya.
"Malu Mas, tempat umum." balasnya, sontak Rey pun mengangguk. Sungguh matanya tidak bisa berpaling dari bibir ranum istrinya.
"Ya udah habisin makanannya, ini eskrim kesukaan kamu, habis ini kita pulang ya." ajak Rey.
"Iya.." jawab Alesha.
Rey bersyukur karena Alesha tidak menolak ciumannya, itu berarti istrinya itu sudah bisa melupakan kejadian itu sedikit-sedikit pikirnya. Padahal Alesha hanya mau menyenangkan hati Rey saja agar tidak terlalu memikirkan Alesha dan bisa membuat beban pikiran Rey.
Bersambung.........