
"Selamat ya Rey, berdasarkan hasil pemeriksaannya, sel kanker yang sebelumnya ada di tubuh kamu sekarang sudah benar-benar bersih," Dokter Hakim tersenyum senang. Sorot matanya terlihat sangat semangat, "Padahal dalam kasus kayak gini jarang banget ada yang bisa sembuh. Tapi kamu harus tetap ingat, jaga pola makan dan olahraga yang teratur. Dan yang paling penting jangan stres."
Alesha menggenggam tangan Rey dan tanpa sadar air mataku mulai turun.
Alesha terharu sekaligus bahagia karena akhirnya suaminya itu bisa sembuh dari penyakitnya. Seperti yang dokter Hakim bilang, padahal dalam kasus seperti ini jarang sekali orang yang bisa sembuh.
Mungkin ini yang dinamakan sebuah kebesaran Allah untuk keluarganya.
Setelah mengambil hasil pemeriksaan kesehatan Rey, mereka berdua langsung pulang ke rumah karena tidak tega meninggalkan anak-anak dengan pembantu baru di rumah.
sejak kembali tinggal bersama lagi, Rey meminta Alesha agar menerima seorang pembantu yang sudah paruh baya untuk membantu istrinya mengurus kedua anak mereka. karena Rey merasa kasihan jika semuanya harus Alesha sendiri yang mengerjakannya.
"Kamu nangis?" Tanya Rey saat mereka baru sampai di pekarangan rumahnya.
Alesha menggeleng, "Cuma masih terharu aja Mas. Kamu kuat. Dan aku salut banget, makasih udah bertahan sejauh ini untuk selalu ada buat aku dan anak-anak."
"Aku kuat dan bisa sembuh karena aku punya orang kayak kamu di samping aku. Makasih sayang, selama ini kamu selalu sabar mengurus suami yang berpenyakitan ini." ucap Rey mendekatkan wajahnya kearah Alesha dan mencium bibir istrinya.
Awalnya mungkin Alesha hanya diam tidak berkutik. Tapi detik selanjutnya Alesha mulai terbuai dan mulai membalas ciuman manis dari suaminya.
Tangan laki-laki itu melepaskan seatbelt yang menghalangi tubuh mereka berdua. Kemudian ia membawa Alesha ke dalam pangkuannya.
Kira-kira sudah berapa lama mereka tidak seintim ini semenjak banyak masalah yang menerpa kehidupan rumah tangganya.
Cukup lama sepertinya.
"Mas," Alesha menjauhkan wajahnya dari Rey saat kehabisan nafas. Nafas mereka berdua tersengal-sengal, "Masih di mobil." ujar Alesha mengusap sudut bibirnya yang basah akibat perbuatan suaminya itu.
Alesha berdecak, "Lalu? Masih nanya lalu?"
Rey terkekeh. Ia turun dari mobil lebih dulu kemudian membukakan pintu mobil untuk Alesha , "Ayo masuk."ajak Rey menggenggam tangan istrinya.
Alesha ikut terkekeh, "Nggak sabaran," Lalu meraih tangan Rey yang sebelumnya ia ulurkan pada Alesha.
"Anak-anak gimana Bi? Aman kan?" Tanya Alesha pada Bi ijah yang baru saja keluar dari kamar Reysha dan Haidar.
"Udah pada tidur Bu." jawab bi Ijah dengan sopan.
Alesha mengangguk paham, "Yaudah, Bibi istirahat juga. Saya sama Mas Rey juga mau istirahat." ucap Alesha.
"Jam 4 subuh tapi istirahatnya," Celetuk Rey yang baru saja memasuki rumah setelah mengunci pintu depan.
Alesha menatapnya sinis. Sedangkan Bi ijah hanya tertawa lalu pamit undur diri.
Sepertinya perkataan Rey yang tadi tidak main-main. Begitu sampai kamar ia langsung menyerang Alesha dan tidak membiarkan istrinya duduk barang sejenak.
Ya mungkin malam ini bukan hanya Rey yang berapi-api. Tapi Alesha juga. Bayangkan saja mereka sudah berpisah selama berbulan-bulan. Kemudian disatukan kembali di kamar yang hangat seperti ini.
Bersambung...........
maaf ya baru bisa update lagi, soalnya aku udah mulai kerja dan gak ada waktu buat nulis🙏 tapi sekarang aku bakal usahain lagi update walaupun cuma beberapa kata🥲