Until the End

Until the End
Rencana pindahan



Pagi ini keluarga Azzam tengah sarapan di pagi hari. Hari ini Azzam ingin mengutarakan keinginannya untuk pindah ke rumah Reysha.


"Ayah, bunda... sebenernya Azzam mau ngomong hal penting sama kalian." ujar Azzam membuka pembicaraan saat mereka semua tengah asik makan.


"Mau ngomong apa Zam?" tanya Arkan.


"Sebenernya beberapa hari yang lalu Papa sama Mama nyuruh kita buat tinggal di rumah mereka, apalagi setelah kejadian Reysha waktu itu, sebenernya ini bukan semata kemauan Papa sama Mama aja, tapi aku juga. Karena disana Reysha masih bisa deket sama Mama sama Papanya, sedangkan disini kan ayah sama bunda selalu sibuk, Azzam juga mau punya keluarga yang harmonis nggak mementingkan pekerjaan terus." terang Azzam.


Reysha sangat terkejut mendengar ucapan Azzam, apalagi Azzam yang dengan terang-terangan mengatakan ingin memiliki keluarga yang harmonis.


Laki-laki yang mengikat janji, satu detik saja selepas ijab dan dinyatakan syah, otomatis bertanggung jawab kepada perempuan telah dinikahi. Suami bertanggung jawab, memberi nafkah lahir batin, memperlakukan istri dengan perlakuan baik, tidak semena-mena dan tidak berlaku aniaya.


Namanya nafkah keluarga pasti banyak macamnya, yang sudah jelas tiga kebutuhan pokok tak bisa diabaikan, seperti sandang pangan dan papan.


Semua keputusan (mau tinggal di mana setelah menikah) yang dipilih pasangan suami istri, pasti dengan pertimbangan dan diskusi matang. Masing-masing pilihan akan membawa konsekwensi bagi pemilihnya, susah dan senang harus dilalui sebagai bagian dari perjalanan hidup.


"Zam.." tegur Arkan saat mendengar ucapan Azzam yang menurutnya sudah kelewat batasannya.


"Maafin bunda, bunda juga sibuk demi kamu Zam, demi masa depan kamu, ayah sama bunda kerja keras buat bikin kamu bahagia, tapi kayaknya pemikiran bunda salah ya?" lirih Marisa.


"Bunda nggak salah, uang memang bisa bikin bahagia, tapi tidak selamanya bahagia harus dengan uang, dengan kumpul bersama keluarga aja udah bikin bahagia." jawab Azzam.


"Kalau kamu maunya begitu bunda nggak apa-apa, tapi nanti sering-sering main ke sini ya?" kata Marisa.


"Emang mau tinggal di rumah mertua kamu beneran? apa nggak sebaiknya mandiri biar nanti ayah beliin kalian apartemen?" tanya Arkan memberikan sarannya.


"Nggak, sebenernya halaman di samping rumah Papa kan masih agak luas ya, nah Papa rencananya mau bikinin kita rumah ya sederhana aja tetapi masih tetanggaan, sekarang udah mulai pembangunannya berjalan 2 hari, waktu itu Papa minta konsepnya ke kita." sahut Reysha.


"Berarti nggak tinggal sama Papa, Mama kamu? padahal kan luas juga rumahnya."


"Sebenernya Mama mintanya buat tinggal bareng, tapi ada beberapa pertimbangan dari Papa mengenai apakah tinggal di rumah mertua setelah menikah adalah pilihan yang baik atau tidak." sahut Azzam.


Arkan dan Marisa pun mengangguk, memang Rey akan memikirkan banyak hal untuk kedepannya, apalagi ini semua demi kebaikan putrinya yang sangat Rey sayangi.


"Pertimbangan apa?" tanya Marisa berusaha ingin tau cara pemikiran Rey dan Alesha.


"Kalau tinggal sama orang tua pastinya privasi lebih minim apalagi kita juga masih canggung satu sama lain, konflik pasangan juga bisa sering terjadi kan? takutnya nanti orang tua akan ikut mencampuri urusan rumah tangga anaknya, dan yang pasti disana Reysha akan benar-benar mengurus rumahnya sendiri tanpa campur tangan seseorang." jawab Azzam.


"Iya bener, apalagi dua kepala keluarga dalam serumah itu nggak baik, bunda setuju kalau Pak Rey sedang bikin rumah buat kalian, ya walaupun deket-deketan sih."


"Nanti ayah kasih biaya perabotan buat rumah kalian." usul Arkan.


"Nggak usah yah, Papa udah siapin semuanya buat hadiah pernikahan aku sama kak Azzam." jawab Reysha.


"Ya udah mobil sama motor kalian bawa ya, nanti kalau butuh sesuatu tinggal bilang aja sama ayah."


Mereka semua pun sudah menghabiskan makanannya sejak pembahasan pindah rumah, tentunya Arkan dan Marisa akan selalu mendukung keputusan Azzam karena mereka tau jika Azzam selama ini tertekan dengan ketidakharmonisan keluarganya.


"Kalian mau pindahnya kapan?"


"Sehabis pulang sekolah, nanti kita beres-beres dulu setelahnya kita pindah."


"Makasih bunda, tapi nggak usah repot-repot, bunda pasti sibuk."


Marisa tersenyum, Reysha bisa mengerti dirinya saat ini. Biasanya orang akan senang mendapatkan bantuan tetapi Reysha malah enggan.


"Nggak kok, setelah beres-beres nanti bunda bisa langsung berangkat, setelah kalian pulang bunda usahain buat ada di rumah biar bisa liat kalian pindahan."


"Oke bunda, kalau gitu kita berangkat dulu ya, ini udah hampir telat banget gara-gara keasikan ngobrol."


"Iya hati-hati."


Azzam dan Reysha pun langsung bergegas pergi ke sekolah dengan menggunakan sepeda motor. Karena bel masuk tinggal sepuluh menit lagi tidak mungkin jika mereka akan telat waktu kalau berangkat naik mobil.


"Nggak usah kenceng kenceng bawanya kak, aku takut." teriak Reysha sambil melingkarkan tangannya di perut Azzam.


"HAH?" teriak Azzam, ia tidak mendengar ucapan Reysha karena angin kencang.


"AKU TAKUT, JANGAN NGEBUT BAWA MOTORNYA." pekik Reysha lagi.


"Oh, iya maaf bentar lagi nyampe kok." ujar Azzam memelankan laju motornya saat hendak memasuki gerbang sekolahnya itu.


"Selamat pagi den Azzam, neng Reysha." sapa pak kuris selaku satpam sekolahnya.


"Pagi pak, kita pamit duluan ya udah hampir telat." ujar Azzam.


Sesampainya di parkiran Azzam langsung memarkirkan motornya, disana Reysha melihat Marvel dan Mita yang juga ada diparkiran.


"Udah?" tanya Reysha agak kencang agar Marvel dan Mita memperhatikannya.


"Udah, aku antar kamu sampai ke kelas." ajak Azzam menggandeng tangan Reysha.


"Boleh deh." jawab Reysha sambil tersenyum manis.


Marvel langsung menghampiri kedua remaja itu untuk memastikan apakah Reysha benar-benar telah melupakannya.


"Reysha.." panggil Marvel membuat Reysha dan Azzam menghentikan langkahnya.


"Ya?"


"Kamu ada hubungan apa sama Azzam? jangan-jangan emang kamu yang selingkuh sama dia tapi nuduh aku?"


Reysha mengepalkan tangannya saat mendengar perkataan Marvel, bukannya introspeksi diri tetapi Marvel malah menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.


"Heh! lo emang nggak pernah ngaca ya, bisa-bisanya lo fitnah gue selingkuh padahal lo sendiri yang selingkuh sama cewek kaya dia." tunjuk Reysha kepada Mita yang ada di samping Marvel.


"Lagian bukan urusan lo kalau gue punya hubungan sama Kak Azzam, mata gue sekarang udah kebuka mana yang cakep atau mana yang sok cakep."


"Selingkuh itu murah, jadi karena lo murah makannya lo selingkuh, mana selingkuhannya model kaya dia lagi." ujar Reysha kemudian menarik tangan Azzam agar segera meninggalkan kedua sejoli itu.


Rasa-rasanya Reysha muak pagi-pagi bertemu dengan manusia sebangsa Marvel dan Mita.