
Rey yang melihat istrinya sedang memasak pun langsung menghampirinya.
"Lagi ngapain sayang?"
Alesha terkejut begitu merasakan tangan yang kini melingkar di perutnya, begitu juga dengan dagu yang kini menyelinap di bahunya. Hembusan napas teratur jelas ia rasakan. Rey yang begitu dekat dengannya dan memeluknya membuat aliran darah Alesha terasa seperti habis di setrum.
"Masak, Mas."
Jantungnya yang berdegup kencang ia biarkan, Alesha tetap melanjutkan aktifitasnya dengan Rey yang masih diposisi yang sama. Malahan Rey mengendus-endus aroma tubuh Alesha yang seperti biasa mampu membuatnya tenang.
"Masak yang enak ya sayang, Mas mau makan banyak hari ini." ujar Rey sesekali menciumi pipi istrinya.
"Iya Mas." jawab Alesha, ia masih membiarkan Rey memeluknya, karena memang Alesha pun menyukai tingkah Rey yang selalu manja kepadanya.
Rey tersenyum, tetap pada posisinya mengamati wajah Alesha yang masak. Alesha pun mematikan kompornya ketika masakannya telah matang.
"Udah?" tanya Rey.
"Udah Mas, aku minta tolong buat panggil Haidar ya." ujar Alesha.
"Siap nyonya." ucapnya sambil mencuri kecupan di bibir istrinya.
Alesha hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rey yang seperti anak-anak, Rey yang dulu dan sekarang nampak berbeda. Rey yang dulu sangat berwibawa dan selalu membimbingnya sekarang malah terlihat seperti anak-anak.
"Mama masak lumayan banyak banget." ucap Haidar mengambil duduknya di samping Alesha.
"Iya sayang, rencananya Mama mau bagiin buat tetangga." Haidar hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti.
"Setelah ini kamu mau kemana? ini kan weekend." tanya Rey kepada putranya.
"Aku mau ke rumah Refaldy Pa, aku mau ada belajar bareng." jawab Haidar.
"Sayang ini kan hari libur, masa kamu belajar terus sih, lagian Mama juga dulu nggak gitu-gitu amat, kamu ambisi banget buat jadi yang terbaik." kata Alesha yang merasa kasihan karena Haidar selalu sibuk belajar.
"Bener kata Mama kamu, nikmati waktu muda kamu, jangan terlalu berlebihan." sahut Rey.
"Ini nggak berlebihan Pa, Ma. ini juga demi masa depan Haidar kan, Haidar pengen kaya Papa jadi orang sukses."
Alesha menghela nafas panjang, dia menyajikan makanan di piring suaminya dan juga Haidar.
****
"Udah, Sha?"
Alesha mengangguk, berjalan menuju Rey yang tengah duduk di ruang tamu menunggunya. Rey justru tersenyum melihat istrinya yang tampil cantik.
"Jelek ya Mas?" Alesha jadi tidak percaya diri karena Rey memandangnya terus. Hari ini Rey akan mengajaknya jalan-jalan yang membuat Alesha sangat senang.
"Siapa bilang?" Lelaki itu beranjak dari duduknya dan berdiri di depan Alesha. Senyum menawan itu mengembang.
"MasyaAllah, istri Mas emang cantik banget," pujinya, berhasil membuat Alesha bersemu.
"Kita pergi?" tanya Rey sambil membenarkan kerudung Alesha yang sedikit tidak rapi.
Alesha mengangguk. Kini tangan Rey terarah menggenggam hangat tangannya.
"Kita pakai motor ya. Mumpung cuaca bagus, biar romantis." ujar Rey yang langsung diangguki Alesha.
Rey sudah melepaskan genggaman tangannya sampai di halaman. Beralih mengambil helm dan memasangkannya ke Alesha.
"Aku pasangin."
Belum Alesha angguki, Rey sudah lebih dulu memasangkan helm ke kepalanya, membuat Alesha seketika mundur.
Alesha tersenyum merekah diajak jalan-jalan oleh Rey saat ini. Melihat tempat permainan di mall, membuatnya mendadak rindu. Terlebih begitu melihat permainan anak-anak mengingatkannya kepada anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa.
"Mau ke dalam?" tanya Rey.
"Nggak apa-apa, Mas?"
Rey mengangguk mantap.
"Tapi, itu kan buat anak kecil." ucap Alesha.
"Emang ada tulisannya buat anak kecil?"
Bermain bersama, Alesha meloncat senang begitu berhasil memasukkan bole ke keranjang. Ia tadi membuat kesepakatan dengan suaminya untuk saling berlomba memasukan bola. Rey juga sangat setuju tidak menolak ajakannya.
Di tengah permainan Alesha tidak sengaja melirik poin yang didapatkan Rey. Matanya melebar melihat jumlah poin yang tercetak di sana.
"Mas kok cepat dapat poin?"
Rey tersenyum kecil. "Kan Mas jago."
Alesha mengerucutkan bibirnya, dia pikir yang akan menang, tapi melihat tertinggal jauh seperti ini pupus sudah harapannya.
Rifqi mengusap gemas kepala Alesha begitu ronde pertama berakhir. "Mas menang," ucap Rey tersenyum, memanasi Alesha yang semakin sebal.
"Nggak terima." tanya Rey?
"Main yang lain yuk, Mas." ajaknya lagi mengalihkan pembicaraan
"Yang mana?" tanya Rey mengangkat sebelah alisnya.
"Ambil boneka," seru Alesha semangat. Sesaat membuat Rey tidak percaya istrinya ingin mengambil boneka.
"Eh ini udah jadi ibu-ibu tapi kelakuan kaya anak-anak."
Alesha mengerucutkan bibirnya. "Nggak jadi, Mas." Lalu berjalan begitu saja melewati Rey yang tersenyum geli melihat wajah istrinya.
"Ngambek, Sha?" tanya Rey menyusul Alesha.
"Nggak, Mas." jawab Alesha sambil melengos.
"Kesal?"
"Iya."
Rey terkekeh akan kejujuran itu. Ia merangkul hangat Alesha yang kini bergeming. "Yang tadi bercanda sayang."
"Ayo kita ambil boneka." ajak Rey menarik tangan Alesha ke tempat capit boneka.
"Pokoknya kamu harus ambil boneka beruang itu Mas ." ujar Alesha yang melihat boneka kecil berbentuk beruang.
Rey tersenyum kecil saat melihat tingkah Alesha."Iya." jawabnya.
Permainan pun dimainkan oleh Rey. Rey kini begitu fokus mendapatkan boneka. Sementara Alesha yang tadi sibuk mengontrol hatinya menatap Rey yang berusaha mengambil boneka untuknya.
Rey memusatkan perhatian seutuhnya pada besi yang dijalankannya. Tiga kali kembali gagal, boneka jatuh dari pegangan.
"Ayo Mas, itu pasti bisa." Alesha jadi ikut menikmati permainan mengambil boneka. Ia menatap fokus besi yang kembali digerakkan.
"Yes." pekik Alesha girang saat melihat Rey berhasil mengambil boneka yang ia mau.
Rey terkekeh mendengar Alesha yang langsung kegirangan setelah tujuh kali mencoba dan akhirnya berhasil mendapat boneka.
"Capek juga ya." ucap Rey
Alesha tertawa. Setelah mengambil boneka, tangan Alesha melap wajah Rey yang sedikit berkeringat menggunakan tisu.
Rey tersenyum dengan perlakuan istrinya. "Makasih, habis ini mau kemana lagi?" tanya Rey.
"Pulang.."
"Kok pulang, emang nggak mau makan dulu?" tanya Rey.
"Nggak, kita keliling-keliling lagi aja cari makanan di pinggir jalan, aku mau cobain banyak jajanan pinggir jalan." jawabnya.
"Ngidam?" tanya Rey yang dihadiahi pukulan oleh Alesha.
"Bahas ngidam mulu, aku cuma mau jajan Mas, lagian mana bisa jadi, ingat umur." ucapnya.
"Kita masih muda Sha, dibilangin jangan mandang umur, lagian kamu juga belum empat puluh tahun jadi masih bisa lah hamil." ujar Rey terkekeh pelan saat melihat Alesha yang cemberut setiap pembahasan anak.
"Udah ah, nunggu punya cucu aja, nanti juga pasti kita bakal ikut bantuin urus."
"Lah masih muda udah mikirin punya cucu." celetuk seseorang yang baru saja lewat dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Alesha dan Rey.