Until the End

Until the End
berkunjung



Rey berdecak kesal karena Safira pergi tanpa menghubunginya, ia juga tidak mendapat pesan dari Alesha.


Kenapa kedua istrinya itu kompak membuat Rey khawatir. Tapi yang lebih membuat khawatir adalah Safira, Rey yakin Alesha baik-baik saja karena berada di rumah orang tuanya.


Rey menghembuskan nafas kasar, hari ini dia sangat pusing memikirkan semuanya, ia harus segera mencari pekerjaan tambahan selain mengajar, ia butuh banyak biaya untuk persalinan Alesha nantinya.


Dilain tempat Safira sedang berada di salah satu rumah sakit. Hari ini adalah jadwalnya Safira terapi dengan di temani dua orang wanita paru baya.


"Makasih udah mau nemenin Fira Bu" ucap Safira menatap wanita tersebut.


"Gak usah terimakasih nak, kamu udah seperti anak ibu sendiri"


"Makasih buat bunda juga udah mau bantuin Fira"


"Kamu gak mau jujur sama suami kamu?" tanya wanita tersebut.


"Belum waktunya Safira jujur bu, Safira takut saat Safira jujur Mas Rey bakal sedih, apa lagi Alesha dia udah banyak nolongin Safira selama ini" ujar Safira dengan mata yang berkaca-kaca mengingat kejadian dulu yang sering menimpanya.


"Mungkin Alesha lupa sama Safira, tapi Safira gak bakal lupain pengorbanan Alesha. Dia yang udah nolongin Safira waktu aku hampir di lecehin saat remaja, bahkan Alesha yang terkena pukulan kayu hingga menyebabkannya koma"


Kedua wanita di samping Safira menghela nafas kasar, dia menatap sendu keadaan gadis yang malang, bahkan di sepanjang hidupnya dia tidak pernah merasakan bahagia.


"Itu semua takdir Fir, lupain yang buat kamu sedih. Mulai sekarang hiduplah bahagia, bunda akan selalu support kamu"


"Gimana Safira bisa lupain itu semua, yang seharusnya bersanding sama Mas Rey itu Alesha bukan aku, aku perusak semuanya"


"Aku yang merebut Mas Rey dari Alesha, dan aku juga yang sudah merenggut Alvin. Aku ini jahat" lirih Safira dengan mata yang memerah.


"Kamu cuma perlu lakuin satu hal yaitu jangan pernah ceritain siapa Alesha kepada Rey dan siapa Rey kepada Alesha, itu semua udah cukup. Biarkan semua ini mengalir dengan sendirinya, jika kamu mengatakan masa lalu Alesha dan Rey maka kamu yang akan tersingkirkan. Jangan pernah melakukan kesalahan yang sama seperti dulu kamu menipunya"


"Lagian kamu sudah menyatukan mereka kembali"


Safira hanya mampu menunduk dalam, semakin hari rasa bersalahnya kian menambah. Di satu sisi dia ingin mengungkapkan satu kebenaran, namun di sisi lain dia takut akan tersingkirkan dengan adanya kebenaran tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, aku takut meninggal dengan membawa banyak kebohongan" lirih Safira dalam hati.


*****


Rey kini tengah berada di rumah Kinan kakaknya. Dia kesini ingin bertemu dengan Meisa dan Fajar selaku keponakannya.


"Om ley ini gimana sih mainnya, pajal gak bisa" ucap anak kecil yang berusia empat tahun itu sambil menunjukkan mainan legonya.


"Sini biar Om pasangin, tapi kamu liatin ya biar kamu bisa" Rey menunjukan cara memasang mainan tersebut kepada fajar.


"Gampang" celetuk fajar yang melihat cara Rey memasangnya.


"Gampang tapi gak bisa" ucap Rey terkekeh kemudian mencium pipi gembul Meisa yang duduk di sampingnya menatap polos Om dan abangnya.


Danu yang baru saja pulang dari kantor langsung duduk di sofa ruang tamu sambil melihat kedua anaknya yang sedang bermain dengan Rey.


"Jadi gimana Rey?" tanya Danu menatap Rey.


"Gimana apanya Mas?" tanya Rey yang tidak mengerti maksud dari kata-kata Danu.


"Kamu gak mau mimpin perusahaan ayah? Sayang loh Rey, gak enak juga kalo Mas yang gantiin posisi ayah. Mas kan cuma menantu"


"Rey belum terbiasa Mas, skil Rey ya ngajar. Masalah perusahaan ya beda cerita gak ngerti apa-apa"


"Ya di coba dulu aja Rey, kamu harus belajar dulu sama Mas Danu. Lagian kebutuhan kamu kalo udah jadi ayah bakal nambah, semua serba mahal. Kalau kamu cuma ngandelin gaji kamu ngajar pasti kurang, apa lagi kamu punya dua istri" ujar Kinan yang baru saja keluar dari kamarnya ikut bergabung duduk di samping Danu.


"Rey sih mau-mau aja, tapi kalo Rey kerja di kantor pasti bakalan sering lembur, kalian tau kan kalo ngajar paling telat pulangnya jam tiga"


Danu menghela nafas panjang, masalah waktu kan Rey bisa bertemu dengan keluarganya di malam hari. Yang terpenting yaitu kebutuhan mereka tercukupi.


"Kamu gak bakal pulang malem, Mas pastiin jam lima kamu udah nyampe rumah"


Setelah berbicara panjang lebar, Rey mendapatkan pesan dari Safira kalau dia akan berbuka bersama teman-teman, dan tentu saja Rey mengijinkannya. Dia juga sore ini akan pergi ke rumah mertuanya untuk menjenguk Alesha yang masih betah di sana sekalian membawa beberapa makanan sehat mengingat kandungan Alesha sempat melemah karena ikut berpuasa. Setelah mengetahui kandungan Alesha melemah, Safira menyuruh Alesha agar berhenti berpuasa, toh memang ibu hamil di perbolehkan untuk tidak berpuasa asal nanti dia bisa membayar puasa yang ditinggalkannya.


Semenjak kandungannya melemah, Mega menyuruh Alesha agar ikut tinggal bersama dia guna mengontrol kesehatan putri dan calon cucunya. Tentu saja Rey menolak, akan tetapi Ira sang ibu memberi saran agar Rey membiarkan Alesha berada di rumah orangtuanya agar Alesha baik-baik saja.


Awalnya Mega menyuruh Safira dan Rey ikut tinggal di rumah mereka, tapi Safira sungkan untuk tinggal di rumah orang tua Alesha. Oleh karena itu Alesha menyuruh Rey agar tetap berada di rumah dan Rey juga bisa sewaktu-waktu menjenguknya.


"Assalamualaikum" salam Rey yang sudah berada tepat di depan pintu rumah mertuanya.


"Wa'alaikumussalam" jawab Alan yang baru saja membukakan pintu untuk Rey.


"Masuk bang" ajak Alan.


"Mas Rey" teriak Alesha yang tiba-tiba berlari ke arah suaminya.


"Hati-hati Sha" ujar Rey langsung menuntun Alesha agar duduk disampingnya.


"Hehe maaf Mas, abisnya aku seneng banget gak tau kenapa"


"Kangen ya" goda Rey yang mendapat pukulan di lengannya.


"Mba Safira mana?" tanya Alesha yang tidak melihat kehadiran Safira, biasanya setiap kali Rey mengunjunginya Safira pasti akan ikut untuk menanyakan kabar Alesha dan bayinya.


"Tadi Safira ijin bukber sama temen-temennya, jadi Mas kesini deh. Masa punya dua istri tapi buka puasa sendirian"


"Ya udah, Mas buka puasa di sini aja sama ayah,bunda dan bang Alan"


"Maunya sama kamu gimana dong?" lagi-lagi Rey mendapat pukulan dari Alesha karena terus-terusan menjahilinya.


"Sakit Sha" ujar Rey sambil meringis pelan.


"Lagian siapa suruh jahil"


Rey menyerahkan satu paper bag besar kepada Alesha yang di dalamnya berisi makanan untuk ibu hamil serta susu.


"Banyak banget Mas" ucap Alesha membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan isinya.


"Kandungan kamu kan udah mulai besar, jadi wajar aja Mas bawain banyak makanan, kan akhir-akhir ini kamu lebih suka ngemil"


Tidak lama kemudian Bimo, Mega dan Alan ikut bergabung bersama Rey dan Alesha. Mereka membicarakan banyak hal sambil menunggu adzan magrib tiba.


Setelah menunggu, akhirnya adzan pun berkumandang.


"Alhamdulillah" ucap mereka.


Rey memimpin doa sebelum mereka menyantap makanan tersebut. Alesha juga ikut makan bersama mereka meski dia tidak ikut berpuasa.


"Bang ini makanan yang bikin Alesha loh" ucap Alan meledek adiknya.


"Gak usah ngledek gitu bang" ketus Alesha menatap tajam abangnya yang sedang tersenyum.