Until the End

Until the End
Rencana



Kumandang takbir terdengar di seluruh penjuru Nusantara. Suara indah tersebut menandai berakhirnya Ramadhan, bulan yang dimuliakan oleh umat Muslim. Selepas Maghrib, mereka merayakan malam kemenangan setelah sebelumnya selama satu bulan berpuasa.


Seolah telah menjadi tradisi, warga merayakan malam bahagia ini dengan berbondong-bondong keluar rumah, hadir di tempat umum dan kemudian bergabung dengan yang lain. Semua bersukacita.


Bergembira dengan datangnya Syawal memang tidak terhindarkan. Puasa ramadhan memang dirasa cukup melelahkan. Bahkan bagi sebagian muslim ada yang merasa puasa ramadhan sebagai kondisi yang merepotkan. Namun sebagai suatu kewajiban, puasa Ramadan harus tetap ditunaikan bagi setiap muslim yang memenuhi syarat. Demikianlah, ketika puasa Ramadan selesai, maka tanggal 1 syawal menjadi hari yang dirasa patut dirayakan.


Tidak ada yang salah dengan merayakan datangnya Hari Raya Idul Fitri. Karena memang sebetulnya Idul Fitri merupakan hari bahagia. Bahkan Rasulullah SAW pun bersabda, "Sesungguhnya Allah telah mengganti untuk kalian dua hari yang lebih baik dari dua hari raya itu; idul fitri dan idul adha." (HR Ahmad no: 12006 dan yang lainnya).


Disinilah mereka bertiga berada, di rumah orang tua Rey, mereka merayakan malam kemenangan bersama-sama dimana ada Ira, Kinan, Danu, Rey, Safira dan Alesha. Oh tentu jangan lupakan Fajar dan si kecil Meisa yang sangat menggemaskan.


Alesha hanya melihat kebersamaan keluarga ini tanpa ada niatan bergabung bersama mereka. Empat bulan lagi, Alesha tengah memikirkan kehidupannya setelah dia melahirkan, Alesha akan pergi jauh dari kehidupan mereka semua.


"Bayi ini akan menjadi saksi kalau aku telah memenuhi tugasku untuk memberikan mereka satu kebahagiaan lagi, setelah ini aku akan hidup bahagia untuk diriku sendiri tanpa adanya mereka di tengah-tengah kehidupanku" batin Alesha.


"Setelah anak ini lahir, maka akan ku serahkan tugasku kepadamu mba, maaf telah menyakitimu selama ini, setelah bayiku lahir maka kamu yang akan bahagia dan menjadi ibu,istri satu-satunya dalam kehidupan Mas Rey seperti semula"


"Aku tau kamu menyembunyikan identitasku kepada Mas Rey demi kebaikanmu sendiri, maka dengan ini aku akan membantumu mencapai bahagia bersama Mas Rey"


"Milikmu akan tetap milikmu,aku hanya meminjamnya sebentar, ah tidak. Mereka yang telah meminjamku sebentar"


"Kamu mikirin apa Sha?" ucap Safira yang membuatkan semua lamunan Alesha.


"Aku gak mikirin apa-apa kok Mba, cuma cepet banget ya Ramadan berakhir, padahal aku baru puasa tiga hari" ujar Alesha berusaha menutupi kegugupannya.


"Nggak papa Sha namanya juga perjuangan seorang ibu, jadi nikmati aja prosesnya" Alesha hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Safira,ia takut Safira tersinggung kalau sampai ia menjawab pertanyaan tersebut.


Ponsel Alesha berdering menandakan ada panggilan masuk, ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Asha masuk dulu ya mba" pamit Alesha memasuki kamar yang sudah tersedia di rumah Ira untuknya bermalam.


"Assalamualaikum" salam Alesha menjawab panggilan tersebut.


"Wa'alaikumussalam"


"Gimana Za?"


"Gue udah berusaha dan prosesnya kayaknya paling cepet baru selesai sekitar empat bulanan deh Sha, pas banget sama anak lo lahir"


"Oke makasih Za, tapi lo yakin empat bulan udah beres, soalnya setelah itu gue mau pergi dan gue gak mau waktu gue terbuang sia-sia karena proses perceraian ini terhambat"


"Percaya sama gue sha, tapi lo yakin bakal serahin anak lo gitu aja ke mereka?" tanya seseorang dari seberang sana penasaran.


"seratus persen yakin Za,kan emang dari dulu tujuan gue ya gini, tugas gue cuma ngandung anaknya dia aja udah"


"Gue dukung apa aja yang lo mau, tapi keluarga lo gimana?"


"Lo udah janji bakal bantu gue keluar dari masalah ini kan Za, jadi lo jangan tanggung-tanggung gitu dong, lo juga harus bantuin gue biar gak ada yang tau kalau gue pergi" ucap Alesha merasa kesal akan pertanyaan Friza sahabatnya itu.


"Oke Sha, ya udah kalo gitu gue tutup dulu ya assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam" jawab Alesha kemudian menghapus semua pesan dan panggilan dari Friza takut-takut Rey akan membuka ponselnya dan mengetahui semua rencana Alesha.


Persiapan Alesha sudah matang, bahkan Friza sudah membuat Visa dan pasport untuk Alesha.


Di tempat lain Friza tengah gelisah terhadap keinginan Alesha, di satu sisi ia bahagia akan status Alesha yang akan segera menyandang status single itu artinya Kaivan bisa bebas mendekati Alesha.


Tapi Friza juga kasihan dengan kehidupan Alesha yang selalu terkena banyak tekanan dari ayahnya selama ini.


*****


Hari Raya Idul Fitri merupakan momen besar bagi umat Islam di seluruh dunia.


Momen lebaran selalu identik dengan kembali ke fitrah dan saling memaafkan. Makna lebaran tak hanya sekadar kembali ke fitrah.


Idul Fitri juga dapat digambarkan sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah.


Safira dan Rey sedang berada di makam kedua orang tua Safira, mereka melakukan doa untuk orang tua Safira.


Safira berjongkok sambil menaburkannya bunga di atas makan orang tuanya, sedangkan Rey tengah membacakan doa untuk mertuanya.


"Maafin Safira baru datang lagi kesini, setelah ini Safira bakal rajin datang nemuin kalian" ucap Safira ketika selesai berdoa.


Rey membawa Safira pulang ke rumahnya, setelah itu dia berpamitan untuk berkunjung ke rumah keluarga Alesha untuk bersilaturahmi di tahun pertama lebaran Rey menjadi menantunya.


"Mba Fira, Alesha pamit mau ke rumah bunda dulu ya, mba jaga diri baik-baik di sini"


"Iya, titip salam sama keluarga kamu Sha, maafin mba kalau punya salah sama mereka"


"Pasti mba" ujar Alesha mengacungkan jempolnya.


"Ya udah fir, Mas pamit ya assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam Mas" jawab Safira.


Alesha dan Rey pergi dengan menaiki motor, di perjalanan Alesha banyak diam, sesekali dia berbicara hanya menjawab pertanyaan Rey saja.


Rey menyadari semua perubahan Alesha semenjak pulang dari rumah kedua orang tuanya, dia tidak tau apakah dia punya salah atau cuma perasaannya saja.


Sesampainya di sana Alesha langsung berjalan mendahului Rey memasuki rumahnya"Assalamualaikum ayah,bunda"salam Alesha.


"Wa'alaikumussalam, sini sayang" ajak Mega menuntun Alesha agar duduk disampingnya, tetapi Alesha langsung duduk di bawah Mega dan Bimo yang sedang duduk di sofa.


"Bunda, maafin Alesha kalo selama ini Alesha bandel gak pernah nurutin perkataan bunda, Alesha punya banyak salah sama ayah sama bunda. Ayah, Alesha juga minta maaf karena belum bisa jadi anak yang baik buat kalian"


Bimo langsung memeluk putrinya, Mega pun langsung bergabung memeluk suami dan anaknya.


"Nggak sayang, kamu anak yang baik buat ayah sama bunda" ucap Bimo mencium puncak kepala Alesha.


Alan mendengus kesal menatap kedua orangtuanya yang memeluk Alesha" Alan berasa anak tiri" ucap Alan yang di dengar ketiga orang yang sedang berpelukan itu.


"Cih Abang merusak suasana aja, kalo gitu sini-sini kita pelukan" ujar Alesha dengan nada dibuat-buat semenyebalkan mungkin.


"Lo belum minta maaf sama gue Sha, gue ini Abang lo"


"Nanti aja maafnya, kalo Abang udah kesel baru Alesha minta maaf" Alan langsung melotot mendengar ucapan adiknya. Alesha langsung memeluk Alan dengan erat seakan-akan ini adalah candaan terakhir mereka sebelum ia pergi, walaupun masih memiliki waktu empat bulan, tapi itu sangatlah cepat bagi Alesha. Jadi ia akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


Rey tersenyum melihat keakraban kakak beradik itu, ia beralih menatap mertuanya dan saling mengucapkan maaf satu sama lain.