
Rey mengepalkan tangannya memasuki rumah Juan, dia tidak akan membiarkan Juan mengusik rumah tangganya, cukup Reysha saja yang sudah berhasil Juan celakai.
"JUAN KELUAR KAMU."
"KELUAR BAJINGAN!!"
Juan yang sedang berada di atas tubuh Alesha pun seketika panik, tanpa pikir panjang ia keluar dari kamar melalui jendela yang ada di kamarnya.
Rey melangkahkan kaki memasuki kamar lelaki itu, matanya memanas saat melihat Alesha meringkuk tanpa busana dan hanya dibaluti selimut polos milik Juan.
"Alesha..." lirih Rey, lututnya melemas saat melihat keadaan istrinya yang jauh dari kata baik.
Alesha menatap lurus dengan pandangan kosong. Matanya sembab dan badannya bergetar. Rey pun melangkahkan kaki mendekat dan memeluk tubuh istrinya.
"Lepas!! Aku mohon lepasin aku Juan, aku gak mau, aku gak mau, Mas Rey tolong aku, aku nggak mau Mas, bawa aku pergi dari sini." teriak Alesha histeris mampu menyayat hati Rey.
Rey mengusap kedua sudut matanya yang mulai berair, cobaan apalagi yang sedang dihadapinya, anaknya yang tenggelam dan sekarang istrinya yang telah dilecehkan.
"Sayang, ini Mas. Kita pergi dari sini ya." ujar Rey dengan lembut.
"Nggak, nggak Mas Rey pasti marah kalau tau aku kaya gini, aku kotor aku nggak pantas lagi sama Mas Rey, dia udah pergi bawa anak-anak aku, aku mau mati, hidup aku nggak ada gunanya, aku kotor dan aku bukan ibu yang baik buat Reysha." tangis Alesha mencengkram erat selimut yang membaluti tubuhnya.
"Astaghfirullahaladzim" lirih Rey mendengar kata-kata Alesha.
Rey mengepalkan tangannya, ia akan mencari pria itu sampai ujung dunia pun, dia tidak terima dengan keadaan Alesha yang sangat mengenaskan. Tapi Rey berjanji, dia akan menutup rapat-rapat kejadian ini karena ini aib bagi Alesha. Rey takut banyak orang yang akan mencemooh istrinya dan membuat Alesha trauma.
"Sayang, ini aku, Rey." ujar Rey mengusap lembut wajah Alesha.
"Mas Rey? aku mohon jangan bawa anak-anak aku, aku nggak bisa hidup tanpa mereka Mas."
"Iya sayang, kita pulang ya, Reysha sama Haidar butuh kamu."
"Nggak-nggak, Aku kotor Mas, aku nggak pantes lagi jadi ibunya." teriak Alesha kembali histeris.
Sebagai manusia yang berakal sehat tidak ada yang dapat mentolerir perilaku pelecehan seksual. Ironis memang, Mereka yang menyalahkan pakaian terhadap peristiwa pelecehan seksual biasanya berargumen bahwa "tidak akan ada asap tanpa adanya api" dalam artian tidak akan adanya pelecehan seksual tanpa adanya pakaian 'mengundang' dari korban. Argumen lainnya dikarenakan korban tidak memakai pakaian yang menutup aurat sehingga wajar jika dilecehkan karena tidak mematuhi perintah agama.
tidak akan ada asap tanpa adanya api" benar. Namun, di perumpaan sebab-akibat itu apinya bukanlah pakaian pelaku tapi niat dan pikiran jorok dari pelaku sehingga timbullah pelecehan sebagai asapnya (akibat).
Yang kedua, mengenai argumen korban tidak memakai pakaian yang menutup aurat sehingga wajar jika dilecehkan karena tidak mematuhi perintah agama. Sebagai orang yang beragama Islam kita meyakini bahwa menutup aurat merupakan perintah agama, apabila kita membuka aurat berarti kita sudah melanggar perintah agama.
Sebagai manusia yang dianugerahi syahwat ataupun ketertarikan terhadap lawan jenis, agama mengajarkan bagaimana menundukkan pandangan bagi pria dan menutup aurat bagi perempuan. Keduanya dilakukan untuk menghindari terjadinya fitnah (kekacauan). Ketidakmampuan kita menundukkan pandangan tidaklah berarti jaiz (boleh) bagi kita melakukan pelecehan.
Maraknya pelecehan seksual terhadap perempuan murni dari niat dan pikiran kotor dari para pelaku. Tidak ada kaitannya dengan pakaian yang dikenakan oleh wanita. Sekalipun kita menganggap bahwa korban berpakaian terbuka dan 'mengundang', itu bukan alasan untuk membenarkan perilaku pelecehan. Sebagai manusia kita memiliki free will ketika adanya sesuatu yang 'mengundang' yaitu menundukkan pandangan ataupun melecehkan. Dan sesuatu yang 'mengundang' tidak otomatis mendorong kita untuk melakukan pelecehan seksual.
Sama dengan apa yang terjadi kepada Alesha, dia mengenakan pakaian sopan yang tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya, tapi apa? Lelaki masih bisa melakukan pelecehan seksual. Bukankah hal itu ada karena pikiran diri sendiri bukan karena pakaian yang dikenakannya.
"Maafin Mas sayang, gara-gara kecemburuan Mas kamu harus mengalami semua ini, Mas nggak bisa bayangin betapa sakitnya hati kamu saat suami kamu sendiri tidak percaya dengan kesetiaan istrinya."
"Ya Allah maafkan hamba yang telah lalai menjaga istri hamba, hamba hanya manusia biasa yang kadang mempunya rasa cemburu akan cintanya, tolong jangan biarkan air mata istri hamba mengalir terus-terusan, hati hamba sakit saat melihatnya."
"Mas janji akan mencari pria itu, Mas janji akan menghukumnya sendiri sayang." saat sedang menatap raut wajah istrinya, Rey dikagetkan dengan kedatangan Reysha yang memasuki kamarnya.
"Papa." lirih Reysha menatap wajah Rey dan Alesha bergantian.
"Jangan tinggalin Mama lagi, Kakak takut Om itu bawa pergi Mama." lirih Reysha membuat tidur Alesha terusik.
"Mama." panggil Reysha merentangkan kedua tangannya tetapi Alesha tidak merespon membuat mata Reysha berkaca-kaca.
"Mas Rey." panggil Alesha dengan mata yang berkaca-kaca, terpaksa Rey menurunkan Reysha dari pangkuannya.
"Kakak masuk ke kamar dulu ya, temenin adik, Mama mau istirahat dulu nggak mau diganggu." dengan perasaan kecewa, Reysha pun mengangguk dan berlari keluar dari kamar kedua orang tuanya.
"Kenapa sayang?" tanya Rey dengan senyum manisnya yang terdapat banyak luka didalamnya.
"Aku kotor, aku nggak pantas lagi buat kamu, maafin aku karena udah ngecewain kamu." lirih Alesha.
"Nggak sayang, jangan ngomong kaya gitu, ini musibah dan semua ini bukan salah kamu."
"Tapi aku kotor."
"Nggak sayang, Mas akan selalu ada buat kamu, maafin Mas karena lalai menjaga kamu untuk yang kedua kalinya."
"A-aku nggak mau sampai hamil, aku nggak mau hamil anak bajingan itu Mas, kalau aku sampai hamil aku mau mati aja."
"Astaghfirullahaladzim sayang, istighfar, kamu nggak boleh kaya gitu, anak itu anugrah walaupun dia terlahir dari hubungan halal maupun haram."
"Tapi aku nggak mau Mas, apa kamu sengaja biar bisa cerai dari aku kalau aku mengandung anak dari pria lain?"
"Kamu berpikir seperti itu Sha."
"Aku nggak mau, kalau kamu mau cerai sama aku kamu bisa talak aku sekarang juga."
Hati Rey terasa sesak saat mendengar Alesha meminta cerai dari dirinya, ini bukan yang pertama kali melainkan yang ketiga kalinya, pertama saat masih mengandung Reysha dan kedua setelah kepergian Safira karena Rey terus mengabaikannya.
Dan sekarang, Alesha meminta cerai kembali karena berpikir kalau dia sudah tidak pantas dengannya.
"Pernikahan bukanlah permainan Alesha, kamu selalu seperti itu, selalu meminta cerai saat ada masalah, kenapa kamu nggak pernah berpikir dewasa Alesha. Anak kita sudah dua dan mereka membutuhkan kedua orang tuanya. Jika memang kamu takut hamil maka sekarang aku akan pergi untuk membeli pil kontrasepsi." bentak Rey meninggalkan Alesha yang sedang menangis, pikiran Rey saat ini sedang kalut. Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju apotek untuk membeli apa yang Alesha inginkan.
Bersambung.........