
Sudah hampir dua bulan kepergian Safira, dan ingatan dimana Safira menghembuskan nafas terakhirnya di pelukannya masih sangat terasa.
Sikap Rey yang dulu hangat kini berubah menjadi dingin, bahkan Rey sering kali pulang larut dengan alasan sibuk urusan kantor.
Alesha dengan sabar membiarkan suaminya terus-menerus seperti itu walau dia sudah sangat lelah dengan rumah tangga yang mereka jalani.
Sekarang Alesha juga sangat tersiksa batin dengan sikap suaminya yang berubah dingin dan acuh terhadapnya dan putri kecil mereka.Sehingga Alesha sering berfikir ingin berpisah darinya,sikapnya yang begitu acuh terhadap dirinya seakan Alesha ini bukan istrinya. Rey seakan tidak ada rasa tanggung jawabnya di dlm keluarga kecilnya ini.
"Aku udah masak makan malam buat kamu Mas, aku juga udah siapin air buat kamu mandi." ujar Alesha menyalami tangan suaminya yang baru saja pulang.
"Aku gak laper" dingin Rey kemudian meninggalkan Alesha yang masih mematung kala Rey menyebut dirinya Aku bukan lagi Mas.
"Ya Allah sebegitu tega dan kejamkah sebagian laki-laki di dunia ini, hingga semudah itu menyakiti batin seorang istri yg dengan begitu setianya menerima segala kekurangan suaminya dan selalu tabah menghadapi jalan hidup yg sulit dan rela melakukan apa saja demi suaminya?"
"Apakah menanyakan suatu hal yg terlihat ganjal di depan mata itu salah,apakah Rey tidak melihat bahwa istrinya baru saja melahirkan buah hati mereka, Ya Allah sungguh aku tidak kuat menjalani ini semua? apakah salah jika aku tetap ingin melanjutkan perpisahan ini setelah perubahan sifat suamiku yang membuatku tersiksa?"
"Ya Allah, semoga suamiku kelak tidak akan pernah berbuat hal yg menyakiti perasaan dan jiwaku." lirih Alesha mengusap bulir air matanya.
Alesha lebih memilih tidur ketimbang melihat suaminya yang memasuki kamar Safira, selama dua bulan ini Rey tetap adil dalam artian akan tidur bersama Alesha jika itu jatahnya dan akan kembali ke kamar Safira walaupun istrinya itu sudah tiada.
Di dalam kamar Safira, Rey menangis dalam diam merindukan istrinya. "Maafin Mas, Fir.Mas belum bisa jadi suami yang baik buat kamu, dan gara-gara ini Mas takut menyakiti Alesha dan mengakibatkannya seperti kamu, Mas takut Fir,takut."
"Tapi karena itu kamu menyakiti Alesha Mas." ujar seseorang berambut panjang berdiri di hadapan Rey.
"Safira" lirih Rey melihat wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Alesha dan Reysha membutuhkan kamu Mas, jangan sampai kamu menyesal dan membuat Alesha benar-benar pergi meninggalkanmu.",
"Safira, Mas mohon jangan tinggalin Mas lagi." ujar Rey berusaha memeluk istrinya namun Safira malah menjauh.
"Jaga Reysha putri kita, jangan khawatir,aku akan tetap selalu di sisimu, aku bahagia sekarang di sini karena sudah tidak merasakan rasa sakit dan obat pahit." ujar Safira tersenyum kemudian perlahan menghilang dari pandangan Rey.
"Safira jangan pergi Humaira." lirih Rey menatap sekeliling kamarnya yang sunyi, dia tidak mimpi, Safira tadi mendatanginya.
Rey meraih ponselnya melihat jam berapa saat ini, setelahnya ia berjalan hendak memasuki kamar istrinya.
"Ya Allah yang maha pengampun lagi maha penyayang, maaf kan hamba jika hamba banyak berbuat salah, maafkan hamba jika mungkin ini jalan satu-satunya untuk hamba, sungguh hamba ingin memperbaiki rumah tangga ini namun dia malah menjauhi, aku sudah tidak kuat lagi ya Allah, saat suamiku sendiri bersikap acuh kepadaku dan anakku."
"Aku tidak masalah jika dia masih dalam keadaan berduka, tapi anakku juga membutuhkan ayahnya."
Dibalik pintu Rey mendengarkan keluh kesah Alesha dengan seksama, Rey memegang dadanya yang terasa sesak mendengar semua doa Alesha.
Setelah selesai berdoa, Alesha mengecek putrinya yang masih terlelap kemudian membaringkan tubuhnya di ranjang.
Sekarang Rey takut jika Alesha benar-benar menyerah dan memilih meninggalkannya sendirian, jika sampai seperti itu mungkin Rey memilih mati dari pada harus sendiri.
Setelah menunggu Alesha terlelap kembali, Rey memasuki kamar istri keduanya, ia menatap mata sembab Alesha dengan perasaan bersalah.
"Maafin Mas sayang, Mas terlalu berlarut-larut dengan masalah Mas.Sampai Mas lupa kalau kamu juga masih membutuhkan Mas Sha."
Penyesalan selalu datang di akhir sebuah perjalanan.Ketika penyesalan telah terjadi, kita mungkin tidak bisa memperbaikinya seperti sediakala.
******
Hari ini Alesha ingin pergi berjalan-jalan bersama Resa, dia malas meminta ijin kepada Rey, tetapi dia juga masih ingat kalau Rey masih suaminya.
Alesha sibuk bergelut dengan bahan-bahan dapur menyiapkan sarapan untuk suaminya. Setelah setengah jam berlalu, akhirnya semua makanan yang dimasak Alesha selesai.
Alesha berjalan menuju kamarnya dimana Reysha sedang bersama Rey, namun tatapan Alesha menajam saat tau jika Rey tidak benar-benar menjaga Reysha melainkan sibuk dengan gawainya.
"Rey Prayoga." bentak Alesha menggendong putrinya yang hampir terjatuh dari atas ranjang karena kelalaian Rey.
"Kalo kamu gak mau jagain Reysha, gak papa, aku masih sanggup jagain dia, selama ini aku selalu sabar sama sikap kamu, dan mungkin ini akhir dari semuanya, aku takut jika nanti Reysha kenapa-kenapa, jadi aku memutuskan untuk pi--"
"Nggak." potong Rey cepat dengan rahang yang mengeras menandakan jika kini ia sedang marah atas ucapan Alesha.
"Kamu apa-apaan sih." bentak Rey.
"Kamu yang apa-apaan, gara-gara kamu, Reysha hampir jatuh dan kalau dia kenapa-kenapa aku gak akan pernah maafin kamu dan bakal bawa Reysha jauh dari kamu."
"Iya aku salah, dan aku minta maaf, aku sibuk ngerjain urusan kantor yang udah beberapa minggu ini numpuk, lagian ayah mana sih yang mau anaknya kenapa-kenapa."
"Ayah seperti kamu yang mau anaknya kenapa-kenapa, selama dua bulan terakhir ini aku selalu sabar, sabar dengan sikap kamu yang cuek dan acuh terhadap aku dan Reysha, aku tau kamu masih berduka dan aku pun sama, tapi bukannya kamu sendiri yang bilang kita gak boleh berlarut-larut dalam kesedihan."
"Sekarang terserah apa mau kamu, yang pasti aku bakal gugat cerai kamu."
"Kamu gak punya hak untuk jauhi anak sama ayahnya sha." ujar Rey tidak terima.
"Aku berhak, aku gak mau anak aku kenapa-kenapa, mulai sekarang urusin hidup kamu sendiri, aku capek kaya gini, aku lebih baik hidup sendiri, dan memang keputusan aku dari dulu itu benar." Rey mematung dengan semua yang dikatakan istrinya, Alesha melangkahkan kaki dari rumah itu tanpa membawa apapun, tujuannya saat ini adalah rumah Maura ibu kandungnya, Alesha ingin bertemu ibu kandungnya saat ini juga. Ia ingin berada di dekapan ibunya di saat-saat seperti ini.