
Hampir semua orang tidak mengatakan Thank God it's Monday atau 'Terima kasih Tuhan, ini Hari Senin'.
Terutama sebagian Sobat Belia yang masih menduduki bangku sekolah atau seorang pelajar.
Hari Senin adalah awal hari setelah hari libur. Bagi sebagian pelajar mungkin masih ingin menikmati libur di hari Minggu.
Seperti kita ketahui bahwa hari Senin menjadi hari di mana masyarakat mulai kembali beraktivitas seperti biasa usai libur di akhir pekan.
Namun menemukan hari Senin bagi sebagian orang menakjubkan mudah dan terasa begitu berat. Ini karena mereka masih terbuai dengan liburan di akhir pekan.
Hari Senin adalah hari di mana pelajar harus upacara. Upacara yang dilakukan pada hari Senin mungkin membuat sebagian pelajar sedikit malas.
Rasanya sangat malas menerima kenyataan untuk kembali menjalani rutinitas di hari Senin.
"Hari yang cerah ini semoga Tuhan melimpahkan rahmat-Nya menciptakan dan pada kita semua." guman Haidar sambil menyiapkan buku-bukunya.
"Sayang, udah siap belum? ini Mama udah siapin makanan,"
"Bentar Ma, Haidar masih siapa-siapa belum pakai sepatu." jawab Haidar dari dalam kamarnya.
"Udah bawa sepatunya ke bawah, nanti Mama suapin kamu, biar kamu bisa siap-siap lebih cepet." ucap Alesha.
Haidar yang mendengar jika akan disuapi pun langsung bergegas turun sambil menenteng tas dan sepatunya.
Rey pun turun dengan jas di sampirkan di lengannya dan juga dasi yang belum rapi.
"Sayang, aku juga belum selesai, pakein dasinya." ujar Rey.
"Iya Mas, tunggu sebentar." jawab Alesha menunda piringnya dan berjalan menghampiri Rey.
Rey menunduk agar memudahkan Alesha untuk melakukan pekerjaannya, sedangkan Haidar hanya memutar bola matanya malas.
"Modus banget sih, padahal bisa pake sendiri." cibir Haidar.
"Manja banget sih udah gede masih mau aja di suapin." ujar Rey tak terima.
Haidar hanya mencibir dalam hati.
"Udah selesai, kamu makan dulu, aku suapin Haidar ya Mas." ucapnya.
"Mau pakai apa sayang?" tanya Alesha.
"Pakai apa aja, aku mau disuapi pakai tangan Ma."
"Siap kapten." ucap Alesha, sebenarnya dia juga siap dengan pakaiannya yang akan ia kenakan untuk bertemu klien untuk merancang gaun pernikahannya.
Alesha menyuapi Haidar dengan telaten sesekali mengusap sudut bibir putranya, bahkan terkadang Rey yang menyerobot suapan di tangan Alesha.
"Papa..." keluh Haidar saat lagi-lagi makannya di serobot.
"Papa juga mau disuapi Hai, masa kamu terus.".
"Papa udah besar malu sama anak." ujar Haidar.
"Kamu juga udah besar seharusnya malu sama Papa, liat Mama belum makan sedikitpun." ucap Rey tak mau kalah.
"Mama pagi ini nggak makan, ini kan senin jadi Mama mau puasa sunah hari senin."
Puasa Senin Kamis ini termasuk ibadah yang dilakukan dengan jangka waktu rutin setiap minggu. Tidak hanya tubuh yang dilatih menahan diri, tapi juga jiwa, mental atau perasaan seseorang.
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa hari Senin Kamis adalah waktu ketika Allah SWT membuka pintu surga.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada Hari Senin dan Kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni, kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan”. (HR Muslim)
Inilah manfaat puasa senin kamis yang pertama dari sisi pandangan Islam. Yaitu, untuk mendapatkan pahala sebanyak-banyaknya.
Rasulullah SAW memang diketahui rutin melakukan beberapa puasa sunnah, salah satunya adalah puasa senin kamis. Hal ini diungkapkan oleh istri nabi, Aisyah radhiyallu ‘anha: “Nabi selalu menjaga puasa Senin dan Kamis.” (H.R Tirmidzi dan Ahmad).
Rasulullah SAW bersabda: “Amal perbuatan manusia akan disampaikan pada setiap Senin dan Kamis. Maka akan ingin amalku diserahkan saat aku berpuasa,” (HR. Tirmidzi).
Puasa senin kamis yang dilakukan rutin akan melatih kedisiplinan seorang muslim. Sebab, setiap dua hari dalam seminggu seseorang akan dituntut mematuhi aturan-aturan puasa.
Setelah seseorang rutin melakukan puasa senin kamis, dampaknya akan baik bagi emosinya. Hawa nafsu yang meledak-ledak akan diredam dan mudah dikontrol.
"Kalau tau Mama puasa aku mana mau minta disuapin." ucap Haidar setelah makanannya habis.
"Udah-udah, Mama cuci tangan dulu. Biar semua ini bi Ijah yang beresin, kita berangkat takut telat." sahut Rey yang sudah keluar rumah karena akan memanaskan mobil terlebih dahulu.
"Aku tunggu di luar ya Ma." Alesha hanya mengangguk dan menuju dapur untuk mencuci tangannya.
Setelah mencuci tangan hingga bersih, Alesha pun menyusul kedua orang yang dicintainya karena memang setiap hari Alesha akan diantarkan Rey ke tempatnya bekerja setelah mengantar Haidar.
"Awas ya belajar yang bener." ucap Rey menasihati putranya.
"Iya Pa, lagian kapan sih Haidar nggak bener, perasaan belajar udah, nurut juga udah, tapi Papa masih nyangka Haidar nggak bene aja." keluh Haidar yang duduk di belakang kemudi.
"Kan Papa cuma kasih nasihat, oh iya katanya di sekolah ada yang sering ngasih perhatian sama kamu, memang siapa?" tanya Rey lagi.
"Bella, Haidar nggak suka kalau dia deket-deket, dia juga sengaja tiap hari ngasih bekal sama Haidar, padahal Haidar udah bilang kalau Mama juga selalu ngasih bekal buat aku." jawab Haidar.
"Sekali-kali mending kamu hargai dia, tapi sebagai teman jangan lebih karena Mama nggak suka kalau anak Mama ada yang pacar-pacaran." sahut Alesha.
"Haidar kan tau larangan berpacaran Ma, mana mau Haidar ngelanggar larangan itu." jawabnya.
"Kenapa nggak kita jodohin aja nanti sama anaknya Friza, dia juga seumuran Haidar kan, siapa sih namanya?" ucap Rey lagi.
"Nesa."
"Nggak, aku nggak setuju Mas, lagian Haidar masih SMP udah mikir jodoh-jodohin aja, Nggak semuanya perjodohan itu berhasil. Sekarang Mama lagi pusing mikirin masa depan Reysha tapi Papa malah mikirin jodohin Haidar. Di jodohin itu nggak enak."
"Allah selalu punya skenario terindah untuk hamba-Nya. Kita hanya perlu bersabar dan ikhlas dalam menanti. Bersyukur atas semua kebaikan dan ujian yang Allah berikan pada kita. Kita hanya perlu menjadi hamba-Nya yang taat" lanjur Alesha.
"Iya Ma, tapi Papa juga setuju sih kalau sama Nesa, dilihat dari keluarganya aja dia udah dari keluarga baik-baik, apalagi ibunya yang bisa merubah sikap Friza."
"Aku setuju juga Mas, tapi balik lagi kalau memang jodoh ya dia jadi menantu kita, kalau bukan ya kita bisa apa." sahut Alesha dengan santai.
"Ini lagi bicarain apa sih, dari tadi jodoh-jodoh terus, emang kayanya Papa ngebet banget pengen punya menantu, padahal Haidar kan pria harus jadi pemimpin dan pastinya itu berat." sahut Haidar.
Ia turun ketika sudah berada di depan sekolahnya.