Until the End

Until the End
Tekanan



Rey mengeraskan rahangnya dan menatap tajam wanita paruh baya yang ada di depannya.


"Maksud ibu apa?"


"Kamu ingat bukan pesan terakhir ayahmu, dia ingin kamu menikah dengan anak temannya, lagian Safira juga udah jelas-jelas nggak bisa punya anak, buat apa lagi pernikahan kalian dipertahankan," ucapan Mega mampu menusuk hati Safira, ia akui jika dirinya itu mandul tapi bisakah ibu mertuanya tidak mengungkit penyakitnya.


"Tapi aku sudah menikah Bu, bahkan umur pernikahan kita pun udah 5 tahun, dan ibu harus tau kalau aku sangat mencintai Safira," tegas Rey menolak permintaan konyol ibunya.


"Kamu mau membantah ibu, di setiap pernikahan pasti ingin memiliki keturunan Rey, ibu juga ingin menimang cucu, anak dari kamu," tangis bu Ira pecah, ia tidak memisahkan Rey dan Safira, tapi ia ingin anaknya menikah lagi dan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya dengan keluarga kecilnya.


Safira ingin menenangkan ibu mertuanya dengan cara memeluk, tapi Ira langsung menghindari pelukan Safira.


"Gak usah pegang-pegang ibu fir, ibu hanya minta kamu untuk ikhlaskan Rey menikah lagi, ibu janji nggak akan misahin kalian berdua,"


"Ibu aku sudah pernah bilang kalau aku gak akan pernah mau menikah lagi, lagi pula aku hanya orang miskin bu mana bisa aku menghidupi dua istri,"


"Kamu bisa mengolah perusahaan bersama Danu, bahkan kamu punya banyak uang, tapi kamu menolak pemberian ayah kamu,"


"Rey hanya ingin belajar mandiri bu, udahlah Rey mau pergi ngajar," ujar Rey pergi meninggalkan rumahnya dengan perasaan kesal.


Bagaimana tidak kesal pagi-pagi ibunya datang dan membuat keributan di rumahnya, Rey akui dia juga ingin memiliki anak, tapi dia tidak ingin menyakiti hati Safira dengan mengungkit-ungkitnya.


Setelah hampir 10 menit mengendarai motornya, akhirnya Rey sampai di sekolah tempat ia mengajar, Rey memasuki ruangannya untuk mengambil buka absen lalu bergegas memasuki ruang kelas XII.


Walaupun Rey sudah hampir setahun bekerja disini tetapi ia tidak hafal dengan muka murid-muridnya karena Rey tidak pernah memandang lawan jenis, ia akan menundukkan pandangannya ketika berpapasan dengan yang bukan mahram.


"Assalamualaikum," salam Rey memasuki ruang kelas.


"Wa'alaikumussalam,"


Baiklah anak-anak kita akan bahas materi minggu lalu, materi minggu lalu yaitu tentang sabar, ada yang bisa menjelaskan materi kali ini,"


Semua siswa diam dan saling pandang hingga akhirnya mereka menunjuk Alesha agar menjelaskannya.


"Alesha pak"


Sedangkan Alesha menatap tajam teman-temannya yang seenaknya menunjuk Alesha.


"Baik Alesha silahkan jelaskan apa itu sabar," ujar Rey menatap sekilas Alesha.


Alesha menghela nafas panjang sebelum menjelaskannya.


"Sabar adalah suatu sikap menahan emosi dan keinginan, serta bertahan dalam situasi sulit dengan tidak mengeluh. Sabar merupakan kemampuan mengendalikan diri yang juga dipandang sebagai sikap yang mempunyai nilai tinggi dan mencerminkan kekokohan jiwa orang yang memilikinya," jelas Alesha menarik nafasnya sebelum melanjutkan penjelasannya.


"Kesabaran dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci penting, karena kesabaran seseorang akan dibalas dengan kebaikan, jika orang yang bersabar itu tidak menceritakan kesabarannya pada orang lain dan tidak merusaknya dengan riya'. Seorang pemimpin yang mempunyai kesabaran yang tinggi, in syaa Allah akan selalu menemukan jalan keluar saat menghadapi masalah. Di samping itu dalam kehidupan sehari-hari hendaknya bergaya hidup sederhana, seperti yang telah dicontohkan Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz. Gaya hidup sederhana akan menjadikan tameng untuk tidak menjadi bermegah-megahan yang menuruti hawa nafsu,"


Rey menatap kagum muridnya yang dengan lantang menjelaskan materi kepada teman-temannya, tanpa disadari ia tersenyum tipis kearah Alesha, Alesha yang melihat senyum tipis Rey langsung membuang muka.


"Baik saya lanjutkan, sabar juga terbagi menjadi tiga macam,"


"Dalam sebuah hadits, diterangkan tentang macam-macam sabar dan juga ganjarannya. Hadis itu berbunyi: "Ruwiya an Nabiyyi SAW annahu qala: as-shabru tsalasatun, shabrun ala at-tha'ati wa shabru alal-mushibati wa shabru alal-ma'shiyati hatta yarudduha bihusni aza-iha kataballahu lahu tsulutsu miati darajatin wa man shabara ala at-tha'ati kataballahu lahu bisittumiati darajatin wa man shabara alal-ma'shiyati kataballahu lahu tis'amiati darajatin,".


Yang artinya: "Dari Nabi SAW, beliau bersabda: sabar itu ada tiga macam. (Antara lain) sabar dalam melaksanakan ketaatan, sabar dalam menghadapi musibah, dan sabar dalam meninggalkan maksiat"


"Barangsiapa sabar dalam melaksanakan ketaatan, maka Allah menetapkan 600 derajat baginya"


"Barangsiapa sabar dalam meninggalkan maksiat, maka Allah menetapkan 900 derajat baginya"


Alesha mendengarkan penjelasan Rey dengan seksama, ia memang wanita yang susah diatur bahkan dia banyak berteman dengan banyak pria, tapi dalam belajar ia akan bersungguh-sungguh, ia juga sering mendengarkan kajian walau nantinya akan masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.


Alesha juga tau mana dosa dan mana tidak namun ia tetap melanggar aturan tersebut, karena Alesha pernah bilang iya akan berubah ketika ada seorang pria yang mampu membimbingnya menjadi lebih baik.


"Baik anak-anak materi kali ini sudah selesai dan sekarang kalian boleh istirahat" ujar Rey kemudian keluar dari ruang kelas.


*****


Alesha sedang menunggu kakaknya didepan gerbang sekolah, hari semakin gelap karena langit tengah mendung, sudah setengah jam Alesha berdiri disini namun tidak ada tanda-tanda Alan akan menjemputnya.


Sebuah motor berhenti di depan Alesha, ia adalah Rey yang akan pulang, namun ia melihat salah satu muridnya tengah berdiri didepan gerbang sendirian.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumussalam"jawab Alesha


"Kenapa belum pulang?" tanya Rey


"Saya nunggu jemputan pak, tapi kayaknya bang Alan telat jemput saya"


"Tapi kayaknya hujan bakal turun sebentar lagi"


"Ya saya juga tau pak orang ini mendung ya pasti hujan bakal turun"


"Ya udah kalo gitu saya pulang dulu, maaf saya tidak bisa mengantar kamu pulang karena kita bukan mahram"


Alesha mendengus kesal, lagian siapa juga yang mau di anterin sapa dia, Alesha hendak menjawab namun tiba-tiba temannya yang bernama Friza datang menghampirinya.


"Woy sha" teriak Friza melangkahkan kaki mendekati Alesha, sedangkan Rey mengerutkan keningnya ketika seorang laki-laki remaja menghampiri Alesha.


"Ngapain lo masih disini?" tanya Friza


"Gue nunggu Abang gue tapi dia gak dateng-dateng, mumpung ada lo disini jadi lo anterin gue pulang ya" ujar Alesha dengan memasang puppy eyes dihadapan Friza membuatnya bergidik ngeri.


"Cantik lo kaya gitu, yaudah yok pulang" ajak Friza


Alesha menatap Rey yang masih memperhatikan dirinya dan Friza.


"Kalo gitu Alesha duluan ya pak assalamualaikum" salam Alesha


"Wa'alaikumussalam" jawab Rey menatap kepergian Alesha dengan seorang lelaki.


Didalam perjalanan menuju rumahnya, Rey selalu terbayang wajah Alesha, ia seperti mengenal sebelumnya tapi dimana, wajah Alesha tidak asing menurut Rey, pusing memikirkan hal tersebut sampai-sampai Rey tidak sadar kalau dia sudah memasuki area rumahnya.


Rey tinggal di salah satu rumah sederhana yang dibeli hasil kerja kerasnya sendiri, ia bahkan meninggalkan kekayaan orang tuanya dan lebih memilih hidup mandiri hasil jerih payahnya, bahkan sering kali dia kesusahan akan masalah ekonominya namun Safira selalu meyakinkan Rey kalau mereka pasti bisa melewati itu semua.