Until the End

Until the End
Hari pertama di keluarga Prayoga



Sejak subuh Nesa sudah bangun dari tidurnya, ia membereskan tempat tidur terlebih dahulu kemudian mengambil wudhu untuk menunaikan kewajibannya.


Ainun selalu mendidik Nesa agar menjadi wanita sholeha, karena Nesa adalah satu-satunya harapan Ainun dan Friza.


"BI Ijah ada yang bisa Nesa bantu?" tanya Nesa melihat bi Ijah sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Astaghfirullah neng Nesa ngagetin aja, nggak usah neng, mending siap-siap sama peralatan sekolahnya, bentar lagi juga pasti bu Alesha turun kok." ucap bi Ijah.


"Aku udah nyiapin semua bi dari semalem, jadi dari pada aku diem aja, boleh kan kalau bantu-bantu di sini." kata Nesa.


"Boleh tapi cuma potong-potong sayur aja ya neng, takut nanti baju neng Nesa kotor." jawab bi ijah.


Nesa pun mengangguk dan mulai mengerjakan pekerjaannya.


Seorang anak dapat mencapai kesuksesan berkat didikan dan kasih sayang orang tua. Maka, wajib bagi seorang anak menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya dengan setulus hati serta tidak segan membantu mereka.


Membantu orang tua adalah salah satu wujud rasa hormat anak kepada orang tua. Kesadaran untuk membantu orang tua dapat dibentuk oleh pola asuh yang baik sedari kecil.


pola asuh adalah pola interaksi yang terjadi antara orang tua dengan anak. Pola asuh berkaitan dengan cara penerapan aturan, nilai, norma, perhatian, kasih sayang, dan sikap dari orang tua untuk dijadikan panutan oleh anak.


Perlu ditanamkan sejak anak masih kecil bahwa membantu orang tua bukanlah beban, akan tetapi sebuah tugas yang kelak akan bermanfaat untuk hidup mandiri.


Dan Ainun menanamkan nilai-nilai untuk Nesa agar selalu membantu pekerjaannya di rumah senantiasa agar putrinya itu tidak manja suatu saat nanti.


"Nesa pagi-pagi udah rajin banget sih, nggak nyangka banget Tante sama kamu." ucap Alesha yang baru saja tiba di dapur.


"Eh Tante, dari pada Nesa diam aja mending Nesa bantu-bantu kan." kata Nesa.


"Pasti Ainun bangga banget punya anak kaya kamu, Tante jadi inget Kak Reysha deh, pasti seru kalau masih ada dia di sini." ucap Alesha.


"Loh iya Kak Reysha dimana Tan?" tanya Nesa.


Alesha pun tersenyum tipis, mungkin Friza dan Ainun tidak menceritakan tentang pernikahan Reysha dan Azzam.


"Ngikut suami." jawab Alesha.


"Hah?" bingung Nesa.


"Kak Reysha udah nikah jadi ikut suami, ayah kamu juga dateng kok pas nikahannya." jawab Alesha.


Nesa hanya mengangguk mengerti, ia tidak mau ikut campur atas urusan keluarga ini.


"Ya udah Tante balik ke kamar dulu ya, biasa mau liat Mas suami dulu." canda Alesha.


"Bu Alesha makin tua makin romantis aja sih, jadi ngiri." jawab bi Ijah.


"Lah bi Ijah kan bisa mesra-mesraan juga sama Mas suami." jawab Alesha.


"Malu bu udah bau tanah." jawab bi Ijah mengundang gelak tawa Alesha dan Nesa.


Alesha pun pergi ke kamarnya untuk membangunkan Rey yang sehabis sholat subuh tertidur kembali.


"Mas, bangun." Alesha menggoyangkan badan suaminya.


"Eungh" lenguh Rey sambil mengeratkan selimutnya.


"Mandi sana abis ini, katanya kamu mau ngumpul sama temen-temen kamu bahas kerjaan, Ini udah hampir jam setengah tujuh loh Mas." ujar Alesha mengecup kening suaminya.


"Astagfirullahaladzim, aku hampir lupa Sha" ujar Rey langsung duduk membuat kepalanya pening.


"Akh" pekik Rey memegangi kepalanya.


"Morning kiss yang" ujar Rey menunjuk bibirnya, Alesha tersenyum geli dan langsung mengecup singkat bibir suaminya kemudian kembali ke meja makan menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya.


"Assalamualaikum Ma." sapa Haidar duduk di meja makan.


"Wa'alaikumussalam sayang." jawab Alesha yang sedang menyiapkan secangkir teh untuk Rey dan segelas susu untuk Haidar serta beberapa lembar roti yang sudah di baluri selai.


"Sarapan dulu itu ya jangan lupa dihabisin."


"Iya Ma!" ucap Haidar mengangguk patuh.


"Nesa mau makan nasi atau sarapan roti?" tanya Alesha.


"Nesa nggak biasa makan nasi di pagi hari tan." jawab Nesa.


"Iya kita juga nggak terlalu suka, makannya bibi biasa masak cuma buat bekal aja." sahut Alesha meletakan roti di piring Nesa.


"Makasih tan."


"Sama-sama cantik."


"Papa mana Ma? Kok belum juga turun." tanya Haidar.


"Papa masih di kamar, hari ini nggak ke kantor cuma mau ngumpul sama teman-teman tapi tetap bahas kerjaan sih." jawab Alesha.


"Gimana Nes, tidurnya nyenyak?" tanya Rey yang baru saja ikut bergabung di meja makan.


"Alhamdulillah nyenyak Om." jawab Nesa.


Semua orang pasti pernah merasakan yang namanya jadi anak sekolah. Ada yang akan mengatakan kalau masa sekolah itu ribet lah, bikin kesel lah, dll. Tapi, gak sedikit juga yang mengatakan bahwa masa-masa sekolah itu adalah masa paling indah. Ketika lulus SD dan masuk SMP, kita akan mengatakan kalau masa SD lebih indah. Begitupun ketika kita masuk SMA, kita akan lebih memilih masa SMP sebagai masa paling indah. Pun ketika kuliah, rasanya masa SMA lebih enak.


Yang pasti, semua masa sekolah itu adalah masa yang campur aduk. Ada keselnya, horrornya, lucunya, serunya, dll. Intinya, masa sekolah itu adalah masa yang ngangenin


"Oh iya Haidar hari ini Pak Rangga bakal mulai dateng buat ngajar lagi, sekalian aja Nesa ikut belajar ya?" tanya Rey.


"Belajar apa Om?" tanya Nesa.


"Belajar ngaji, ya bukan cuma ngaji sih, yang pasti Pak Rangga akan bimbing kalian." jawab Rey.


"Emang boleh Nesa ikut?"


"Tentu saja boleh dong sayang, Tante juga setuju kalau kamu ikutan, lagian pasti banyak ilmu-ilmu yang bermanfaat yang di ajari Pak Rangga." sahut Alesha.


"Iya Nesa mau."


"Mas udah selesai Sha, nanti Haidar sama Nesa tinggal nyusul aja ke mobil, soalnya Om mau panasin dulu mobilnya." ujar Rey diangguki Nesa dan Haidar.


"Iya Pa."


"Iya om."


Alesha pun membereskan bekas makanan sebelum dia juga ikut menyusul suaminya karena memang hari ini Alesha akan tetap ke butik.


"Udah semua?" tanya Rey melihat Alesha, Haidar dan Nesa.


"Udah Mas." jawab Alesha.


Mereka pun memasuki mobil dengan Haidar yang sekarang duduk di samping Rey sedangkan Alesha duduk di belakang menemani Nesa. Karena Alesha tau pasti Haidar tidak akan mau berdekatan dengan lawan jenisnya.


Didikan Rey memang baik, tetapi dia juga sedikit gagal akan mendidik putrinya, semoga saja nanti Reysha di berikan hidayah agar bisa berubah seperti apa yang orang tuanya mau.