Until the End

Until the End
Kesedihan



Alesha baru saja sadar dari pingsan, ia langsung menangis sesegukan mengingat penyebabnya pingsan adalah Safira.


"Sayang, kamu udah bangun?" tanya Rey menghampiri Alesha sambil menggendong Reysha.


"Bilang sama aku kalau ini cuma mimpi Mas." lirih Alesha menutup kedua wajahnya tidak sanggup membayangkan jika Safira sudah tiada.


"Kamu yang ikhlas ya sayang, Mas pun sama seperti kamu, Mas sakit melihat salah satu istri Mas harus pergi."


Dalam setiap kehidupan manusia tentu saja selalu ada rintangan dan hambatan yang terus menghadang.


Orang-orang sekitar tentu saja akan berusaha menguatkan dengan menyebut kata sabar maupun ikhlas. Tentu saja kedua kata tersebut sangat mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dijalankan. Meskipun demikian, kamu harus tetap tabah dalam menghadapi beragam cobaan.


Sabar menjadi salah satu cara untuk bertahan dalam menghadapi cobaan. Namun, menjadi sabar bukanlah hal mudah. Butuh jiwa yang besar untuk dapat mempraktekkannya. Selain bersabar, berdoa juga jalan untuk menghadapi sebuah ujian.


"Ini seperti mimpi buruk bagi Mas, kehilangan wanita yang menemani Mas baik suka maupun duka, dia yang rela berbagi suami, dia istri terbaik bagi aku walaupun dia bukan yang terbaik untuk mereka."


Tidak ada seorang pun yang bisa menghindar dari kematian yang sudah ditakdirkan Allah SWT. Kematian tidak memandang usia, jabatan, paras, waktu, dan lain sebagainya.


Tak ada yang abadi di dunia ini. Kematian adalah sebuah kepastian yang pasti menghampiri setiap manusia. Dunia ini hanya tempat persinggahan untuk menuju rumah di akhirat.


"Kenapa orang-orang yang aku sayang pergi begitu cepat." ujar Alesha menatap lurus dengan pandangan kosong.


Mungkin bagi Alesha semuanya tidak adil, semua orang yang dia sayangi lebih dulu di panggil sang Maha Kuasa.


"Ikhlas ya sayang, jangan buat langkah Safira menjadi berat, doakan dia, maafkan semua kesalahannya."


"Kenapa harus Mba Safira yang pergi, kenapa bukan aku?"


"ALESHA" bentak Rey tidak suka mendengar ucapan istrinya.


Rey mencengkram kedua bahu Alesha" Apa kamu sadar apa yang sudah kamu katakan? apa kamu gak mikirin aku dan anak kita?"


"Pikirin baik-baik Alesha, jangan menjadi beban pikiran aku lagi, aku kacau Sha kacau." ujar Rey meninggalkan Alesha dengan raut kekecewaan yang mendalam.


Salah satu penghargaan tertinggi seorang wanita adalah menjadi seorang istri yang berharga dalam hidup suaminya.


Menikah dan setelahnya memiliki kehidupan rumah tangga yang bahagia merupakan dambaan setiap orang.


Sayangnya, tidak semua orang beruntung memiliki kehidupan pernikahan yang ia dambakan.


Perasaan kecewa terhadap pasangan kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Rey pun tengah mengalami itu semua dimana ia merasa gagal menjadi seorang suami untuk kedua istrinya.


Ada empat persyaratan dalam setiap pernikahan yang membahagiakan. Yang pertama adalah iman, dan sisanya adalah kepercayaan. Tapi Rey, dia percaya pada Safira tapi Safira tidak mempercayainya hingga menimbulkan kerumitan dalam rumah tangga yang berusaha Rey bina.


"Kenapa serumit ini hidupku, aku berusaha ikhlas dan sabar menghadapi ini semua, tapi kenapa tidak ada satu pun yang tulus mencintaiku seperti aku yang tulus mencintai mereka berdua, bahkan aku tidak pernah marah atas sikap Safira yang menipuku hanya karena ingin ku peristri, aku tidak marah ketika Alesha masih mencintai pujaan hatinya, tapi aku juga punya rasa kecewa saat mereka ingin meninggalkanku begitu saja." lirih Rey menatap langit malam menikmati sejuknya malam dengan penuh kesedihan.