Until the End

Until the End
Ganendra grup



Hari ini Resa sahabat Alesha berkunjung ke rumahnya, kebetulan waktu sudah hampir waktunya makan siang, maka Safira akan pergi ke kantor Rey untuk membawakannya makanan. Karena jarang sekali Alesha mau mampir ke kantor Rey, dia pernah berkata lebih pantas Safira yang menemaninya di kantor dari pada Alesha.


"Selamat siang Bu Safira." sapa karyawan yang mengetahui jika Safira istri dari bosnya.


"Siang." jawab Safira tersenyum ramah, meski Rey memiliki dua istri tapi mereka sangat menyukai keduanya sebab mereka sama-sama memiliki daya tarik sendiri, Safira dengan ke ramahannya dan Alesha dengan kebaikannya.


Safira melangkahkan kaki memasuki ruangan Rey, namun sebelum memasuki ruangan suaminya sekertaris Rey menatap sinis Safira yang membuatnya tidak mengerti.


"Dua-duanya gak ada yang cantik, sok alim semua, mana tampilannya kampungan lagi." cibir sekertaris tadi setelah kepergian Safira, ia merasa jika dirinya lah yang lebih pantas bersanding dengan Rey sebab dia memiliki wajah cantik dan tubuh yang bagus, apalagi pakaiannya yang kekinian tidak seperti kedua istri Rey yang selalu memakai baju panjang.


Dia merasa dirinya paling menarik sampai melupakan fakta jika seorang wanita di wajibkan menutup auratnya.


"Assalamualaikum Mas." salam Safira memasuki ruangan Rey.


"Wa'alaikumussalam sayang." jawab Rey sambil merentangkan kedua tangan agar Safira masuk kedalam pelukannya.


Tentu saja Safira langsung masuk ke dalam pelukan Rey, dia merindukan suaminya, merindukan kisah mereka berdua yang kini harus bertiga.


"Wah, kamu masak apa hari ini."tanya Rey melihat paper bag yang berisi makanan di atas meja.


"Ini aku bawain tempe oreg, tumis kangkung sama ayam goreng." ujar Safira membuka satu persatu makanan yang ia bawa.


"Wah kayanya enak nih."


"Sini Mas." ajak Safira menyuruh Rey agar duduk di sofa yang ada di dalam ruangannya.


"Suapin ya." ujar Rey duduk di sebelah Safira.


Keharmonisan keluarga, dua kata yang penuh makna. Dan Rey menginginkan berada di keluarga yang harmonis, menerima dan menghormati satu sama lain, sayangnya dia lupa jika tidak selamanya menerima dan menghormati dasar dari keharmonisan keluarga.


Cinta pertamanya terenggut, berpisah dengan ibu kandungnya, dan sekarang ia dipaksa harus menjadi istri kedua oleh ayahnya. Apakah seorang ayah tega membiarkan anaknya dalam posisi Alesha?


Alesha pikir semua yang terjadi dalam hidupnya baik-baik saja, tapi tidak saat dia tau ayahnya seperti apa, dia rela mengusir ibunya hanya demi wanita kedua, dan sekarang dia malah menempatkan Alesha di posisi kedua.


Memang benar kasih sayang ayahnya tidak bisa di ragukan lagi, tapi ada sedikit rasa kecewa di hatinya dengan pola pikir Bimo.


Safira menyuapi Rey dengan telaten, dia tidak tau apakah besok atau nanti masih bisa melihat Rey seperti ini.


"Makasih Humaira." ujar Rey menerima air minum yang di berikan Safira.


Tok tok tok


Pintu ruangan Rey terbuka menampilkan Nia Sekertarisnya sedang berdiri di ambang pintu ruangannya.


"Permisi Pak, sebentar lagi meeting dengan Ganendra grup akan segera di mulai." ucap Nia.


"Baik, saya akan segera ke ruang meeting." ucap Rey kemudian bersiap-siap ke ruangan meeting.


"Maaf ya sayang, Mas harus meeting. Kayanya bakal lama deh, jadi kamu gak papa kan Mas tinggal?" ucap Rey merasa tidak enak karena harus meninggalkan Safira.


"Nggak apa-apa kok Mas, lagian aku juga harus pulang, kasian Alesha di rumah."


"Ya udah hati-hati ya sayang." ucap Rey


"Iya Mas, kalo gitu aku pamit ya, assalamualaikum." salam Safira mencium punggung tangan suaminya. Rey menjawab salam Safira kemudian mencium singkat kening istrinya.


Nia yang melihat drama dari wanita yang ia anggap kampungan itu mendengus kesal, sungguh rasanya ia ingin menggantikan Safira saat ini juga agar bisa bermesraan dengan bossnya.