
Rey keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Ia menghampiri istrinya yang tengah duduk disofa menghadap jendela. Lalu melingkarkan tangannya diperut Alesha
"Sayang" ucap Rey dengan nada lembut.
"Mas pake baju sana Asha mau bantuin mba Fira buat sarapan" ujar Alesha berusaha melepaskan pelukan suaminya.
"Hey kamu masih marah hm? Saya minta maaf" ucap Rey mengeratkan pelukannya.
"Mas mending pake baju deh, nanti bisa-bisa telat"
"Emangnya kenapa? Kamu mau pegang roti sobek saya hm? Gak papa sayang, dari pada kamu melototin roti sobek cowok lain yang bukan mahram mending pegang roti sobek mas aja dapet pahala" goda Rey menaik turunkan alisnya.
"Udah deh cepetan pake baju"
"Sini peluk dulu" Rey membalikan tubuh Alesha dan menariknya kedalam pelukan.
Alesha merutuki dirinya karena detak jantungnya berdetak lebih cepat, jika saja dia sedang tidak marah pasti dia akan membalas pelukan Rey.
Rey melepas pelukannya lalu menangkup wajah Alesha dan menggesekan hidungnya, Hingga pada akhirnya Rey mencium wajah Alesha bertubi tubi membuatnya geli.
Cup
Cup
Cup
Alesha menegang kala Rey menciumnya bertubi tubi, ia merasakan banyak ribuan kupu kupu berterbangan didalam perutnya, suaminya itu bisa saja membujuknya, tapi kali ini Alesha akan tetap mendiaminya.
"Mas Rey apaan sih mending cepet pakai baju nanti telat"
"Cariin" rengek Rey dengan nada manja membuat Alesha mati-matian menahan tawa karena baru kali ini melihat Rey merengek.
"Cari sendiri" ketus Alesha
"Dosa loh sha gak ngurusin suami"
"Ck! Iya iya"
Alesha menghentak hentakan kakinya dengan bibir yang mengerucut, setelah menyiapkan pakaian untuk Rey, ia segera turun untuk membantu Safira.
"Selamat pagi mba cantik" sapa Alesha riang melihat Safira sedang memasak.
"Assalamu'alaikum sha" tegur Safira.
"Hehe assalamualaikum mba cantik istrinya mas Rey yang paling tampan tapi lebih tampan Jung Jaehyun seorang" ucap Alesha terkekeh.
"Wa'alaikumussalam istrinya mas Rey"
"Ih lebay deh mba" ujar Alesha sambil memotong sayuran.
"Kan kamu yang duluan" ucap Safira memutar bola matanya malas, ia senang memiliki adik madu seperti Alesha yang mampu membuatnya tersenyum setiap saat.
"Ekhem" deheman keras itu membuat mereka berdua menoleh ke arah laki-laki yang tengah bersandar di tembok dengan satu tangan yang ia masukan ke kantong celana membuat kedua wanita tersebut menatap kagum suaminya.
"Kenapa mas?" tanya Safira
"Tadi denger denger ada yang muji muji pria lain, siapa?" tanya Rey dengan raut wajah datar, sedangkan Alesha memutar bola matanya malas karena akan terjadi drama di pagi hari.
"Alesha" ujar Alesha menatap datar suaminya.
"Pagi-pagi udah halu"
"Emang Jaehyun ganteng" ujar Alesha berjalan melewati Rey dengan membawa segelas air putih dan sepiring nasi goreng ditangannya. Ia melahap makanan tersebut tanpa memperdulikan Safira dan Rey yang menatapnya.
"Alesha mau minta ijin sama---" ujar Alesha memecahkan keheningan.
"Nggak, pasti kamu bakal keluyuran gak jelas lagi kan" potong Rey cepat tanpa membiarkan Alesha melanjutkan perkataannya.
"Ish main potong-potong aja, Alesha mau minta ijin karena tiga hari lagi Alesha bakal ikutan olimpiade" kesal Alesha melanjutkan makannya dengan cepat.
"Kok mas gak tau sih"
"Doain Alesha ya mba biar Alesha menang" ujar Alesha memeluk Safira dari samping.
"Pasti,mba pasti akan selalu doain kamu"
Alesha adalah remaja yang tergolong memiliki iman naik turun, kadang ia akan selalu mendekatkan diri kepada sang pencipta, tapi terkadang dia juga akan jauh sejauh jauhnya, dia memiliki dua sifat, ia akan bersikap polos,tutur kaya yang lembut dan juga menjaga pandangan kala bertemu dengan orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Namun jika ia sudah bersama orang terdekat seperti sahabatnya, ia akan berubah kebalikan dari itu semua, bahkan ia tidak lagi menjaga pandangan ataupun bertutur kata lembut dihadapan teman-temannya, itulah yang membuat Alesha ingin segera berubah menjadi lebih baik lagi
*****
Resa menatap bingung Sahabatnya yang tengah menatap sinis Vanya yang tengah berbincang dengan Pak Rey.
"Lo kenapa sha?" tanya Resa
"Kenapa apanya?" tanya Alesha mengerutkan dahinya.
"Lo suka sama pak Rey?"
"Dih,ogah banget gue suka sama dia" ucap Alesha menutupi kegugupannya.
"Kirain suka terus lo nekat mau jadi pelakor" gurau Resa yang membuat Alesha langsung menatap tajam sahabatnya kemudian pergi meninggalkan Resa yang kebingungan.
"Kesambet noh bocah" guman Resa mengedikan bahunya kemudian pergi menuju mobil yang sudah menjemput.
"Loh kok kamu pulang sendirian sha?" Tanya Safira yang tidak melihat keberadaan suaminya.
"Iya mba tadi aku udah kasih kabar mas Rey kalo aku pulang duluan, soalnya kepala aku pusing hehe" jawab Alesha dengan raut wajah sayu.
"Ya udah kamu istirahat aja ya, atau mau minum obat"
"Gak usah mba, Asha mau tiduran sebentar habis itu Alesha bantu-bantu mba beresin rumah" ucap Alesha melangkahkan kakinya memasuki kamar.
Didalam kamar Alesha langsung merebahkan badannya, setelah mendengar perkataan Resa rasa bersalah kembali muncul di benak Alesha karena telah merusak kebahagiaan orang lain, namun semua ini bukanlah murni keinginan Alesha.
"Gue bukan pelakor, gue bukan pelakor" lirih Alesha menarik hijabnya dan melemparnya ke sembarang arah.
"Kak Alvin hiks hiks, kenapa kakak ninggalin Asha sendiri, andai aja kak Alvin gak ninggalin Asha pasti Asha udah nolak pernikahan ini hiks hiks" tangis Alesha pecah kala mengingat Alvin seseorang yang berjanji akan hidup bersama dengan dia, namun ia mengingkari semuanya karena takdir tidak berpihak kepada mereka berdua.
Alvin adalah sahabat masa kecil Alesha sekaligus orang yangs sering melindunginya, Alvin dan Alesha berjanji akan menikah setelah lulus sekolah, namun satu tahun yang lalu Alvin pergi meninggalkan Alesha selama lamanya untuk menghadap kepada sang maha pencipta.
Kejadian itu semua membuat Alesha sangat terpukul, dan tanpa memikirkan perasaan Alesha kedua orang tuanya malah memaksa Alesha untuk menerima pernikahan ini, orang tua mana yang tega putri satu-satunya dijadikan istri kedua.
Tapi Alesha menutup semua kebenaran jika ayahnya yang telah memaksanya, bahkan bunda dan abangnya tidak mengetahui bahwa Alesha selama ini selalu berada dibawah tekanan ayahnya.
Cklek!
Rey memasuki kamarnya, ia bernafas lega kala melihat Alesha sedang berbaring di atas ranjang, namun ia terkejut ketika melihat mata Alesha dipenuhi dengan air mata.

Rey menarik tubuh Alesha dan memeluknya dari belakang.
"Kamu kenapa Sha? Kamus sakit ya?" tanya Rey memegang kening Alesha.
"Aku gak papa" lirih Alesha
"Terus kenapa kamu nangis?"
Alesha tidak menjawab pertanyaan Rey membuat pria itu mengeratkan pelukannya.
"Cape" ucap Alesha dengan sendu.
"Kamu istirahat ya" ucap Rey merebahkan kepala Alesha di pahanya.
"Maafin Asha,Asha gak bisa bohong sama perasaan Asha,Asha cuma cinta sama kak Alvin. Tapi Asha juga nyaman sama mas Rey, cuma sekedar nyaman bukan cinta" batin Alesha menatap dalam mata Rey.
"Asha salah ya?" tanya Alesha yang membuat Rey tidak mengerti dengan pertanyaan istrinya.
"Maksud kamu?"
"Nggak heheh Asha ngantuk, usapin kepala Asha" pinta Asha yang dibalas senyuman oleh Rey.