
Rey memegangi kepalanya yang terasa sakit begitu ia sadarkan diri. Matanya menelisik setiap sudut ruangan untuk mencari tahu di mana ia sekarang.
"Mas Rey," ujar Alesha yang baru saja kembali setelah kembali dari kantin rumah sakit, ia segera menghampiri suaminya saat tahu kalau Rey sudah sadarkan diri, "Mas nggak apa-apa?" tanyanya khawatir.
"Aku nggak apa-apa sayang." ujar Rey tersenyum manis.
"Aku panggilan dokter ya?" ujar Alesha berniat memanggilkan dokter.
Rey menggeleng, "Aku nggak Papa sayang, aku cuma sedikit pusing aja. mungkin ini gara-gara aku terlalu sibuk kerja sampai nggak merhatiin kesehatan." jawab Rey, untung saja tadi yang menanganinya adalah Hakim, jika tidak maka kebenaran tentang Rey pasti akan terbongkar.
Alesha menghela nafasnya. Ia menunduk. Air matanya kembali jatuh.
"Sayang? Kamu kenapa nangis?" Rey segera bangun dari posisinya dan memeluk Alesha.
"Aku khawatir sama kamu hikss...hikss..."
Rey menepuk-nepuk punggung istrinya pelan, "Mas nggak apa-apa sayang. Beneran. Jangan nangis ya?"
Tangisan Alesha malah semakin jadi, "Kalau nggak apa-apa, kamu nggak bakal mimisan sama pingsan kayak gini."
Rey jadi bingung sendiri harus bagaimana. Belum tahu penyakitnya saja Alesha sudah menangis, apalagi kalau istrinya itu sampai tahu dirinya sakit kanker.
"Pulang aja ya? Mas Istirahat di rumah aja cukup buat aku," Tentu saja laki-laki itu masih teguh dengan pendiriannya, "Ayo pulang," Ajak Rey lagi.
Alesha berdecak. suaminya itu keras kepala. Kalau sudah A ya tetap A. Jadi mau tidak mau ia menerima keputusan Rey.
Mereka berdua kembali ke rumah dengan memesan taksi online karena Danu harus kembali ke kantor. Alesha sudah menghubungi Bimo dan Mega agar Risa menginap di sana dengan alasan jika dirinya ingin menghabiskan waktu bersama Rey.
"Kamu tidur aja. Aku mau siapin makan malam dulu. Nanti kalau makanannya udah jadi, aku bangunin," Alesha menyelimuti Rey dan membiarkan suaminya beristirahat.
Sejujurnya Alesha sedikit kesal karena Rey terus menolak untuk menginap di rumah sakit.
"Ini vitaminnya Mas Rey mana si," Gumam Alesha sambil mencari vitamin Rey yang biasa ia taburkan diatas makanan milik suaminya.
Karena tak kunjung menemukannya, Alesha kembali ke kamar untuk menanyakannya pada Rey. Tapi ia baru ingat jika suaminya itu baru saja tidur.
Akhirnya Alesha mencari vitamin itu sendiri di dalam nakas, "Dasar suami. Di bilang taruh di dapur aja malah dibawa ke kamar," Ujar Alesha saat menemukan apa yang ia cari.
Drrrtt...Drrrtt
Ponsel Rey bergetar diatas nakas. Menandakan kalau ada pesan yang baru saja masuk.
"Hakim?" Kening Alesha mengernyit saat nama Hakim tertera di layar ponsel Rey, awalnya Alesha ingin mengabaikan pesan tersebut. Namun karena penasaran akhirnya Alesha dengan lancang membuka ponsel suaminya.
Seketika botol vitamin yang berada di tangannya jatuh. Matanya bergantian menatap ponsel itu dan suaminya yang tengah tertidur.
Hakim
|Besok kamu harus ke rumah sakit lagi Rey, saya
|takut jika keadaan kamu semakin memburuk.
|saya sarankan untuk kamu segera melakukan
|kemoterapi agar bisa menghambat penyebaran
|kanker di tubuh kamu.
Merasa terganggu dengan suara disekitarnya, Rey mulai terbangun. Ia menemukan Alesha tengah menangis di dekat nakas. Dengan segera Rey menghampiri istrinya, "Sayang? Kamu kenapa?" tanya Rey terdengar panik, takut jika perut Alesha keram.
Alesha menatap Rey dengan mata yang berair, "Kamu jahat ya Mas,"
"Aku?" tanya Rey menunjuk dirinya sendiri.
Alesha tertawa remeh, "Kamu nyembunyiin hal sebesar ini dari aku?" bentak Alesha.
"Sayang, kamu ngomong apa sih?" ujar Rey berusaha mendekati Alesha yang malah melangkah mundur.
Alesha melemparkan ponsel Rey ke sang pemilik, "Baca sendiri." sarkas Alesha
Deg!
Jantung Rey berdegup kencang. kenapa secepat ini Alesha mengetahui keadaannya. Dia takut keadaan Alesha dan calon anaknya memburuk karena memikirkannya.
"Kamu tega sama aku Mas."
"Maaf..." Ucap Rey setelah membaca pesan yang Hakim kirimkan.
"Kenapa Mas? Kenapa kamu nggak ngasih tau aku dari awal?! Kenapa kamu nanggung semuanya sendiri?" Alesha memukuli dada Rey berulang kali, "Kenapa kamu ngelakuin ini sama aku...?"
Rey berusaha memeluk Alesha. Tapi wanita itu menepisnya, "Jawab pertanyaan aku!" Bentaknya sambil terisak.
Hati Alesha hancur. Ia merasa gagal menjadi seorang istri karena tidak tahu jika selama ini Rey menderita kanker, dia takut jika suaminya akan bernasib sama seperti Safira yang akan meninggalkan Alesha selama-lamanya.
''Maafin aku. Aku cuma nggak mau---,"
"Bikin aku sama semua orang khawatir? Iya?" Sela Alesha menatap tajam suaminya.
Rey menghela nafasnya, "Ya. Aku nggak mau kamu sama Risa, ibu, Mba Kinan dan Mas Danu khawatir dan sedih karena punya suami, sekaligus ayah yang penyakitan kayak aku,"
Rey kembali mencoba untuk memeluk Alesha. Dan syukurnya wanita itu tidak menolak. Tapi ia juga tidak membalas pelukan Rey, "Maafin Mas sayang, Mas gak mau bikin kamu khawatir."
"Please, jangan nangis," Pinta Rey. Hatinya ikut sakit melihat orang yang dia cintai menangis seperti ini, "Jangan nangis," Katanya lagi.
Mana bisa Alesha tidak menangis setelah apa yang terjadi. Justru tangisan wanita itu semakin menjadi, "Seharusnya kamu bilang dari awal. Jangan nanggung semuanya sendiri. Aku ini istri kamu, tempat kamu berbagi Mas, kamu anggap aku apa sih Mas sebenarnya" ujar Alesha sesegukan.
"Iya Mas ngaku, Mas salah. Maafin Mas. Dan tolong jangan nangis sha. Mas nggak bisa liat kamu kayak gini.Hati Mas rasanya ikut sakit." lirih Rey mengeratkan pelukannya kepada Alesha.
sebagian pria merasa bahwa ada perasaan benci terhadap dirinya sendiri ketika melihat pasangannya menangis.
Terlebih ketika pasangannya menangis karena ia melukai hatinya atau membuatnya kecewa. Mereka merasa ketika membuat pasangannya menangis maka itu adalah titik terendah dalam hidupnya. Dan mereka tidak mau melihat pasangannya menangis karena perilaku buruknya sendiri.
Merasa harus melindungi, berkewajiban untuk mengayomi dan membuat pasangannya bahagia adalah hal yang mereka rasa harus dilakukan. Sehingga ketika pasangannya menangis dia merasa gagal membahagiakan istrinya.
"Maafin Mas Sha, Mas gagal menepati janji Mas untuk kedua kalinya. Mas janji untuk membahagiakan kamu. Tapi Mas malah membuat kamu menangis dan tidak berdaya, Mas juga tidak mau ada di posisi seperti ini, Mas mau menua bersama kamu. Tapi balik lagi, semua ini takdir yang Mas juga tidak tau." ucap Rey melerai pelukannya dan menghapus air mata Alesha, rasanya melihat air mata istrinya lebih sakit dari apa yang di deritanya selama ini.
"Aku gak tau mau ngomong apa lagi, tapi yang jelas aku kecewa sama Mas, kenapa Mas nyembunyiin semuanya? Mas mau kaya Mba Safira yang menahan sakitnya sendirian? lalu apa gunanya aku sebagai istri kamu? kamu anggap aku ini apa."
"Justru karena Mas sayang sama kamu--"
"Pembohong, kalau Mas sayang sama aku Mas harus berusaha sembuh demi aku, demi Risa dan calon anak kita. kalau gini caranya kamu lebih buat aku sakit mengetahui semua kenyataan pahit ini.
Bersambung.........