Until the End

Until the End
menyerahkan diri



Setelah acara resepsi, Alesha memutuskan untuk ikut kembali pulang bersama Rey.


Alesha menatap kosong jendela kamarnya, setelah kejadian dimana ia dipermalukan, Alesha menjadi seorang yang pendiam.


Ira dan juga Mega baru saja pulang setelah menemani Alesha seharian, mereka sengaja kemari agar Alesha tidak merasa sedih dengan makian orang-orang. Hari ini Rey kembali mengajar.


Jam menunjukan pukul setengah tiga siang, dimana seharusnya Rey sudah pulang ke rumah.


"Assalamu'alaikum" salam Rey memasuki rumah, ia disambut hangat oleh kehadiran Safira yang tengah membersihkan rumah.


"Wa'alaikumussalam" jawab Safira menerima uluran tangan Rey.


"Kamu sama Alesha udah makan siang?" tanya Rey


"Alhamdulillah udah Mas, tapi tadi Alesha gak mau makan, kasian mual-mual terus" ujar Safira memberitahu keadaan Alesha yang sempat mual-mual saat Rey tidak ada di rumah.


"Ya udah kalau gitu mas ke kamar Alesha dulu ya, Mas mau nyuruh Alesha makan" ucap Rey meninggalkan Safira.


Safira hanya tersenyum, ia berdoa semoga Rey bisa bahagia bersama dengan Alesha jika suatu saat nanti Safira sudah tiada.


"Ya Allah anugerahilah keluarga kami dengan kebahagiaan, dan ajarai hamba agar tidak sedih ketika hamba cemburu pada hambamu,karena sejujurnya hamba hanyalah seorang wanita biasa yang memiliki rasa cemburu terhadap dirinya, aku titipkan padamu ya Allah segala sesuatu yang aku cintai" doa Safira dalam hati.


Rey memasuki kamarnya, ia memeluk Alesha dari belakang saat istrinya tengah membereskan novel-novel yang tadi sempat Alesha baca.


"Assalamu'alaikum sayang" ucap Rey


"Wa'alaikumussalam Mas" jawab Alesha masih fokus membereskan novel-novelnya.


"Katanya kamu belum makan?"


"Males banget tau gak sih, aku laper tapi mual-mual terus" ucap Alesha berbalik menatap Rey sambil mengerucutkan bibirnya.


Rey menuntun Alesha agar duduk di tepi ranjang, dan Rey langsung berjongkok dihadapan perut Alesha.


"Sayangnya ayah jangan nakal ya nak, biarin bunda makan, kan kasian kalo bunda gak makan" ucap Rey mengusap perut Alesha.


"Ish aku gak mau di panggil bunda" ujar Alesha


"Terus kamu maunya di panggil apa?"


"Aku maunya di panggil Mama, kan lucu nanti anaknya manggil Mama"


"Terus nanti Mas di panggil Papa dong?"


"Iya lucu kan? Aku gak sabar pengen cepet-cepet ketemu anak kita" ucap Alesha dengan antusias, ia melupakan semua masalah jika sudah membahas anaknya.


Rey menatap Alesha dengan senyuman, ia ingin mengatakan sesuatu yang pastinya akan membuat Alesha sedih.


"Alesha"


"Hm" jawab Alesha yang masih membayangkan kehidupannya nanti.


"Safira udah mutusin buat nyerahin dirinya ke polisi"


Raut wajah Alesha seketika berubah, ia menatap tajam Rey yang masih mengusap perutnya.


"Buat apa?" tanya Alesha memalingkan wajahnya.


"Dia mau menebus kesalahannya Sha, dia gak mau dihantui rasa bersalah"


"Setelah satu tahun lebih?"


Rey hendak menjawab ucapan Alesha, tetapi Alesha langsung memberi kode agar Rey tetap diam.


"Lagian di penjara enggaknya,Alvin gak akan pernah bangun lagi"


"Kamu gak bisa lupain dia?" 


Alesha menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan konyol dari suaminya.


"Bohong kalau aku bilang aku udah lupa sama Alvin, dia yang selalu ada buat aku, dia yang selalu buat aku senyum, tapi aku gak boleh tetap berada di posisi ini bukan? Walaupun aku gak bisa lupain dia tetapi aku harus ikhlas, aku punya kehidupan, apalagi sekarang aku punya suami"


"Aku gak marah mba Safira pelaku tabrak lari itu,aku cuma syok, sesempit ini kah dunia sampai aku  harus masuk ke dalam rumah tangga kalian" ucap Alesha tersenyum, lebih tepatnya ia tersenyum miris dengan kehidupannya.


Rey bernafas lega karena Alesha bukan orang pendendam.


"Mungkin ini takdir, dimana Safira merenggut kebahagiaan kamu ia juga harus mempertanggungjawabkannya dengan cara berbagi kebahagiaan yang dia miliki"


Alesha menarik tangan Rey yang ada di perutnya, ia langsung berlari memasuki kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Huekk


Huekk


Rey yang panik langsung ikut berlari memasuki kamar mandi, ia tidak tega melihat Alesha yang tersiksa dengan kehamilan pertamanya. Ia memijat tengkuk Alesha sampai semua isi perut Alesha keluar.


"Hm lemes banget" lirih Alesha


Tanpa rasa jijik Rey membersihkan mulut Alesha yang terdapat sisa cairan tadi dengan telaten. Rey menggendong Alesha ala koala dan langsung merebahkan istrinya di atas tempat tidur.


Rey ikut berbaring di samping Alesha dengan menjadikan lengannya bantalan kepala Alesha, tak lupa juga Rey mengusap perut Alesha sambil mengumandangkan sholawat.


Sholaatullaah salaamullaah


Alaa Thooha rosuulillaah


Sholaatullaah salaamullaah


Alaa Yaasin habiibillaah


Tawassalna bi Bismillaah


Wabil Haaadi Rosulillaah


Wakulli mujaahidin lillaah


Bi ahlil badri yaa Allaah


Setelah Alesha terlelap, perlahan lahan Rey melepaskan pelukannya lalu mengecup singkat perut Alesha yang masih datar.


"Anak papa jangan nakal ya, papa mau siapin makanan dulu buat Mama, jangan bikin Mama muntah lagi ya sayang" ujar Rey memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum membuatkan bubur untuk Alesha.


*****


Rey kini sedang membuat bubur untuk Alesha, ia takut Alesha jatuh sakit karena perutnya belum terisi apa-apa dari pagi.


Safira yang hendak pergi ke halaman belakang mendadak berputar arah menghampiri suaminya.


"Kamu lagi ngapain Mas?" tanya Safira


"Aku lagi buatin bubur buat Asha"  jawab Rey yang masih fokus dengan kegiatan mengaduk buburnya.


"Coba deh kamu cicipin gimana rasanya?" ujar Rey menyuruh Safira mencoba masakannya.


"Ini udah pas kok rasanya" ujar Safira


Rey hanya mengangguk sambil menuangkan bubur tersebut ke dalam mangkok, Safira menatap sendu suaminya, ia merasa suaminya mulai berubah semenjak mengetahui insiden kecelakaan itu.


"Kamu udah ngomong sama Alesha tentang aku yang mau nyerahin diri ke polisi?" tanya Safira dengan ragu.


"Aku udah ngomong sama dia, tapi Alesha bilang kamu gak perlu nyerahin diri kamu, walaupun kamu di penjara, kamu gak bakal bisa bikin Alvin bangun lagi"


"Tapi aku mau nebus kesalahan aku Mas"


"Datangi rumah keluarga Alvin, dan mintalah maaf sama keluarganya, dan memintalah ampun kepada Allah atas semua perbuatan kamu, aku tau kamu gak sengaja, tapi setidaknya kamu gak harus kabur" ujar Rey


"Aku takut ketemu mereka"


"Aku bakal temenin kamu" ujar Rey melangkahkan kaki meninggalkan Safira yang masih memikirkan apa yang terjadi kedepannya.


Rey menatap wajah Alesha yang sedang tertidur pulas, ia tidak tega membangunkan tidur Alesha, apalagi Alesha baru tertidur 30 menit yang lalu.


"Alesha, bangun yuk Mas udah buatin makanan buat kamu" ucap Rey membangunkan Alesha dengan cara mencium setiap inchi wajah istrinya.


"Eugh" lenguh Alesha sambil mengerjapkan matanya.


"Makan dulu ya sayang, habis ini kita sholat ashar berjamaah di rumah" Alesha merentangkan kedua tangannya agar Rey membantunya bangun.


"Mau mas suapin apa makan sendiri?"


"Aku makan sendiri aja, mending Mas siapin peralatan sholatnya ya" ujar Alesha mengambil alih nampan yang ada di tangan Alesha.


"Kamu kapan ngidamnya sih? Mas kan pengen ngerasain jadi suami siaga" ujar Rey yang malah ikut duduk di samping Alesha.


"Aku takut nanti ngidamnya aneh-aneh"


"Ya gak masalah, selagi Mas bisa penuhi ngidam kamu, Mas bakal lakuin itu"


"Awas ya aku pegang janji kamu, kalau sampe kamu ngeluh karena ngidam aku, aku tebas pala kamu Mas" ucap Alesha


"Kalo makan jangan banyak bicara, jadi blepotan kan" cibir Rey membersihkan sisa-sisa makanan di bibir Alesha dengan tangannya lalu memasukan sisa tersebut ke dalam mulutnya sendiri.


"Ih jorok kamu, itu kan bekas aku Mas"


"Jorok apaan sih Sha, udah deh cepetan makan terus kita sholat bareng" ujar Rey beranjak mempersiapkan peralatan sholatnya.


Bersambung.........