Until the End

Until the End
Kejujuran



Hari ini Alesha dan Rey sengaja mengadakan rapat keluarga yang dihadiri oleh orang tua Alesha,sekaligus Maura Alan dan Resa,juga ada ibu Ira,Kinan dan Danu. Tujuan dari rapat ini adalah Rey yang akan memberitahukan tentang penyakitnya pada kedua keluarga.


"ibu, maafin Rey," ucap Rey tiba-tiba tidak lama setelah kami semua sudah berkumpul di ruang tengah rumahnya.


Ira keliatan bingung, "Minta maaf kenapa Rey?"


Rey menunduk. Sepertinya ia tidak kuat untuk melanjutkan kata-katanya.


Alesha menghela nafas, "Sebelumnya maafin kami karena udah menyembunyikan hal yang sangat besar dari kalian semua," Alesha menggenggam tangan Rey yang berada di sampingnya, "Mas Rey mengidap penyakit kanker."


Alesha bisa melihat ekspresi kaget dari semua orang di sini, "Rey terkena kanker?" Tanya Maura yang tidak percaya.


"Maaf baru ngasih tau kalian. Rey cuma nggak mau bikin kalian khawatir," Rey kembali bersuara, "ibu, Mba Kinan, Mas Danu. maafin Rey."


Ira bangun dan langsung memeluk Rey, "Kenapa harus kamu..." Tangisannya pecah. Mau tidak mau semua orang yang ada di sana ikut menangis termasuk Alesha. Padahal ia sudah berjanji pada Rey untuk tidak menangis lagi.


"Udah bu, Rey nggak apa-apa. Rey kuat buat ngelewatin ini," Rey mencoba menenangkan ira yang masih menangis.


"Sejak kapan Rey?" Kali ini Danu yang bertanya.


"Dua bulan yang lalu." jawab Rey


Danu menghela nafasnya. Ia menghampiri Mas adik iparnya dan memukulnya pelan, "Bodoh! Kenapa nggak ngasih tau Mas dari awal, apa waktu itu kamu pingsan gara-gara penyakit ini," Danu ikut menangis. Sedangkan Rey masih bertahan dengan senyuman manisnya.


Alesha mengangguk menyetujui ucapan Danu, "Mas Rey emang sok kuat, dia juga gak jujur sama aku, untung aku tau sendiri, dia gak pernah mikirin perasaan aku."


Rey mengacak rambut Alesha, "Jangan nangis. Kamu udah janji sama Mas,gak bakal nangis lagi."


"Nggak bisa kalau liat yang begini."


"Kamu yang kuat ya Rey. ayah yakin di balik semua ini ada hikmahnya," ujar Bimo.


Mega mengangguk menyetujui, "Kami di sini bakal doain kamu dan terus support kamu."


"Makasih,karena kalian udah mau dukung dan nyemangatin Rey."


"Memangnya kemonya di mulai kapan?" Tanya Maura


"Besok. Jadi Alesha nitip Reysha sama Mama ya?" ujar Alesha.


Mama Maura tersenyum teduh, "Kamu nggak perlu bilang juga Mama pasti jagain cucu Mama. Kalian berdua fokus aja dulu sama pengobatan Rey."


Cukup lama keluarga Alesha dan keluarga Rey berbincang. Mereka juga memberikan Alesha dan Rey semangat untuk menjalani semua cobaan ini. Sampai akhirnya sekitar pukul 9 malam mereka memutuskan untuk pulang.


Tinggalah Alesha, Rey dan Risa di rumah. Rey berbaring di paha Alesha, sedangkan Reysha sedang bermain di atas karpet berbulu.


"Kamu nggak gugup?" Tanya Alesha sambil mengusap rambut Rey yang sudah terlihat panjang membuatnya gemas.


"Gugup kenapa ?" Rey malah balas bertanya.


"Besok kamu kemo. Kok aku gugup ya? Kamu engga gitu?" ujar Alesha.


Rey tersenyum menunjukan kedua lesung pipinya, "Gugup. Cuma kan ada kamu," Rey bangun dari posisinya lalu mengecup bibir Alesha, "Di samping Mas terus ya?"


Kedua sudut bibir Alesha ikut terangkat, "Aku janji sama kamu, kalau aku bakal terus di sisi kamu. Nggak perduli kamu susah atau bahagia, nggak perduli kamu sehat atau sakit, aku nggak bakal ninggalin kamu."


Rey mendekat kearah Alesha. Bibirnya hampir saja menempel di bibirku. Tapi sialnya,


*****


Pukul 12 siang Alesha dan Rey sudah berada di rumah sakit untuk melakukan kemoterapi. Rey juga sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus pasien.


Entah kenapa melihat Rey berpakaian seperti ini membuat hati Alesha terasa sakit. Mata Alesha juga rasanya ingin menangis. Tapi Alesha tidak mau menunjukkannya sekarang pada Rey.


dia harus kuat.


Dengan begitu Rey juga akan ikut kuat.


"Semuanya udah siap," Hakim menghampiri Alesha dan Rey, "kamu ikut saya sekarang ya."


Rey mengangguk paham, "saya mau ngobrol sebentar sama istri saya," Rey beralih menatap Alesha, "Mas masuk sekarang ya. Kamu, Mas, kita harus sama-sama kuat. Dan please, biarin Mas masuk ke dalam ruangan sana sambil ngeliat senyum kamu, bukan air mata."


Alesha menghela nafas dan mencium pipi suaminya sekilas, "Semangat sayang!" Pekik Alesha sambil menunjukan senyum terbaikku kearah Rey.


"Ya Allah, aku berdoa dan memohon padamu. Tolong lancarkanlah kemoterapi suamiku. Semoga penyakit yang ia idap segera menghilang dan Mas Rey bisa berkumpul lagi bersama keluarga kecil kita."


Cukup lama Alesha menunggu kemoterapi yang dilakukan Rey. Hingga beberapa jam kemudian dokter Hakim menghampirinya dan memberitahu Alesha bahwa Rey telah di pindahkan ke ruang rawat inap.


Dengan segera Alesha pergi ke kamar yang telah diberitahukan oleh dokter Hakim. Sampai sana Alesha melihat Rey yang tengah berbaring diatas brankar rumah sakit. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Tapi ia masih berusaha tersenyum di depan Alesha, "Mas," Alesha menghampiri Rey dan menggenggam tangannya. Sungguh, Alesha ingin menangis saat ini juga, "Sakit ya?" Tanyanya dengan suara sedikit bergetar.


"Sakit," Balasnya, "Tapi masih bisa di tahan."


Sekuat tenaga Alesha mencoba untuk tersenyum, "Sabar ya Mas. Maafin aku nggak bisa bantu ngurangin rasa sakitnya."


"Eh nggak apa-apa. Jangan minta maaf," Katanya, "Kamu udah makan?" tanya Rey,tangan lemahnya berusaha membalas genggaman Alesha.


Alesha menggeleng, "Belum. Aku nggak nafsu sama sekali."


"Makan sayang, aku gak mau kamu kenapa-kenapa,ingat di dalam perut kamu juga ada nyawa yang perlu di kasih makan, kamu nggak sendiri."


"Iya aku makan. Ini aku udah beli makanan di kantin rumah sakit tadi," Alesha menunjukan kantung kresek hitam kearah Rey "Mas mau makan juga?"


"Mau. Kata Hakim sebentar lagi susternya nganterin aku makanan."


Alesha mengangguk paham dan mulai memakan makananku.


"Dari dulu hobi kamu nggak pernah ganti ya. Makan dan makan." goda Rey melihat Alesha yang tengah makan dengan lahap.


"Hmmm," Balas Alesha sekenanya karena sedang mengunyah makanan, "Mas mau?" Tawarnya sambil menyodorkan potongan ayam.


"Engga. Kamu aja yang mak---hueek," Alesha mendongak begitu mendengar Rey akan muntah.


"Mas mau muntah?" Tanya Alesha sedikit panik.


Rey mengangguk sambil menutup mulutnya. Dengan segera Alesha menyodorkan kantung kresek bekas di depan mulutnya.


Rey muntah lumayan banyak. Wajahnya terlihat makin pucat saja. Bahkan ia mengeluh badannya lemas.


Karena Alesha panik, ia memanggil ia segera memanggil Hakim. "Ini biasa terjadi dengan pasien yang baru melakukan kemoterapi. Badan lemas, sering muntah, bahkan rambut rontok. Jadi kalian nggak usah terlalu khawatir ya? Lagipula besok Rey udah boleh pulang ke rumah. Tapi kalian harus tetap rutin check up ke rumah sakit sampai kemoterapi ke dua dilakukan."


Alesha menghela nafas dalam.


Perjuangannya dan Rey baru saja di mulai, tapi kenapa bisa dulu Safira menyembunyikannya hingga bertahun-tahun sendirian menahan semua rasa sakit ini dan pura-pura tersenyum dihadapannya.