Until the End

Until the End
Pebinor



"Kok kamu bisa di sini?" tanya Alesha kepada Juan.


Juan tersenyum, "Kebetulan aku juga lagi liburan di sini. Tuh," Juan menunjuk villa yang tak jauh dari villa yang di pesan Rey, "Itu villa aku. Kalau kamu mau, kamu boleh kok main ke sana."


"Enggak! Alesha nggak bakal saya izinin untuk ke sana," Pekik Rey, "Ayo sayang masuk. Kasian Risa sama Haidar udah pada capek," Rey menarik lengan Alesha kedalam villa.


"Kok itu si Juan bisa ikut kita ke puncak sih?!" tanya Rey kesal sesampainya mereka di dalam villa.


Alesha menggeleng, "Katanya kebetulan."


"Tapi aku nggak yakin ini kebetulan. Aku yakin kalau Juan sengaja ngikutin kita ke sini."


Alesha mengedikan bahu, "Nggak perduli ah. Aku mau nidurin Risa sama Haidar dulu ya Mas di kamar," Alesha benar-benar tidak perduli dengan Juan.


"Bukan lupa. Sengaja. Udah sana kamu tidurin Risa sama Haidar. Mas mau berenang. Panas badan aku habis liat si Juan," Rey berlalu meninggalkan Alesha.


Dasar cemburuan.


Selesai menidurkan Risa dan Haidar, Alesha pergi ke taman belakang untuk menemui suaminya. "Seger ya?" tanya Alesha pada Rey sambil meletakan minuman yang ia bawa untuknya di pinggir kolam.


Rey tidak menjawab ucapan Alesha.


Alesha berdecak, "Kenapa? Masih kesel sama Juan?"


Rey berenang kearah Alesha, "Iya, lagian dia ikut-ikutan kita liburan ke sini. Mana sok akrab banget lagi sama kamu."


Alesha menghela nafas, "Tadi kan kata Juan kebetulan Mas."


"Halah, aku nggak percaya sama si Juan," Kata Rey, "Udahlah nggak usah ngomongin dia, mending kamu berenang bareng aku."


Alesha menggeleng, "Males ganti baju."


"Nggak usah ganti baju nggak apa-apa kok sayang."


"Mana enak renang pakai gamis kaya begini," Ya, Alesha memang menggunakan gamis.


"Ya udah buka aja."


Alesha membelalakkan mata, "Sembarangan kamu. Nanti kalau kamu khilaf gimana?"


"Ya kamu bantuin akulah."


"Engg-- MAS!" Alesha memekik kaget saat Rey tiba-tiba menarik tubuhnya masuk kedalam kolam renang.


Huh, suami siapa sih dia ini? Kenapa jahil sekali?


Rey tertawa puas, "Asik, renangnya di temenin bidadari."


Alesha memutar bola mata malas, "Kamu tuh jail banget sih? Orang aku nggak mau renang."


Rey mengedikan bahunya tidak perduli. Ia malah menarik tubuh Alesha agar lebih rapat dengannya, "Kayaknya, kamu nggak buka baju aja udah bikin aku khilaf deh sha,"


Alesha reflek memukul dada Rey, "Mau nyoba nggak di kolam?"


Aku menghela nafas gusar, "Aku nolak juga kamu pasti tetep lakuin kan?"


Rey tersenyum, ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alesha. Lengan laki-laki itu melingkar di pinggangnya, sedangkan tangan Alesha melingkar di leher Rey.


Alesha menarik dirinya saat mulai sesak, kemudian memperhatikan tubuh suaminya. Alesha baru sadar jika tubuhnya semakin kekar, bahkan roti sobeknya juga bertambah, "Kamu habis sembuh ngegym terus ya?"


Rey mengangguk, "Kenapa? Suka ya sama hasilnya?"


"Lumayanlah."


"Masa lumayan doang? Liat nih," Rey menunjukan otot lengannya pada Alesha, "Mantapkan? Enak buat kamu remes-remes."


"Dikira mie remes kali ah," Sejujurnya Alesha memang sangat terpana dengan bentuk tubuh Rey. Tapi Alesha tidak mau memujinya secara berlebihan, jika itu aku lakukan, yang ada Rey semakin sombong, "Udah ya Mas, aku mau naik aja."


Rey menahan lenganku, "Orang belum apa-apa kok. Lanjutin dulu lah."


"Yaudah iya, tapi di dalam aja, nanti kalau ada yang liat gimana? kamu mau ada yang liat?," pasrah Alesha.


******


Malam ini di villa hanya ada Alesha dan anak-anaknya. Karena Rey pergi sebentar untuk menemui temannya yang memang tinggal di daerah puncak. Awalnya Rey ingin mengajak istrinya, tapi wanita itu menolak dengan alasan tidak enak badan. Tidak bukan nggak enak badan, lebih tepatnya-You know what i mean.


Karena bosan menunggu Rey, dan tidak ada kerjaan, akhirnya Alesha memutuskan untuk memasak mie instan. Ia lapar. Padahal sebelum Rey pergi, mereka berdua sempat makan bersama.


"Ah perih!" Pekik Alesha kesakitan. Matanya tak sengaja terkena bumbu cabai ketika ia mencoba membuka bungkusan bumbu itu.


Alesha kewalahan, matanya sangat perih, "Alesha, kamu kenapa hei?" Alesha kenal suara ini.


"Juan?, ini mata aku perih!"


"Sini-sini aku bantuin."


"Tapi jangan sentuh aku." Juan mengangguk membawa Alesha ke dekat wastafel.


"Gimana, masih perih?" Tanya Juan.


Alesha menggeleng, "Lumayan enakan. Makasih."


Juan mengangguk, "Coba sini aku liat dulu,"


"ALESHA!" Alesha reflek menjauh saat mendengar suara Rey.


Ya, Rey baru saja pulang dan melihat bagaimana istrinya sedang berduaan dengan laki-laki lain.


Rey berjalan mendekati keduanya lalu,


BUGH!


Satu tonjokan dilayangkan Rey ke wajah Juan. Membuat ujung bibir pria itu berdarah, "Brengsek!" Rey menarik kerah baju Juan, "Lo mau ngerebut Alesha dari gue hah?!"


BUGH!


Lagi, Rey kembali memukul Juan.


"Mas berhenti Mas," Alesha menahan lengan Rey yang akan kembali memukul Juan.


Rey menatap Alesha dengan penuh amarah, "Apa? Kamu mau ngebelain cowok ini?!" Bentak Rey, "Kamu istri aku! Tapi kenapa kamu diem aja waktu Juan mau cium kamu?!"


Alesha menggeleng cepat, "Kamu salah paham Mas."


"Salah paham apa?! Jelas-jelas aku liat cowok brengsek ini mau cium kamu kok!"


"Mas, beneran, aku nggak mau ngapa-ngapain sama Juan."


Rey tertawa remeh, "Kamu mau bohong sama aku?"


"Mas!" Pekik Alesha, "Kalau kamu nggak percaya, kita liat dari cctv. Juan itu cuma nolongin aku karena mata aku yang kena bubuk cabai tau nggak?!"


Rey diam. Ia melihat ke pojok dapur, memang benar, ada cctv di sana.


Akhirnya Rey, Alesha, dan Juan pergi menemui si pemilik villa untuk melihat kejadian yang sebenarnya dari cctv.


Rey menghela nafas saat tahu kejadian yang sebenarnya. Yang Alesha katakan benar, Juan hanya menolongnya.


"Kamu percaya sama aku kan sekarang?" Tanya Alesha.


Rey menatap Alesha dengan perasaan bersalah, "Maaf...."


Alesha menghela nafas lalu memeluk Rey, "Aku nggak mungkin punya hubungan sama laki-laki lain Mas," Jelas Alesha, "Apalagi sama Juan."


Rey melepaskan pelukannya lalu beralih pada Juan yang sedari tadi hanya diam, "Saya nggak akan minta maaf karena udah mukulin anda. Anda emang pantes dapet itu karena udah berani-beraninya masuk ke tempat saya."


Juan tersenyum sinis, "Lagipula gue nggak butuh maaf lo," Yang gue butuh sekarang, cuma istri lo, lanjut Juan dalam hati.


Rey menatap Juan dengan lekat, "Saya mau nanya sama anda. Kenapa anda selalu ada di deket Alesha di saat saya nggak ada? anda bahkan masuk ke villa di saat yang pas. Apa Anda emang sengaja ngikutin kemanapun Alesha pergi?"


Bersambung..........