Until the End

Until the End
Mencari Gara-gara



Kini Reysha sudah duduk di tribun bersama yang lain. SMA Cempaka Putih memang sangat elit sampai lapangan basket memakai tribun seperti tempat pertandingan sungguhan. Bahkan lapangan futsal pun begitu, bahkan ada kolam renang di dalam lingkungan SMA Cempaka Putih itu.


Reysha melambaikan tangannya saat melihat Marvel sudah memasuki area lapangan. Cowok itu juga membalas lambaian tangan pacarnya, dan hal itu membuatnya tersenyum manis.


"Anjir cowok yang pakai kaos nomor 7 cakep banget gila." ucap seseorang yang tidak Reysha kenal. Ia menatap tajam orang itu, karena yang barusan ia puji adalah kekasihnya yaitu, Marvel.


"Ada masalah apa lo liatin gue kaya gitu?" tanya cewek berkuncir satu itu merasa jika sedang diperhatikan.


"Cowok yang pakai kaos nomor 7 itu cowok gue. Berhenti muji dia dibelakang gue." ujar Reysha dengan sinis lalu kembali melihat Marvel yang terlihat sedang berdiskusi.


"Haha rasain dah punya cewek tuh." ejek teman cewe itu pada temannya.


"Sialan, yaudah gue yang nomor 4 aja tuh, Cakep ihhh" ujarnya lebay.


"Kalau mau suka sama sepupu gue, ngaca dulu ya Mbak, sadar diri itu penting." ucap Syifa saat cewek itu asal pilih cowo saja. Walaupun Bagas itu sepupu yang menjengkelkan, tapi Syifa tidak mau kalau cewek itu menggodanya. Yang benar saja? Muka menor leher hitam begitu ingin mendapatkan sepupunya.


"Haha kasian banget lo ca" ejek temannya lagi.


"Diem, tanding dah mulai tuh. Pasti sekolah kita menang." ucapnya percaya diri.


"Marvel semanga.t" teriak Reysha sangat lantang tanpa malu. Marvel yang mendengar itu langsung mengangkat jempolnya. Dan Reysha langsung memberi fly kiss pada kekasihnya.


"Alay ih" kata Sasa sambil terkekeh melihat kelakuan sahabatnya itu.


"Sirik aja jomblo." balas Reysha.


Basket kini berada ditangan anak SMA Merpati Merah. Tim Marvel mencoba untuk merebutnya, namun gagal karna basket sudah masuk kedalam ring. Sorak kemenangan terdengar jelas dari suara anak SMA Merpati Merah.


"Baru satu skor aja belagu" sinis Reysha.


"MARVEL SEMANGAT...GO MARVEL, GO MARVEL MARVEL, YUHU SEMANGAT BEIPP" teriak Reysha sangat keras membuat Marvel menggeleng lalu semangatnya kembali bangkit dua kali lipat.


Kini basket di tangan Marvel, ia mendrible dengan lincah lalu segera melemparnya kedalam ring lawan. Dan yap. Berhasil, sorakan senang dari SMA Cempaka Putih menggema.


"yey nice sayang" pekik Reysha kegirangan.


"Telinga gue sakit deket-deket si alay." cibir Cika menutup kedua telinganya.


"Woy Bagas, cetak poin dong." teriak Syifa. Bagas pun menoleh lalu tersenyum.


Kini basket itu berada ditangan Bagas, cowo itu mendrible-nya dengan lincah dan dengan satu lemparan basket itu masuk dengan sempurna. Dan itu langsung membuat SMA Cempaka Putih bersorak kembali. Syifa mengacungkan jempolnya pada Bagas.


Setelah cukup lama bertanding kini SMA Cempaka Putih yang menjadi juara, sama seperti tahun lalu. Marvel dan timnya menjabat tangan pada lawannya, mereka terlihat akrab dan tidak bermusuhan.


"Gue bilang juga apa, pasti sekolah kita menang." ucap Reysha sangat senang.


"Cih, gitu aja bangga." sindir cewek yang sempat berdebat dengannya tadi.


"Haha sirik Mbak?" ejek Reysha meninggalkan si loreng itu.


"Sorry gak level" balas cewek itu lalu turun.


Reysha dan yang lain pun turun, ia menghampiri Marvel dan memberikan air mineral pada kekasihnya yang sempat ia beli tadi.


"Selamat" ucap Reysha dengan seyum manisnya.


"Makasih" balas Marvel sambil mengacak rambut Reysha.


"Ini pacar lo bro?" tanya seseorang dari sekolah Merpati Merah itu.


"Yoi, gimana? Cantikan dia?" jawab dan tanya Marvel bangga sambil merangkul Reysha.


"Ih kamu basah." omel Reysha namun tak melepas rangkulannya.


"Cantik banget bro, lebih tepatnya manis" ucap cowok itu.


"Kenalin gue Dewa." ucap cowok itu, Reysha ragu menjabat tangannya namun tatapan Marvel seolah mengizinkannya.


"Reysha" balasnya sambil tersenyum tipis.


"Gue cabut ya, selamat atas kemenangannya" ucap Dewa lalu melambaikan tangannya.


"Kamu kok izinin aku kenalan sama dia?" tanya Reysha merajuk.


"Dia sahabat aku tenang aja" jawab Marvel santai.


"Ya udah sana gabung sama yang lain." usir Reysha sambil mendorong punggung Marvel agar menjauh.


"Jangan ngambek ya" ucap Marvel sambil mengedipkan matanya kemudian ikut bergabung bersama teman-temannya.


*****


"Keren juga Marvel main basketnya" puji Farel saat mereka sedang di kantin.


"Dan kita keren main futsalnya." balas Bian sambil mengunyah cireng.


"Minggu depan giliran kita yang tanding" ucap Farel mengingatkan.


"Nah iya, padahal guru ngelarang kita ikut. tapi jiwa ke futsalan gue memberontak mau ikut." balas Bian.


"Idih ngalay" cibir Farel.


"Lagian minggu depan kan tanding terakhir kita sama kaya si Marvel tadi. sekalian serah jabatan kapten futsal ke si Gara." ujar Bian.


"Eh iya ya.. Ga, lo udah siap serahin jabatan kapten futsal ke Bima?" tanya Farel.


"hm" balas Azzam cuek.


"Lo yakin dia yang jadi kapten?" tanya Farel lagi.


"Iya juga sih, Bian aja kalah" balas Farel mengejek.


"Kok jadi gue?" tanya Bian kesal.


"Sayangg......" cepat tenggelamkan Azzam sekarang juga saat mendengar teriakan makhluk halus itu.


"Kamu kok gak ngajak aku sih kesini?" tanya Intan bergelayut manja.


"Eh dugong, pergi sono lo, lo tuh nggak diajak lo bukan circle kita." usir Farel.


"Lah gue juga nggak mau satu circle sama lo, emang kita kenal ya?" tanya Intan sinis.


"Sialan lo" pekik Farel


"Tan, lepas" ucap Azzam yang merasa risih.


"Lepas woy, jangan deket-deket temen gue lo nanti kena virus menular dari lo." ujar Bian yang tau kalau sahabatnya itu tidak menyukai wanita spesies seperti Intan.


"Berhenti ngehalu kalau Azzam pacar lo, level dia bukan lo" ketus Farel.


"lo nggak bisa ikut campur deh?" sinis Intan.


Saat itu Intan melihat Reysha membawa semangkuk bakso yang akan melewatinya. Dan dengan sengaja Intan menjulurkan kakinya agar Reysha terjatuh.


"Aw...." pekik Reysha saat kuah Bakso itu mengenai tangannya.


"Ups sorry sengaja haha" ucap Intan sambil menutup mulutnya.


"Sialan lo, kalo berani lawan gue nggak usah jadi pengecut?" pekik Reysha marah.


Sasa, Syifa dan Cika menghampiri Reysha. lalu melihat tangan sahabatnya itu memerah. "Reysha tangan lo" ucap Cika.


Azzam yang melihat itu menarik lengan sebelah Reysha menuju Uks. Reysha tak memberontak dan hanya mengikuti Azzam yang entah akan membawanya kemana.


"Mau kemana Reysha sama Azzam?" tanya Marvel yang baru saja sampai.


"Kayanya Azzam mau ngobatin luka Reysha, tadi tangan dia kena kuah bakso." jawab Syifa.


Reysha merasakan perih dan panas pada tangannya. jika bukan karna malu pasti dirinya sudah menangis, dan sialnya tangan kanannya yang terkena tumpahan panas itu.


"Lepasin" sentak Reysha.


"Gue bisa obatin sendiri."ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Lalu melangkah meninggalkan Azzam yang terdiam.


"oh ya, bilangin sama pacar lo itu kalau gue bakal balas dendam" ucap Reysha dengan rahang yang mengeras.


Azzam menghela nafas lalu pergi untuk mencari Intan. Sedangkan Reysha sudah berada didalam Uks dengan isakannya, katakan saja Reysha cengeng. Ia memang pemberani dan cerewet tapi jangan lupakan kalau Reysha itu gadis yang manja dan mudah menangis.


"Sakit hiks..."


"Reysha" panggil seseorang yang tak lain adalah Marvel


"kamu kenapa?" tanya Marvel sambil melihat tangan Reysha yang memerah.


"Intan, aku bakal buat dia menyesal karena berani-beraninya nantangin aku." jawab Reysha dengan rahang yang mengeras.


"obatin dulu lukanya" ucap Marvel lalu mengambil salep.


Marvel mengoleskan salep itu ditangan Reysha dengan pelan. Sesekali gadisnya meringis dan merengek kesakitan. "kamu mau pulang aja?" tanya Reysha.


"Nggak, aku mau balik ke kelas aja. ayo anter aku" jawabnya.


Setelah sampai mengantar Reysha, Marvel pamit untuk pergi ke kelasnya juga. Tak lupa ia meniup tangan Reysha yang merah itu. "cepet sembuh" ucap Marvel setelah itu pergi.


"Sha lo nggak papa?" tanya tanya Sasa khawatir.


"Sialan emang ya tuh jablay. liat aja apa yang bakal gue lakuin." ucap Reysha dengan nafas yang menggebu karena kesal.


"Kita bantu buat bales perbuatan dia" Kata Syifa tersenyum miring.


"Setuju" balas Sasa dan Cika serentak.


"Cari tau mobil Intan yang mana" ucap Reysha kepada temannya.


"Serahin semuanya sama kita." balas mereka.


"Sialan banget, gara-gara dia tangan gue nggak bisa buat nulis." ucap Reysha lalu duduk dibangkunya.


Setelah itu hening dan dihebohkan lagi oleh Sasa yang memberi tahu kalau mobil Intan yang berwarna merah. Reysha mengangguk dan tersenyum senang.


Pulang sekolah Reysha lebih memilih pulang diantar Marvel. Masa bodo dengan Azzam, ia akan pulang malam saja dan beristirahat dirumah orang tuanya.


Setelah motor Marvel melaju, suara teriakan Intan menggema dan membuat beberapa orang yang berada diparkiran terkejut.


"Brengsek! siapa yang ngelakuin ini di mobil gue?" teriak Intan dengan wajah memerah dan tangan mengepal.


Tidak ada yang menyahut, bahkan teman Intan saja tidak berkutik karena Intan mengamuk.


Mobil kesayangan Intan sudah sangat kumuh. Banyak tepung dan pecahan telur disana, meninggalkan bau yang sangat anyir. Di pintu mobilnya ada sebuah tulisan besar dengan cat pilok.


JANGAN PERNAH MACAM-MACAM SAMA GUE, GUE BISA BERBUAT LEBIH DARI PADA INI *****! GUE NGGAK TAKUT SAMA LO!!


"Ternyata dia" guman Intan dengan perasaan yang kesal.


bersambung........