Until the End

Until the End
Pengganggu



Rey sudah berangkat kerja dari dua jam yang lalu. Tinggalah Alesha, Reysha dan Haidar di rumah. Bi Ijah? Dia sedang mengambil cuti. Katanya anaknya terkena demam berdarah di kampung. Jadi mau tidak mau dia harus pulang ke kampung halamannya.


"Haidar makin gemuk aja siii," Alesha gemas dan menciumi Haidar yang berada di gendonganku.


"Minum susunya pinter ya? Makanya cepet gemuk," Alesha mengajak Haidar berbicara meskipun respon anak itu hanya sebatas senyuman.


Ting Tong!


"Tuh ada yang datang. Yuk kita buka pintu," Alesha membawa Haidar ke depan dan membukakan pintu untuk tamu yang baru saja memencet bel rumahnya. "Nyari siap--Eh Juan?"


Juan tersenyum dan melambaikan tangan kanannya kepada Alesha, "Halo. Boleh kan aku main kesini lagi?"


Alesha tersenyum kikuk, "Boleh kok. tapi di luar aja ya, soalnya di rumah lagi nggak ada suami aku." jawab Alesha yang diangguki Juan


"ini anak kamu?" tanya Juan.


"Iya. Dia anak pertama aku, namanya Reysha."


"Dan yang kamu gendong itu anak kedua kamu?"


"Iya, dia Haidar."


"Wah seriusan?" Katanya tak percaya, "Padahal kamu nggak keliatan kayak ibu dua anak loh. Mungkin saking cantiknya kamu ya. Jadi nggak keliatan kayak ibu-ibu biasanya," Sambung Juan yang membuat Alesha malu. Entahlah, rasanya sangat canggung karena pria asing yang memujinya seperti itu, "Oh iya sha, aku bawain ini buat kamu," Juan menyodorkan kantung plastik hitam.


"Ini apa lagi?" tanya Alesha, "Kayaknya kamu suka banget ngasih sesuatu."


"Itu brownis. Tapi kali ini bikin sendiri, khusus buat kamu sama anak-anak kamu."


"Makasih ya. Jadi ngerepotin."


Juan menggeleng, "Nggak ngerepotin kok."


Sebenarnya Alesha sedikit risih dengan kehadiran Juan. Ia berlagak seperti sudah mengenalnya dengan dekat. Padahal mereka berdua saja baru bertemu kemarin.


"Nih, kalian makan ya,"


Alesha tersenyum kikuk, "Makasih," Balasnya lalu mengambil sepotong brownis.


"Sini Haidar biar sama aku," Juan mengambil alih Haidar dari Alesha. Ia mengajak Haidar dan Risa bermain bersama.


"Anak kamu lucu-lucu banget," Ujar Juan, "Sama kayak ibunya."


"Hah? E-engga ah," Oke. Alesha benar-benar risih dengan sikap yang Juan tunjukan.


Alesha bukannya tidak suka dia memujiku, tapi cara Juan berbicara itu menurutnya tampak tidak sopan.


"Beneran tau. Oh iya sha, aku nggak pernah liat suami kamu, dia tinggal di sini?"


Alesha mengangguk. Yakali suaminya tidak tinggal serumah denganku, "Maklum kalau kamu nggak pernah liat, dia orangnya sibuk."


"Pas dong ya kalau kayak gitu."


Alesha mengernyitkan dahi, "A-apanya yang pas?''


"Pas. Kalau suami kamu sibuk, aku kan bisa nemenin kamu, Reysha, sama Haidar main."


Alesha tidak tahu harus bagaimana merespon perkataan Juan.


Juan cukup lama berada di rumah Alesha. Ah, jika tidak ingat dia tetangganya, mungkin Alesha sudah mengusirnya dengan alasan risih. Sekali lagi, Juan itu benar-benar sok akrab dengannya. Ia bahkan meminta nomor telepon Alesha, tapi Alesha tidak memberitahunya dengan alasan ponselnya sedang rusak, "Nomor suami aku aja gimana?" Tawar Alesha.


Seketika Juan tersenyum canggung, ia menggaruk tengkuknya yang Alesha yakini tidak gatal, "Nggak usah deh."


Alesha tertawa dalam hati. Rasanya benar-benar puas mengerjai orang sepertinya.


"SAYANGGGGGG!" Alesha menoleh saat mendengar suara yang familiar.


Alesha mengernyitkan dahi begitu melihat kedatangan suaminya. Ia menghampiri Alesha dan langsung memelukku, "Kok udah pulang?" tanya Alesha bingung.


"Ya nggak apa-apa. Kantor-kantor aku kok," Jawab Rey dengan entengnya.


"Tapi kan kamu nggak boleh semena-mena gitu Mas. Kasian karyawan kamu yang lain."


"Ini siapa?" tanya Rey yang sepertinya baru sadar kalau ada orang lain di rumah ini.


"Dia---"


"Saya Juan. Tetangga baru kalian," potong Juan, "sha, aku pulang dulu deh ya. Makasih buat makan siangnya," Ujar Juan lalu pergi dari rumah ini.


Alesha melotot kaget, kenapa juan berterimakasih, padahal ia tidak memberikannya makan siang. Jangankan makan siang, Alesha bahkan tidak memberinya air minum.


Rey menatap Alesha penuh tanya, "Kamu ngajak dia makan siang di sini?"


"Dasar kurang ajar emang," Guman Alesha pelan, sangat pelan.


"Alesha jawab aku hei."


Alesha menggeleng, "Aku nggak ngajak juan makan di sini kok Mas. Dia itu bohong, bahkan aku nggak biarin dia masuk rumah, aku gak mungkin bawa masuk sembarang orang ke rumah kita." Jelas Alesha, "Udah ya. Sekarang kamu ganti baju dulu, nanti aku siapin makan siang."


Rey menghela nafas, "Ya udah. Tapi awas ya kalau kamu sampai ada sesuatu sama Juan. Aku nggak tinggal diam."


"Iya sayang. Udah sana ganti baju dulu."


******


"Sayang, aku ngambil cuti buat tiga hari kedepan," Ujar Rey sembari memeluk Alesha. mereka berdua sedang bersantai di kamar. Dan anak-anak sudah tidur di kamar mereka.


"Kenapa?"


"Aku mau kita liburan berempat. Kan kita belum pernah tuh liburan berempat."


Alesha mengangguk paham.


"Aku juga udah nyewa villa. Nggak jauh-jauh kok liburannya, cuma di puncak. Nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa. Asal villa nya kamu yang bayar," canda Alesha sambil menunjukan cengiran lebar.


"Iyalah aku yang bayar. Kan aku tulang punggung keluarga."


"Iya kamu tulang punggung keluarga. Kalau aku tulang rusuk kamu," Ucap Alesha, "Apaan sih aku cringe banget," Alesha malah jijik sendiri karena sudah mengucapkan kalimat itu.


Rey tertawa, "Nggak apa-apa. Aku suka kok."


"Udah ah tidur Mas. Malu aku."


"Mau langsung tidur? Nggak mau ngapa-ngapain dulu?"


Alesha memutar bola mata malas, "Enggak makasih. Nih, bekas kerjaan kamu aja masih ada di leher aku."


Rey tersenyum lalu mengecup bibir Alesha sekilas, "Itu namanya mahakarya."


******


Alesha meregangkan tubuhnya begitu keluar dari mobil. Rasanya tubuh Alesha pegal semua karena berjam-jam di dalam mobil, apalagi ia sambil memangku Haidar. Alesha dan Rey baru saja sampai di puncak setelah melewati perjalanan yang lumayan macet.


"Suka nggak yang?" Tanya Rey. Itu, dia menanyakan apakah aku suka dengan villa yang ia pesan.


Alesha mengangguk, "Suka kok. Pemandangannya bagus. Hijau-hijau, bikin mata aku seger."


"Padahal liat aku baru mandi juga bisa bikin seger."


Alesha memutar bola mata malas, "Itu mah lain lagi Mas. Udah ah, kita masuk yuk. Aku pegel banget gendong Haidar."


"Kamu masuk duluan aja sama anak-anak. Mas mau ngeluarin barang-barang dulu dari mobil."


Alesha mengangguk. Baru saja ia akan melangkah masuk ke dalam villa. Tapi langkahnya terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya, "Alesha!"


"Juan?"


BERSAMBUNG...........


JENGJENGJENGGGGG