
"Tadi gimana latihannya?" tanya Reysha dengan wajah sedikit malu, awalnya ingin ngambek tetapi tidak bisa.
"Lancar" jawab Azzam singkat.
"Lawan sekolah mana?" tanya Reysha lagi.
"Sekolah tetangga." jawab Azzam sesekali melirik Reysha.
"Besok harus menang ya? Pokoknya nanti aku bakal semangati kamu." ujar Reysha dengan antusias.
"iya" balas Azzam singkat.
Reysha kesal dengan respon Azzam yang sangat sedikit itu. Ia pikir Azzam akan bertanya balik seperti menanyakan, udah makan belum? Tadi ngapain aja? Ngantuk nggak? Tidur gih ntar aku yang angkat, ke kamar.
Setelah lama hening Reysha mati kebosanan. Ia sesekali menguap dan akhirnya tertidur. Perjalanan dari rumahnya ke rumah Azzam tentu saja tidak dekat, itu memakan waktu hampir setengah jam.
Tak lama kemudian Mobil Azzam masuk kedalam pekarangan rumahnya. Ia telah sampai lalu mencoba untuk membangunkan Reysha. Azzam menepuk-nepuk pipi Reysha, tapi gadis itu hanya bergumam lalu kembali menutup matanya. Sepertinya Reysha sudah mengantuk berat.
Azzam keluar lebih dulu dari Mobil lalu membuka pintu sebelahnya. Ia mengangkat Reysha ala bridal style lalu segera membawanya kedalam. Marisa datang dengan wajah panik, kenapa putranya membawa Reysha seperti itu?
"Reysha kenapa Zam?" tanya Marisa.
"Tidur Bun" jawab Azzam setelah itu Marisa bernafas lega lalu tersenyum.
"Ya udah sana bawa ke kamar" kata Marisa membuat Azzam mengangguk.
Azzam menidurkan tubuh Reysha dengan pelan agar gadis itu tidak bangun. Setelah posisi gadis itu sudah benar Azzam melepaskan sepatu Reysha dengan hati-hati.
"Nghh-" Reysha berguman sambil mengubah posisinya, untung saja Azzam telah selesai melepas sepatunya.
Azzam juga merasa ngantuk dan lelah, setelah itu ia ikut merebahkan dirinya di samping Reysha. Dengan tiba-tiba Reysha memeluknya lalu mencari kehangatan ditubuh Azzam. Azzam yang terkejut hanya bisa diam saja, setelah beberapa detik ia membalas pelukan Reysha, mengangkat kepala gadis itu agar tidur di lengannya. Azzam tersenyum tipis lalu membenarkan rambut Reysha yang menutupi wajah manisnya.
****
Pagi harinya wajah Reysha terlihat lebih cantik dari biasanya. Gadis itu menghias rambutnya dengan bandana berwarna pink yang membuat wajahnya semakin menggemaskan.
Reysha melihat Azzam yang sedang mengambil baju futsalnya di loker. Ia tersenyum manis lalu segera menghampiri Azzam. "Haii" Sapa Reysha sambil tersenyum manis.
"Ngapain?" tanya Azzam membuat Reysha langsung cemberut.
"Ngapain aja, emang gak boleh?" tanya Reysha kesal.
Azzam terkekeh lalu mengacak rambut Reysha. "Cantik" puji Azzam.
"HAH?" tanya Reysha kaget.
"Nggak" jawab Azzam lalu mengunci kembali lokernya.
"Mau mulai ya?" tanya Reysha dan Azzam mengangguk.
"Semangat ya, gue bakal duduk paling depan sambil neriakin nama lo" kata Reysha sambil menyengir, menampakkan lesung pipitnya yang samar seperti ayahnya.
"Iya, gue siap-siap dulu" kata Azzam lalu meninggalkan Reysha.
Saat Reysha berbalik, ia melihat Marvel dan Mita yang sedang jalan berdua. Ia memutar bola mata malas.
"Pagi-pagi udah liat setan aja" gumannya.
"SASA" panggil Reysha begitu kencang.
"Ngapa dah?" tanya Sasa yang sedang mengaca di cermin kecilnya.
"Cika sama Syifa? Belum dateng?" tanya Reysha sambil mencari kedua sahabatnya itu, barang kali ketindihan tas.
"Udah duluan ke tribun, kan ada doi nya" jawab Sasa sambil memakai liptint di bibirnya.
"Ya ampun jahat banget gue ditinggalin" ucap Reysha kesal. "Lo mau bareng gue nggak?" tanya Reysha.
Sasa memasukan kembali riasan wajahnya kedalam tas lalu menatap Reysha. "Ayo, gue udah cantik kan?" tanya Sasa sambil mengedipkan matanya.
"Narsis banget sih lo, mau mangkal ya?" cibir Reysha.
"Ikan hiu nabrak truk, bodo amat" balas Sasa asal.
Setelah sampai di lapangan futsal outdoor, Reysha dan Sasa langsung duduk didepan dekat Cika dan Syifa.
"Jangan sampe ada cewek centil yang ganggu bebep gue" ucap Sasa.
Tak lama kemudian tribun penuh dengan anak sekolahnya dan sekolah lawan. Reysha melambaikan tangan pada Azzam saat cowok itu dan timnya memasuki lapangan.
"Aaaa...mau mimisan liat cowok gue cakep banget" ucap Cika tiba-tiba alay.
"Istighfar" Kata Reysha sambil tertawa.
"Aduh jantung gue mendadak lemah ni" ujar Sasa sambil memegang dadanya.
"Ya ampun kak Azzam ganteng banget hiks..." guman Reysha yang mampu didengar Sasa.
"Cieee sama kak Azzam cieee" goda Sasa membuat pipi Reysha merona.
"Apaansih" balas Reysha malu.
Pertandinganpun dimulai, fokus Reysha hanya pada Azzam. Cowok itu yang sangat terlihat diantara yang lainnya, tubuh jangkungnya membuat ia sangat terlihat tampan.
"KAK AZZAM SEMANGAT" pekik Reysha membuat Azzam menoleh lalu tersenyum tipis.
"Gila disenyumin doi, mana ganteng banget lagi anjir." ucap Cika membuat Reysha terkekeh geli.
"GOALL...." teriak orang-orang.
Reysha kaget karena tidak melihat, lalu mengomel pada Cika. "Ah Cika gara-gara lo nih, siapa yang cetak golnya?" tanya Reysha.
"Kak Azzam Sa." jawab Cika membuat Reysha tersenyum senang.
"Gila gue gak nyangka anak Futsal sekolah kita jago-jago." ujar Syifa kagum.
Pertandingan babak pertama selesai, di menangkan oleh tim Azzam dengan poin 3-2. Tentu saja itu membuat sekolah sebelah tak terima, bisa dilihat dari wajah suporternya yang masam.
"Semangat babak keduanya kak" ucap Reysha membuat Azzam mengangguk singkat lalu pergi menghampiri temannya.
Sepuluh menit kemudian babak kedua dimulai, kali ini pertandingan semakin panas. Sorak semangat dari antar sekolah begitu menggema di lapangan yang luas ini. Reysha dan yang lain terlihat energik saat berteriak menyemangati. Pertandingan ini lebih ramai daripada pertandingan basket Arvin minggu lalu.
"GOALL...." kini Bian yang mencetak poin membuat penonton berteriak senang.
Azzam membawa bola menuju gawang lawan, tapi lawannya itu menarik baju Azzam membuatnya kesulitan.
"Woy itu yang rambutnya kaya jamet curang lo!!" teriak Reysha kesal disusul oleh sorak tak terima anak laki-laki.
"Curang lo goblok" teriak mereka kompak.
Azzam menepis tangan cowok yang menarik bajunya. "Main yang benar kalau lo bisa" Kata Azzam dingin.
Peluit terdengar nyaring "Tidak papa Pak, lanjutkan aja" kata Azzam saat wasit ingin memberi kartu kuning. Azzam tidak sampai terluka, itu hanya pelanggaran biasa jadi lewatkan saja.
Pertandingan dilanjutkan kembali. Tidak Tanggung-tanggung tim Azzam mencetak 6 poin. Kini sekolahnya lah yang menang, curang bukan jalan yang benar untuk menang. Berambisi besar untuk menang itu bagus, tapi jangan sampai berbuat curang dan memalukan nama sendiri.
Pertandingan telah selesai, penonton sekolah sebelah tentu saja kecewa. Mereka tidak bisa membawa piala itu pulang ke sekolahnya. Azzam dan timnya ber-tos ria karena menang.
Reysha dan teman-temannya menghampiri Azzam, ia sempat berdebat dengan lawan Azzam tadi ketika melewatinya.
"Selamat ya" ucap Reysha seraya tersenyum sangat manis.
"Thanks" balas Azzam sambil mengelap keringatnya.
"Mau hadiah nggak dari gue?" tanya Reysha tersenyum penuh arti.
"Apa?" tanya balik Azzam.
"Nggak disini" jawab Reysha lalu menarik lengan Azzam menuju tempat yang sepi.
"Kok kesini?" tanya Azzam bingung karena Reysha membawanya ke dalam UKS yang tampak sepi.
"Mau hadiah nggak?" tanya Reysha malu-malu.
"Apa?" tanya Azzam lagi, ia benar-benar bingung hadiah apa yang akan Reysha berikan padanya.
"Sini" panggil Reysha membuat Azzam menurunkan sedikit bahunya.
Cup
Reysha mencium pipi Azzam "Selamat ya atas kemenangannya my husband, itu hadiah dari gue." Kata Reysha sambil berlari keluar.
Azzam masih setia dengan posisinya, ia masih membeku ditempat karena syok. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, hawa menjadi semakin panas, perasaan aneh mulai ia rasakan. "Sial" guman Azzam sambil memegang pipinya yang memanas.