
Saat tengah menyusuri jalan mencari Alesha, tiba-tiba Rey melihat sekerumunan orang-orang mengitari wanita yang tergeletak di tengah jalan.
Rey langsung menghampiri segerombolan orang tersebut mencari tau apa yang terjadi.
Deg!
Sesampainya di sana tubuh Rey menegang melihat wanita yang tergeletak di pinggir jalan itu adalah istrinya. Ia menerobos kerumunan tersebut lalu mengangkat kepala Alesha ke pangkuannya.
"Mas kenal sama dia ya" tanya seorang ibu-ibu.
"Dia istri saya bu" jawab Rey
"Tadi dia pingsan"
Rey langsung memesan taksi online, karena tidak mungkin ia membawa Alesha ke rumah sakit dengan motornya.
"Alesha,Mas mohon bangun sayang" lirih Rey mencium kening Alesha.
Lima belas menit kemudian mereka telah sampai di rumah sakit, Rey langsung membopong Alesha.
"Suster, tolong istri saya" ujar Rey yang langsung di bantu beberapa perawatan membawa Alesha untuk di periksa.
Dokter yang menangani Alesha akhirnya keluar membuat Rey langsung menghampirinya.
"Gimana keadaan istri saya dok?" tanya Rey dengan raut wajah khawatir.
"Bapak tenang aja, istri anda tidak kenapa-kenapa. Dia hanya kecapean, dan tolong kandungannya di jaga ya pak"
"M-maksud dokter?" tanya Rey takut salah dengar.
"Apa bapak tidak tau kalau istri bapak sedang hamil" tanya dokter
"H-hamil? Istri saya hamil dok?"
"Iya,kandungannya sudah memasuki usia tiga minggu" ujar dokter tersebut kemudian pamit meninggalkan Rey yang langsung memasuki ruang rawat Alesha.
Rey duduk di samping brankar istrinya, tangannya menggenggam erat telapak tangan Alesha sambil mengucap syukur berkali-kali.
Saat mata Alesha mulai mengerjap, Rey langsung tersenyum "Assalamu'alaikum Zaujati" salam Rey dengan senyum lebar.
Tetapi senyum Rey langsung luntur kala Alesha langsung membuang mukanya enggan menatap Rey.
"Sayang, maafin Mas ya, waktu itu mas gak bermaksud nuduh kamu" lirih Rey menatap sendu Alesha.
"Mas minta maaf Sha, Mas mohon maafin Mas, Mas janji akan bersikap lebih baik lagi sama kamu, kita mulai semuanya dari awal lagi ya sayang. Demi anak kita"
Deg!
Anak? Apa maksud pria dihadapannya ini. Anak siapa yang dia maksud.
"Anak?" guman Alesha yang masih bisa di dengar Rey.
"Iya, anak kita Sha, kamu hamil" ujar Rey mengusap perut rata Alesha.
Alesha masih tidak percaya ada nyawa dalam perutnya, ia memegang tangan Rey yang ada diperutnya.
Alesha tersenyum tipis membayangkan akan ada anak kecil yang memanggilnya Mama. Tapi ia ingat kembali betapa bencinya ia kepada Rey dan Safira, ia tidak ingin lagi serumah bersama mereka.
"Aku mau pulang" ucap Alesha
"Mas urus administrasi nya dulu ya, setelah itu kita pulang" ujar Rey mencium tangan Alesha.
"Aku mau pulang ke rumah ayah"
Senyum Rey makin menghilang, kenapa Alesha masih tidak ingin pulang dengannya.
"Mas mohon kita pulang ke rumah ya sayang" ucap Rey mengecup kening istrinya.
Alesha memalingkan wajahnya dengan mata yang berkaca-kaca, Rey menghela nafas kasar sebelum mengiyakan permintaan Alesha.
Setelah selesai membayar administrasi, Alesha diperbolehkan pulang dengan syarat harus meminum vitamin yang telah diberikan dokter.
"Assalamu'alaikum" salam Rey dan Alesha ketika memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam" jawab Mega
"AYAH, ABANG, CEPETAN SINI" pekik Mega yang merasa senang.
"Bunda apa-apaan sih teriak-teriak" gerutu Alan berjalan menghampiri bundanya.
"ALESHA" pekiknya kala melihat adik tercinta.
Bimo pun tak kalah bahagia melihat putrinya "ajak masuk anaknya bun" ucap Bimo.
Setelah duduk di ruang tamu Alesha langsung memeluk Mega.
"Ayah,bunda, Alan. Ada kabar bahagia buat kalian semua" ujar Rey membuka suara.
"Kabar apa bang?" tanya Alan
"Alesha hamil"
Mega langsung memeluk putrinya dan mengusap perut rata Alesha, sedangkan Bimo langsung memberi selamat ada Rey yang akan menjadi ayah.
"Selamat ya Rey, akhirnya kamu bakal jadi seorang ayah"
"Gue bakal jadi om dong" ujar Alan tak kalah senang.
"Makasih banyak, ini berkat doa kalian semua"
*****
Rey kini berada di dalam kamar Alesha sambil menunggu istrinya yang masih berada di kamar mandi.
Dua puluh menit kemudian Alesha keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk yang ada di kepalanya. Ia duduk di depan meja rias untuk memakai skincare yang ia pakai, skincare Alesha masih banyak ada di rumah ini jadi jika ia menginap maka ia masih bisa memanjakan wajahnya.
Rey mendekati Alesha dan memeluknya dari belakang, ia mengecup pucuk kepala Alesha dengan penuh sayang.
"Makasih sayang, kamu udah wujudin cita-cita aku buat jadi seorang ayah, maafin Mas kalau selama ini masih gagal menjadi seorang istri, tapi Insya Allah Mas akan berusaha menjadi suami dan ayah yang lebih baik lagi untuk kamu dan anak kita" ujar Rey mengusap lembut perut datar Alesha.
Alesha tidak menjawab ucapan Rey. Rey hanya tersenyum tipis kemudian mengambil handuk dari atas kepala Alesha dan mengeringkan rambut istrinya.
"Oh iya, Minggu depan kan acara resepsi pernikahan kita, kamu mau konsep yang kaya gimana?" tanya Rey melirik Alesha dari kaca.
"Terserah"
"Ibu mau ngundang banyak orang, ayah sama bunda juga gitu, dan aku juga mau ngundang temen-temen aku buat hadirin pesta kita, kamu mau request sesuatu?" tanya Rey
"Ngga" jawab Alesha singkat.
Rey menghela nafas panjang lalu membalikan tubuh Alesha agar menghadapnya" Alesha Mas mohon maafin Mas, Mas lebih suka kamu yang marah dan lampiasin semuanya ke Mas, jangan diem kaya gini, Mas gak tahan di diemin kamu Sha"
"Maaf" cicit Alesha menundukkan kepalanya, sontak Rey langsung memegang dagu Alesha agar menatapnya.
"Kamu gak salah"
"Maafin aku karena aku masih mencintai pria lain, maafin aku kalau selama ini aku belum ikhlas menjalani semua ini, maaf" lirih Alesha dengan mata berkaca-kaca.
Rey langsung mendekap erat tubuh Alesha, mencium pucuk kepala Alesha dengan sayang.
"Maafin aku kalau setelah ini aku bakal berubah sikap kepada kalian, jujur hati aku sakit menerima kenyataan bahwa dia yang telah menabrak Alvin, andai aku tau aku gak bakal mau masuk ke dalam hubungan ini, ini sama aja aku menghianati Alvin hiks hiks"
Hati Rey mencleos, Alesha menyesal menikah dengannya?
"Alesha Mas mohon berhenti sebut namanya, Mas benci saat kamu sebut nama pria lain dihadapan Mas, ingat Alesha sebentar lagi kamu bakal menjadi seorang ibu, lupain dia, ikhlasin dia"
"Gimana kalau kondisinya dibalik, apa bisa Mas lupain Safira yang udah lama nemenin Mas dan berpaling pada orang baru?"
Rey hanya diam, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Alesha.
"Nggak kan? Jadi jangan pernah sok-sokan nyuruh aku lupain dia" ucap Alesha mendorong pelan tubuh Rey agar menjauh.
Dibalik pintu Ira mendengar pembicaraan putranya dan menantunya. Niat hati ia ingin mengucapkan selamat kepada Alesha karena telah memberikan cucu untuknya, namun ia urung, ini bukan waktu yang tepat untuk mengganggu keduanya.
"Kok malah berdiri di sini Bu?" tanya Mega yang tidak sengaja melihat Ira ada di depan pintu kamar putrinya.
"Ah tadi saya mau ngucapin selamat, tapi kayaknya Alesha lagi istirahat deh, jadi besok saya bakal ke sini lagi sambil menanyakan tentang acara resepsi pada Alesha.
"Ya udah kita makan malam bersama yuk" ajak Mega yang diangguki Ira.