Until the End

Until the End
tetangga julid



"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."


(Q.S Al-Baqarah:183)


Happy reading!!!!!!!


Ramadan biasa dicari sebagai bentuk pemahaman mengenai bulan suci Ramadan.


Di bulan ini, pahala akan dilipat gandakan dan doa-doa akan dikabulkan. Maka dari itu, memperbanyak amal dan ibadah sangatlah baik di bulan penuh berkah ini. Namun, alangkah lebih baiknya jika kamu memahami pengertian Ramadan yang sesungguhnya. Dengan begitu, kemuliaan akan lebih mudah dinikmati pada bulan ini.


Ramadan dirayakan oleh umat Muslim di seluruh dunia dengan puasa dan memperingati turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.


Puasa Ramadan hukumnya merupakan fardhu (wajib) untuk Muslim dewasa. Puasa Ramadan dapat tidak dilakukan jika seseorang mengalami halangan untuk melakukannya seperti sakit, dalam perjalanan, sudah tua, hamil, menyusui, atau menstruasi.


Keputusan untuk menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan diturunkan 18 bulan setelah Hijrah, yaitu pada bulan Sya'ban pada tahun kedua Hijrah pada tahun 624 Masehi.


Di malam Ramadan, umat Muslim juga dianjurkan untuk melakukan ibadah shalat malam atau yang biasa disebut dengan shalat Tarawih. Shalat Tarawih dilakukan usai shalat isya dan dapat dilakukan secara sendiri atau berjamaah.


Usia kandungan Alesha sudah memasuki bulan keempat, dan besok adalah bulan Ramadan, tentu saja Alesha ingin ikut berpuasa. Dia sudah berkonsultasi dengan dokter yang disarankan Ira, dan dokter mengatakan bahwa Alesha boleh ikut berpuasa jika janin dan ibunya merasa kuat.


Kini Alesha sudah mengenakan mukenah dan duduk manis di ruang tamu sambil menunggu Rey dan Safira bersiap-siap. Alesha sangat antusias pada ramadhan kali ini dikarenakan ini tahun pertamanya berpuasa bersama sang suami.


"Udah siap?" tanya Alesha yang melihat Rey dan Safira menghampirinya.


"Udah kok,yuk kta berangkat" ajak Safira, mereka berjalan mengikuti Rey yang berjalan di depannya.


Di perjalanan menuju masjid mereka bertemu dengan segerombolan ibu-ibu komplek yang sering julid dengan kehidupan orang lain,mereka juga akan pergi ke masjid bersama keluarganya masing-masing.


"Assalamu'alaikum" salam salah satu suami dari ibu-ibu tersebut.


"Wa'alaikumussalam"


"Ih kok bisa-bisanya ya Mas Rey punya istri dua, padahal mba Safira udah cantik,baik lagi masih aja di duain"


Safira hanya membalas dengan senyuman, ia risih dengan pertanyaan ibu-ibu tersebut, sungguh kenapa mereka terlalu mencampuri urusan keluarganya.


"Kecil-kecil udah jadi istri kedua" cibir Bu Maya salah satu ketua geng julid tersebut.


"Duh Pak Abdul gak tau aja enaknya punya istri dua, beuhh mantap kan Mas Rey, hari ini sama istri pertama besoknya sama yang kedua, apalagi diurus dua istri rasanya enak banget, Pak Abdul gak mau nyoba?" tanya Alesha yang membuat Bu Maya ingin meledak saat itu juga.


"Heh bisa-bisanya kamu nyuruh suami saya nikah lagi" pekik Bu Maya yang membuat Rey dan Safira menahan tawa.


"Saya cuma ngasih tau enaknya punya istri dua, apalagi ya ibu taulah Mba Safira cantik baik, saya baik hati dan tidak sombong, coba bayangin Pak Abdul kalo punya istri baik pasti seneng deh kaya Mas Rey aura tampannya makin hari makin nambah"


"Kamu gak ada adab banget ya pelakor"


"Lah kok ngamok"


"Udah-udah Sha jangan diladenin" ucap Safira menarik adik madunya itu agar tidak membuat keributan, dimana Alesha sedang sensitif akan omongan-omongan orang karena hormon kehamilannya.


"Kesel banget aku" ucap Alesha berjalan mendahului Safira dan Rey.


Rey dan Safira saling pandang dan terkekeh bersama melihat tingkah laku Alesha yang semakin hari sifatnya makin seperti anak kecil.


Setelah selesai melaksanakan sholat tarawih, kini mereka bertiga berjalan menuju rumah sambil bercanda gurau bersama.


Orang-orang yang melihat Rey, Safira dan Alesha menatap aneh mereka, bagaimana bisa seorang istri pertama akur dengan istri keduanya, bahkan mereka terlihat hidup bahagia bersama.


Bahkan tidak sedikit orang yang memaki Safira karena bodoh membiarkan suaminya menikah lagi, ada pula yang memaki Alesha karena umurnya yang masih sangat muda sudah berani menjadi istri kedua.


Namun ada juga yang memuji Rey karena telah berhasil mendidik istri-istrinya serta salut karena adil antara pertama dan kedua.


Sesampainya di rumah Alesha langsung berjalan menuju kamarnya" aku ke kamar duluan ya, aku udah cape banget mau istirahat" ucap Alesha.


"Mau Mas pijit?" tanya Rey


"Nggak usah, Mas sama Mba Safira jangan lupa istirahat ya"


Malam ini adalah jadwal dimana Rey akan tidur bersama Safira. Rey tersenyum lalu menggandeng Safira memasuki kamarnya.


"Aku udah gak sabar deh pengen cepet-cepet gendong anak kalian" ujar Safira melepaskan mukenahnya lalu naik ke atas ranjang yang dimana Rey tengah bersandar.


"Anak kita fir" ucap Rey memejamkan matanya.


"Iya anak kita, kira-kira baby-nya cewek apa cowok ya Mas?" tanya Safira


"Mas juga gak tau fir, doain aja supaya Alesha dan bayinya baik-baik aja"


Setelah itu hening tidak ada yang membuka suaranya, Safira yang sibuk memikirkan anak yang akan ada diantara mereka, sedangkan Rey sibuk memikirkan pekerjaannya.


Mulai saat ini Rey harus mencari pekerjaan tambahan untuk biaya persalinan Alesha nanti, apalagi untuk biaya anaknya dan dia juga mau Alesha melanjutkan kuliah.


Jika Rey mau, dia bisa mengambil alih kantor ayahnya yang sekarang di kelola ibunya dan kakak iparnya, tetapi Rey ingin membuat usaha sendiri untuk menghidupi keluarganya. Biarkan urusan kantor menjadi urusan Kinan dan Danu.


Lama kelamaan Safira terlelap di samping Rey. Rey mengusap lembut surai Safira kemudian menaikan selimutnya sebatas dada dan ikut menyusul Safira menuju alam mimpinya.


*****


Pukul 03.30 pagi Safira terbangun, ia menuju dapur mempersiapkan makanan untuk sahur pertama mereka, di sela-sela kegiatannya ia dikagetkan dengan seseorang yang sudah berdiri disampingnya.


"Astaghfirullah Sha, kamu ngagetin Mba aja" ucap Safira mengelus dadanya yang serasa ingin copot.


"Habisnya Mba kenapa gak bangunin Asha, Asha juga kan mau bantuin masak" ujar Alesha mengerucutkan bibirnya sambil berkacak pinggang.


"Biar Mba aja yang masak, kasian Baby nya, kamu duduk aja ya"


"Mba curang, pasti ini biar di puji Mas Rey nih" cibir Alesha terkesan serius namun itu semua hanya candaan.


Safira menggelengkan kepalanya, pagi-pagi seperti ini Alesha sudah membuatnya tersenyum, bisa-bisa jika setiap hari disatukan dengan Alesha pasti Safira akan terkena diabetes.


"Ya udah sini bantuin, kamu potongin sayurannya ya, Mba mau bikin sop buat sahurnya" Alesha mengangguk langsung mengerjakan apa yang Safira suruh.


Setelah selesai menyiapkan makanannya, Safira menyuruh Alesha untuk membangunkan Rey.


"Kamu bangunin Mas Rey sana, biar Mba yang siapin semuanya"


"Nggak ah, kan dia tidur di kamar Mba, jadi Mba aja yang bangunin" tolak Alesha merasa tidak enak memasuki kamar Safira.


"Udah cepetan sana bangunin, nanti keburu imsak kita gak bisa sahur" ujar Safira mendorong pelan Alesha agar mau membangunkan Rey.


Alesha mendengus pelan, bibirnya terus saja ngedumel sambil melangkahkan kakinya memasuki kamar Safira.


"Mas bangun yuk kita sahur" ucap Alesha menggoyang-goyangkan lengan Rey.


"Ngantuk banget" lirih Rey dengan suara seraknya.


"Ya Allah Mas, pasti kamu tadi malem begadang nih jadinya ngantuk, ayo cepet cuci muka kamu Mas"


"Bentar lagi sayang" ujar Rey yang malah menaikan selimutnya yang hampir menutupi seluruh badannya.


"Ayo Mas, kasian Mba Safira udah nungguin" rengek Alesha menarik tangan Rey.


Alesha yang mulai geram langsung menarik selimut Rey sambil menghentak-hentakan kakinya pergi keluar kamar sambil membanting pintu.


BLAM


"Astaghfirullah sayang" ucap Rey yang langsung beranjak dari tempat tidurnya menyusul Alesha takut-takut bumilnya marah.


Alesha kembali ke ruang makan dengan wajah yang kesal, seketika Safira langsung menghampirinya.


"Kenapa?"


"Tau tuh suami Mba susah banget di suruh bangun"


Rey yang mendengar ucapan Alesha langsung berjalan cepat mendekati istrinya"ini Mas udah bangun Sha" ujar Rey duduk di kursinya.


Alesha mendengus pelan dan langsung melahap makanannya tanpa peduli Rey yang tengah menatap dirinya.


"Udah yuk kita makan" ajak Safira berusaha membuat mood Alesha kembali.


"Ini masakan siapa?" tanya Rey menatap Safira yang sedang mengambilkan makanannya.


"Ini Alesha loh yang masak"


"Gak usah ngledek, aku gak bisa masak" cibir Alesha memutar bola matanya malas.


"Heh, diajarin siapa matanya kaya gitu" tegur Rey


"Kepo amat"


Rey berusaha tenang dengan sikap Alesha yang kadang berubah-ubah, dia jadi ingin terus menjahili istrinya mulai saat ini, karena dengan menjahilinya ia bisa membuat kedua istrinya tertawa, ya memang kadang Alesha yang kesal tapi Safira yang tertawa.


Bersambung..........