
Kini Rey, Safira dan Ira tengah duduk di ruang tamu keluarga Prasetia, Bimo Prasetia selaku tuan rumah memperlakukan mereka dengan sangat baik, Ira berharap rencana penyatuan dua keluarga ini akan berjalan dengan lancar.
"Pak Bimo pasti sudah tau niat kedatangan kami kesini kan?" Ucap Ira mengawali pembicaraan.
"Saya sudah tau bahkan saya masih ingat dengan ucapan suami anda bu" jawab Bimo
Sedari tadi Safira merasa canggung berada disini, tapi apa boleh buat ibu mertuanya yang menginginkan Safira ikut, mata Safira tidak berhenti mencari-cari gadis yang akan dinikahi suaminya nanti, tapi gadis tersebut tidak ikut acara makan malam karena alasan gadis itu tidak mau menampakan wajahnya sebelum sah.
"Tapi saya sudah bilang bukan kalau putra saya sebelumnya sudah memiliki istri"
"Sebenarnya saya merasa keberatan atas lamaran putri saya, tapi saya juga tidak bisa mengingkari janji saya untuk menikahkan Rey dengan putri saya, sebelumnya apa saya bisa bertanya terlebih dahulu kepada nak Rey" tanya Bimo menatap Safira dan Rey bergantian.
"Boleh silahkan pak"
"Apakah kamu bisa menerima baik buruknya putri saya, dan apakah kamu siap untuk membahagiakan dia"
"Saya janji akan menerima baik-buruknya dia, tapi masalah kebahagiaan saya hanya bisa berusaha untuk bisa membahagiakannya kelak" jawab Rey mantap, Safira yang mengerti kegugupan suaminya menggenggam erat telapak tangan Rey guna menenangkannya.
"Apakah putri saya bisa menjadi yang terakhir buat kamu setelah nak Safira"
"Saya janji"
Kini giliran Mega yang menatap lembut wajah Safira, sejujurnya ia kasihan kepada Safira dan putrinya nanti jika harus berbagi suami, tapi janji tetaplah janji yang harus ditepati.
"Apa kamu ikhlas berbagi suami Saf?" tanya Mega memegang tangan Safira.
Safira menunduk sebelum menjawab pertanyaan ibu dari wanita yang akan menjadi madunya.
"Safira ikhlas bu, bahkan Safira yang meminta mas Rey untuk menikah lagi" jawab Safira
"Panggil saya bunda Saf, bunda mohon jangan anggap putri bunda sebagai madumu, anggap dia sebagai adikmu, jika ia salah tolong beri dia pengertian tapi jika kesalahannya sudah kelewatan marahi dia tapi jangan sampai melukai hatinya karena putri bunda sangat rapuh nak" lirih Mega mengingat jika anaknya sangat rapuh.
"Safira janji bun Safira bakal anggap putri bunda sebagai adik Safira"
"Bimbing dia menjadi istri sebaik kamu ya nak" ujar Mega menangis, ia sulit melepas putri satu-satunya akan dinikahi seorang pria yang sudah beristri, bahkan istrinya sangat baik mau menerima ujian ini semua.
Safira memeluk Mega, ia rindu pelukan seorang ibu karena Safira hanyalah seorang anak yatim piatu karena orang tuanya meninggal saat ia masih berusia tujuh tahun, tapi setelah menikah dengan Rey hidupnya sangat berubah, ia dijadikan wanita yang paling sempurna oleh Rey dan ibu mertuanya, tapi setelah mengetahui keadaan Safira ibu mertuanya kian berubah menjadi sangat ketus kepadanya, namun kini ia bisa merasakan kembali pelukan seorang ibu yang tulus.
Rey menatap kagum istrinya yang sangat tegar, tapi apakah tega kedepannya ia terus-terusan menyakiti Safira? Dan apakah dia bisa adil akan istrinya yang lain sama seperti ia memperlakukan Safira layaknya ratu dihatinya.
Dilain sisi seorang gadis tengah berguling-guling diatas ranjang dan sesekali menjambak rambutnya sendiri.
Bagaimana ia bisa melukai perasaan wanita lain demi kebahagiaan orang tuanya? Sesakit apa wanita itu ketika suaminya akan menikahi wanita lain, dan setegar apa dirinya berpura-pura didepan banyak orang.
Ia bisa saja menolak permintaan ayahnya, tapi ia tidak mau ayahnya mengingkari janji kepada temannya, ia memejamkan mata menerawang masa depannya kelak.
Seorang pria tengah duduk didepan ruang tamu bersama seorang wanita dengan menikmati secangkir kopi hangat sambil menonton drama romantis.
"Mas aku cantik kan?" tanya wanita tersebut
"Cantik banget sayang" jawab si pria sambil mencium gemas pipi istrinya.
"Jadi malu, tapi beneran kan aku cantik body aku juga bagus, pasti kamu makin cinta kan sama aku mas"
"Pasti dong sayang, mas cinta banget sama kamu, kamu istri mas satu-satunya, mas terpaksa nikahin dia karena dia bisa ngasih mas keturunan jadi setelah dia melahirkan mas akan bawa anaknya, kita akan bahagia cuma ada mas,kamu dan anak kita sayang" ujar si pria memeluk mesra pinggang istrinya.
"Mas pinter banget deh jadi makin sayang, lagian dari segi wajah body juga masih bagusan aku"
"Hahahaha" mereka tertawa bersama
"NGGAKKK" teriaknya membayangkan jika dirinya hanya dijadikan mesin cetak anak oleh si pria tersebut.
"Dek, kamu kenapa kok teriak-teriak"
"Heheh nggak papa bang, tadi gue cuma mimpi aja soalnya ketiduran"
"Masih sore kaya gini lo udah tidur?"
"Dek lo yakin mau jadi istri kedua?" tanya sang Abang.
"Yakin lah bang, gue yakin banget pasti ini jalan terbaik biar ayah nepatin janjinya" lirih gadis tersebut, walau bagaimanapun ia harus tetap menepati janji ayah kepada temannya itu.
"Lo sanggup jalanin ini semua?"
"Sanggup gak sanggup gue harus sanggup bang"
Pria itu menghela nafas kasar, ia sangat khawatir jika adiknya tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya ia dapat dari seorang suami karena suaminya lebih mencintai istri pertamanya.
*****
Alan menuruni tangga untuk bertemu dengan calon suami adiknya, namun ditangga terakhir ia membelalakan matanya ketika mendapati kakak tingkat semasa SMA ada dirumahnya.
"Bang Rey?" panggil Alan , Rey spontan menengok mendapati namanya dipanggil.
"Alan?" kaget Rey
"Kok lo bisa disini bang?" tanya Alan duduk disamping bundanya.
"Loh kalian udah kenal" bingung Ira menatap putranya.
"Iya bu, Alan ini adik kelas Rey dulu" ucap Rey menjawab kebingungan ibunya.
"Jadi bang Rey yang akan jadi suami adik gue?"
"Iya"
Alan menghela nafas lega, setidaknya adik kesayangan Alan jatuh ditangan orang yang tepat.
Mengapa Alan menganggap Rey orang yang tepat padahal tadi ia sangat mengkhawatirkan masa depan adiknya?
Jawabannya adalah karena ia percaya Rey akan berbuat adil pada istri pertama dan istri keduanya, ia tau Rey sangat menghormati seorang wanita sebagaimana ia menghormati ibunya.
"Bang Rey, kalo suatu saat lo beneran jadi suami adik gue, gue cuma mau bilang jangan pernah sakiti hati adik gue, bahagiain dia seperti lo bahagiain istri pertama lo, gue yakin adik gue gak bakal egois buat miliki lo seutuhnya tanpa berbagi karena adik gue cuma minta bimbingan dari lo" ujar Alan menatap lekat iris mata hitam milik Rey.
"Impian dia cuma satu, dia ingin memiliki suami yang mampu merubah dan membimbingnya suatu saat nanti, impian dia sederhana tapi bermakna"
Rey mengangguk mantap, ia berjanji akan membimbing istri-istrinya kelak dan akan bersikap adil kepada mereka berdua.
"Bun,yah,tante,bang Rey dan juga mba, Alan cuma mau nyampein permintaan Asha, dia mau pernikahan ini disembunyikan dan dia juga mau pernikahan ini cuma dihadiri kita sekeluarga aja, karena Asha takut dibully hamil diluar nikah karena menikah disaat masih sekolah"
Asha adalah panggilan sayang Alan untuk adiknya, ia menyampaikan semua kemauan Asha, bukan hanya itu saja alasan Asha meminta pernikahannya disembunyikan, tapi Asha takut jika ia akan menjadi bahan gosipan kalo telah merebut suami orang. Cukup ia dan keluarganya saja yang tau akan pernikahan ini.
"Ayah terserah keluarga bu Ira saja, jika tidak keberatan" ujar Bimo
"Saya setuju saja apa permintaan calon menantu saya"
Safira tersenyum miris mendengar ucapan mertuanya, dulu juga ibu mertuanya sangat manis dan juga memanjakan Safira, tapi itu dulu bukan sekarang.
"Tapi suatu saat nanti semua orang harus tau kalau putri Bimo Prasetia adalah istri dari Rey Prayoga"