
"Secepatnya kamu harus kasih tau istri kamu Rey" ujar Hakim.
Rey menghela nafas saat Hakim alias dokter yang menanganinya selama ini menyuruh Rey untuk segera memberi tahu Alesha.
Selama ini, Rey bukan sibuk dengan pekerjaannya melainkan sibuk menghabiskan waktunya hanya untuk bolak balik rumah sakit.
"Saya nggak bisa." jawab Rey.
"Kenapa? kamu udah liat hasil tes kesehatan kamu barusan. Dan di situ tertera kalau kamu terkena kanker otak. kamu harus segera ngasih tau Alesha dan bilang sama dia kalau kamu bakal ngelakuin kemoterapi," ucap Hakim,Memang benar Rey selama ini terkena kanker otak dan masih stadium awal. Rey juga baru tahu mengenai hal ini setelah melihat hasil tes kesehatannya yang dilakukan dua bulan yang lalu.
Rey tidak marah ataupun kecewa dengan keadaannya saat ini. Rey justru berusaha menerima kenyataan bahwa dirinya memiliki penyakit mematikan seperti itu. Tapi meski begitu, Rey tidak mau jika keluarganya tahu kalau dirinya sakit. Rey tidak ingin membebankan mereka dengan penyakitnya. Rey tidak mau melihat anak dan istrinya bersedih karena memiliki suami sekaligus Ayah yang berpenyakitan sepertinya.
"saya nggak mau bikin alesha sedih kalau tau keadaan saya. Apalagi Alesha sedang mengandung anak kedua kita. saya nggak mau nambahin beban pikirannya. Biar saja saya yang menanggung semuanya dok. saya pengen Alesha cuma fokus sama kehamilannya dan putri kami saat ini."
Hakim ikut menghela nafasnya, "Terus kemoterapinya gimana?" ujar Hakim menatap serius Rey.
"Rasa sakit saya yang sekarang masih bisa saya tahan. Kalau misalkan saya berobat jalan aja bisa nggak?" tanya Rey berharap dirinya masih bisa menemani masa-masa kehamilan Alesha.
"saya tidak menyarankan itu. saya lebih setuju kalau kamu kemo. Tapi balik lagi, semua keputusan ada di tangan kamu. yang penting saya udah ngasih tau apa dan gimana dampaknya kalau kamu menunda-nunda perawatan." jawab Hakim.
"Iya saya paham. Tolong jangan kasih tau siapa-siapa tentang penyakit saya. Termasuk ibu dan Mba Kinan." ujar Rey. Selain menjadi dokter, Hakim juga masih kerabat jauh keluarga Prayoga.
"Oke. Tapi kalau kamu ngerasa udah nggak kuat, cepat kasih tau saya." ujar Hakim yang langsung diangguki Rey.
*****
"Mas, hari ini kamu kerja?" tanya Alesha, ia meletakan kepalanya di atas dada Rey. mereka itu baru saja bangun dari tidurnya.
"Iya sayang,lagian Mas juga udah sedikit enakan. ujar Rey dengan suara yang terdengar parau.
Rey menatap Alesha sambil tersenyum. Kemudian ia mengecup bibir istrinya "Mas mandi dulu ya?"
Alesha mengangguk, "Yaudah aku mau buat sarapan juga."
Rey kembali mencium bibir Alesha. Ini memang sudah menjadi rutinitas pagi bagi mereka berdua sejak pertama kali menikah.
Setelah beberapa detik, Alesha menjauhkan wajahnya dari Rey. "Mandinya jangan lama-lama Mas. Aku tunggu di meja makan."
Alesha pergi ke dapur dan membuat sarapan untuk suami dan anaknya. Tidak banyak makanan yang Alesha buat. Alesha hanya menghangatkan makanan kemarin sore yang sengaja di beli untuk sarapan pagi ini.
"Siang aku ke kantor ya Mas, aku mau bawain makanan buat kamu." ucap Alesha saat melihat Rey keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapih dan siap untuk bekerja.
"Nggak ngerepotin?" ujar Rey memberikan dasi kepada Alesha agar membantu memakainya.
"Ya engga dong. Kan aku juga udah sering nganterin makanan buat kamu." jawab Alesha mengalungkan tangannya di leher Rey.
Rey tersenyum hangat, "Oke. Nanti kamu tinggal kabari Mas aja, kalau udah di kantor."
"Mas berangkat sekarang ya, yang."
"kamu sarapan dulu Mas."
"Nggak sayang, Mas buru-buru, Assalamualaikum." ujar Rey mencium kening istrinya.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati."
*****
ALESHA pergi ke kantor Rey sebelum jam makan siang. ia juga sengaja tidak membawa Risa karena putrinya itu sedang di ajak jalan-jalan bersama orang tua Alesha.
Refan berbalik menatap Alesha dan tersenyum manis saat wanita itu berlari ke arahnya." Kamu jangan lari-lari Sha, saya ngeri tau gak liat perut kamu." ujar Refan bergidik ngeri.
"Hehehe lupa kalau lagi hamil Pak." ujar Alesha cengengesan.
"Kamu mau nganterin makan siang buat Rey ya? ngomong ngomong Risa mana? kok gak ikut?" tanya Refan yang tidak melihat Risa.
"Iya,aku mau anter makanan buat Mas Rey, tadi Risa di ajak ayah sama bunda jalan-jalan." ujar Alesha.
Refan hanya membulatkan mulutnya. Setelah itu ia pamit pulang ke kantornya karena masih ada banyak kerjaan, tapi itu semua hanya alibi Refan. Sebab dia tidak mau kelamaan berinteraksi dengan Alesha dan menambah sakit saat dirinya sadar jika Alesha adalah istri rekan kerjanya yang tidak bisa ia gapai.
Alesha membuka pintu ruangan Rey dengan perlahan. Rey sepertinya sangat sibuk, ia bahkan tidak sadar akan kehadiran Alesha.
Alesha berdehem, membuat Rey mendongak menatapnya. "Loh kamu udah datang sayang?"
Alesha menghampiri Rey dan duduk tepat di hadapannya."Iya sengaja, soalnya anak Mas udah kangen." jawab Alesha.
Rey tersenyum. Ia menutup laptopnya dan menuntun Alesha untuk duduk di sofa yang berada di ruangannya, "Jadi anak Papa lagi kangen ya." ucap Rey mengusap perut Alesha.
Alesha memeluk Rey dari samping, "Tau nggak? Dari tadi aku pengen peluk kamu banget. Kayaknya kali ini bayinya bakal suka sama kamu deh." ujar Alesha.
Rey membalas pelukan istrinya, "Yakin yang suka sama Papa bayinya doang? Mama nya emang engga?"
"Mama juga dong," Alesha semakin erat memeluk Rey. Alesha pikir Rey juga akan mengeratkan pelukannya juga. Tapi yang Alesha rasakan adalah pelukan Rey semakin lama semakin mengendur.
"Mas? Kok pelukannya malah di lepas?" tanya Alesha mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Rey.
Mata Alesha seketika membelalak saat melihat Rey ternyata sudah tidak sadarkan diri.
"Mas? Bangun Mas!" Alesha menepuk-nepuk pelan pipi Rey.
"Mas Rey! Bangun," tanpa sadar air mata Alesha jatuh karena panik dan khawatir akan keadaan suaminya.
"Mas Danu!" Alesha berteriak memanggil nama kakak iparnya. tanpa menunggu lama, ia masuk ke dalam ruangan Rey. Danu terlihat kaget melihat Rey yang tidak sadarkan diri.
"Mas Danu, tolong cepet telpon ambulance." ujar Alesha semakin panik melihat wajah pucat suaminya.
"Ambulan pasti lama Sha, biar kita bawa Rey aja, Mas mau minta bantuan orang buat gendong Rey ke mobil saya." ujar Danu berlari ke luar ruangan untuk mencari bantuan dan menyiapkan mobilnya.
"Mas Rey bangun please," Pinta Alesha dengan air mata berderai, "Mas bangun, aku takut terjadi sesuatu sama kamu."
Beberapa orang masuk untuk membawa Rey ke mobil Danu, Alesha ikut serta berlari mengikuti suaminya.
"Kamu yang sabar Sha, Mas yakin Rey baik-baik aja." ucap Danu berusaha menenangkan Alesha yang terus saja menangis.
Alesha tidak menggubris perkataan Danu, ia hanya sibuk merapalkan doa agar suaminya baik-baik aja.
"Aku mohon Mas, jangan bikin aku khawatir."
"Mas Danu, jangan beritahu ibu atau Mba Kinan dulu, aku takut terjadi sesuatu sama ibu karena panik." ujar Alesha.
"Tapi Sha." ujar Danu hendak protes.
"Aku mohon Mas." Danu hanya mengangguk pasrah.
Bersambung...............