Until the End

Until the End
Salah sasaran



Alesha hanya tidur sebentar, tetapi suaminya sudah membuat ulah, sehingga tukang sayur sampai pingsan dan dibawa ke ruang tamu.


Bu RT, Bi Ijah serta kawan-kawan sampai terkejut melihat tukang sayur pingsan di depan rumah Alesha


"Kenapa bisa Mang Cecep sampai pingsan begini Pak Rey?" tanya Bu RT membuat Rey yang duduk di sofa single menggeleng pelan.


"Nggak tau." jawab Rey dengan datar.


Alesha menggeplak bahu sang suami saat Rey menyahut.


Bi ijah tertawa pelan, "Cemburunya gak usah kebangetan begitu Pak Rey," godanya membuat Rey hanya tersenyum tipis.


"Iya loh, sampai mang cecep pingsan begini," sahut ibu-ibu lainnya menunjuk mang asep yang sedang diperiksa Dokter.


Alesha menatap ketiga Ibu-ibu tersebut dengan senyum sungkannya. "Maaf Bu, Mas Rey emang begitu orangnya, mohon dimaklumi," ujarnya membuat Bu RT terkekeh pelan.


"Gak papa atuh Mbak Alesha, tandanya Pak Rey cinta sama Mbak Alesha sampai cemburunya nggak tau tempat," kata Bu RT, dibalas Rey dengan anggukan semangat.


Bi ijah sampai gemas sendiri melihat tingkah laku majikannya itu.


Beberapa menit kemudian setelah diperiksa oleh Dokter, dan Dokter berkata mang cecep hanya kelelahan saja, kemudian dokter tersebut undur diri, sedangkan mang cecep membuka mata, dan pandangan pertama yang ia lihat adalah rumah megah yang ditangkap netranya.


"Saya dimana ini?" tanya mang cecep.


Semua orang langsung menghampiri mang Cecep yang sudah membuka matanya.


"Mang cecep baik-baik aja?" tanya Bu RT heboh membuat mang cecep menatap malas Ibu-ibu rempong tersebut.


Alesha memberikan segelas air putih pada mang cecep, tetapi langsung dihadang oleh Rey.


"Biar Mas aja yang kasih air putihnya," kata Rey mengambil gelas berisi air putih tersebut.


Alesha pun mengiyakan saja, sebab tidak ingin membuat masalah, karena ada tetangga.


Mang cecep tersentak kaget saat segelas air putih diangsurkan padanya, netranya mendongak, membuat mang cecep langsung tersedak air liurnya sendiri.


"Eh Mas Rey."


Rey menatap datar mang cecep, membuat ketiga Ibu-ibu mengulum senyum menatap lelaki beda usia yang sedang menatap satu sama lain.


Bu Rt menghampiri Rey, lantas mengambil alih gelas tersebut, kemudian diberikan pada mang cecep.


"Mas Rey jangan salah paham atuh, Mang Cecep itu udah punya istri sama anak," jelasnya membuat Rey tercengang.


"Bukannya dia duda?" ujar Rey.


Semua orang lantas tertawa mendengar pertanyaan Rey, begitupun Alesha juga. Alesha tidak menyangka bahwa terkadang sikap posesifnya bisa membuat tawa tercipta, sehingga menimbulkan gelak tawa orang disekitarnya.


"Istri saya Alhamdulillah masih hidup, anak saya juga sehat wal afiat Mas Rey, jahat banget doain saya duda, mau nanti istri Mas Rey saya rebut?" ujar mang Cecep.


"Enak aja main rebut rebut bini orang."


Setelah keadaan membaik mang Cecep diantar satpam komplek pulang ke rumahnya, begitupun juga dengan ibu-ibu yang sudah pulang duluan.


*****


Rey membuat bubur untuk Alesha yang sedang sakit, sedangkan Haidar sedang belajar di kamarnya sendiri.


Alesha demam, dan Rey pun langsung memanggil dokter saat sang istri terus menolak. Rey tidak tega melihat wajah pucat Alesha, kalau saja ia bisa menggantikan, ia akan bertukar posisi di tempat sang istri.


"Pak Rey, biar saya yang buat buburnya, Pak Rey bisa tunggu di kamar saja." Bi Ijah muncul dari arah belakang membuat Rey sedikit terkejut.


"Tidak usah Bi, ini juga mau selesai kok, saya minta tolong buatkan sop ayam bisa?" tanya Rey.


Bi Ijah mengangguk, "Bisa kok Pak, sebentar saya buatkan."


"Nanti kalau sudah jadi langsung bawa ke kamar ya Bi, saya ke atas dulu," ujar Rey seraya meletakkan bubur buatannya ke atas nampan.


Bi Ijah menoleh dengan panci di tangannya, "Iya Pak."


Rey pun menaiki tangga menuju lantai atas, membuka pintu kamar, dan meletakkan nampan diatas nakas. Pandangannya langsung menatap sang istri yang terlihat meringkuk dibalik selimut tebal yang tadi Rey selimutkan ditubuh istrinya.


"Sayang? Makan dulu, udah Mas buatin bubur," katanya sembari duduk di sisi ranjang, dan mengusap lembut pucuk kepala Alesha yang jilbabnya sudah Rey buka tadi.


"E-engga Mas, Asha mau tidur aja," lirih Alesha seraya mengeratkan pegangannya pada selimut tebal.


Rey mendekat, mencium gemas pucuk kepala Alesha, mengusap keringat di kening sang istri, lalu menarik lembut tubuh Alesha untuk mendekat padanya.


"Sedikit saja ya, Mas suapi deh," tawar Rey seraya mengusap pipi Alesha.


Alesha membuka matanya yang tadi terpejam, dan langsung menampakkan wajah tampan Rey. Ia pun memeluk suaminya dengan erat erat, membuat sang empu terkekeh.


"Haidar udah makan Mas?" tanya Alesha yang masih memeluk Rey.


" Udah sayang, mungkin Haidar juga udah tidur di kamarnya, sekarang kamu makan dulu, lalu minum obat."


Rey melepas pelukannya, mengambil semangkuk bubur buatannya. Alesha bangkit dari tidurnya, duduk dengan kepala yang ia sandarkan ke kepala ranjang.


Rey menatap Alesha yang mengerutkan keningnya dengan mata terpejam, "Masih pusing?" tanyanya lembut.


"Sini Mas pijat--"


Alesha langsung membuka matanya, "Eh gak usah Mas, Aku--"


Rey langsung mendekat, dan meletakkan tangannya di kening Alesha, memijat dengan lembut dan perlahan, membuat Alesha pun kembali memejamkan matanya.


Saat dirasa sudah enakkan, Alesha menghentikan pergerakan tangan Rey, dan berganti menggengamnya. Sorot teduh Alesha memandang netra Rey.


"Mas Rey udah makan?" tanya Alesha. Rey terdiam, membuat Alesha berdecak.


"Ya udah makan sama aku aja."


Rey menggeleng, "Mas gak suka bubur."


"Kalau aku yang minta, apa Mas Rey juga bakal nolak?"


Rey terkekeh, ia mencuri kecupan di pipi Alesha, dan mengambil mangkuk yang tadi sempat ia letakkan di nakas saat memijat Alesha.


"Aaa, buka mulutnya sayang," ujar Rey mengangkat sendok berisi bubur membuat Alesha terkekeh, dan membuka mulutnya.


Saat Alesha mencoba menelannya, Rey menatap cemas pada mimik wajah Alesha. "Enak gak? Mas yang buat, resep dari Mbak kinan, katanya Meisa kalau sakit dibuatin bubur kayak gitu, jad--"


"Enak kok."


Rey bernafas lega, ia pun kembali menyuapi Alesha, tetapi tangannya dihentikan sang istri.


"Sekarang Mas Rey yang aku suapi."


Rey menggeleng, "Engga ah, Mas gak suka bubur."


"Dikit aja Mas, demi aku, janji deh," ujar Alesha menatap sendu Rey, membuat Rey pun mau tidak mau menuruti ucapan istrinya. Ia membuka mulutnya, dan satu suapan masuk.


Alesha menatap Rey yang menelan buburnya, "Gimana enakkan?"


Rey menatap wajah Alesha, lalu mengangguk kecil, kemudian mengambil alih sendok dari tangan Alesha.


"Enak ternyata, tapi Mas tetep gak suka, ini Mas makan juga demi kamu."


Alesha mengulum senyumnya, mencubit pelan hidung mancung Rey. "Sayang Mas Rey banyak-banyak deh."


Rey tertawa kecil, "Lagi sakit bisa gombal juga ya."


Alesha tersenyum tipis, lalu menggeleng saat akan disuapi kembali Rey. "Aku mau muntah Mas, huek ...."


Rey langsung mengendong Alesha ke arah wastafel, menurunkan tubuh istrinya, dan membantu mengusap tengkuk Alesha yang sedang muntah.


"Makannya tadi kebanyakan ya?" tanya Rey dengan sorot khawatirnya, tangannya menyingkirkan anakan rambut yang menghalangi wajah Alesha.


"Engga kok Mas, aku emang mau muntah aja."


Rey menghela nafasnya, lalu menggendong Alesha kembali ke tempat tidur.


"Sebenarnya gak usah digendong, aku bisa jalan sendiri kok Mas," ucap Alesha dengan nada lemahnya.


Rey memberikan air putih pada Alesha dan mengusap sayang pucuk kepala sang istri. "Besok ke rumah sakit ya? Mas khawatir sama keadaanmu, sayang."


Alesha meletakkan gelas di samping nakas, dan menepuk sisi tempat tidur, bermaksud untuk Rey duduk disana.


Rey pun menurut, ia duduk di samping Alesha, memberikan pelukan hangat untuk istrinya.


"Aku gak papa Mas, kata dokter juga kan tadi aku cuma capek aja, sehingga demam dan pusing, gak perlu sampai ke rumah sakit segala."


Rey mengusap lembut pucuk kepala Alesha, dan melabuhkan kecupan sayang disana.


"Maafkan Mas ya?" ujar Rey dengan sendu.


Alesha mendongak menatap Rey. "Buat apa Mas? Mas Rey gak salah kok, akunya aja yang bandel susah dibilangin."


"Minum obat dulu, habis itu langsung tidur," ujar Rey mengalihkan topik pembicaraan.


Alesha mengangguk menurut, ia menerima obat yang diberikan Rey beserta air minumnya, setelah itu ia merebahkan tubuhnya untuk tidur.


"Mas Rey gak tidur?" tanya Alesha saat menyadari Rey malah berdiri membereskan bekas mangkuk dan gelas, serta obat di atas nakas.


Rey menggeleng, "Kamu tidur dulu gak papa, Mas mau lihat ke depan dulu."


Alesha tersenyum dan mengangguk, "Jangan lama-lama, nanti kalau udah langsung tidur."


Rey mengangguk, dan mengangkat nampan yang berisi mangkuk serta gelas kosong.


Sebelum Rey membuka pintu kamar, Alesha memanggilnya kembali, segera ia membalikkan badan menatap istrinya yang ingin berbicara.


"Nanti kalau tidur, jangan lupa harus peluk aku ya," katanya membuat Rey langsung mengangguk dengan tawa kecilnya.


"Siap sayangnya Mas."