
Sepulang dari acara pesta, Rey dan Safira memutuskan untuk keliling kota terlebih dahulu, mereka ingin menghabiskan malam ini berdua mengingat ini adalah kesempatan yang tepat untuk mereka.
Tetapi saat mengecek ponselnya,betapa terkejutnya Rey mendapatkan banyak panggilan dari Alesha."Safira,lebih baik kita pulang aja ya, perasaan aku gak enak."
"Kamu tenang dulu Mas, cerita sama aku kenapa?" ujar Safira mengusap lengan Rey.
"Banyak panggilan masuk dari Alesha,fir. Aku takut terjadi apa-apa sama dia." ucap Rey dengan panik.
"Ya udah kita pulang Mas, tapi kamu jangan panik gini aku takut." Rey hanya mengangguk kemudian melakukan mobilnya menuju rumah.
"Ya Allah,jangan sampai terjadi apa-apa dengan istri hamba, lindungilah keluargaku dari segala marabahaya." ujar Rey dalam hati.
Lima belas menit berlalu, Rey dan Safira sudah sampai di rumahnya, dia melihat kedatangan mertuanya. Rey langsung berlari memasuki rumah.
"Akhh" rintih Alesha yang langsung kehilangan kesadarannya.
"Alesha." teriak Mega dan Bimo bersamaan.
Rey yang berdiri di ambang pintu pun sontak berlari menangkap tubuh istrinya."Sayang" teriak Rey.
"Bang, lo dari mana aja sih." keluh Alan di sela-sela menopang tubuh adiknya. Rey tidak menjawab pertanyaan Alan.
"Air ketubannya pecah." ucap Safira shock melihat ada cairan yang merembes dari kaki Alesha.
"Sayang , tolong buka mata kamu." ujar Rey kalut, sampai tidak berpikir kalau Alesha harus segera di bawa ke rumah sakit.
"Kita bawa Alesha ke rumah sakit." ujar Bimo berlari menyiapkan mobilnya.
Alan pun langsung berjongkok dan membantu Rey menggendong Alesha. Sebab , ia khawatir kondisi Alesha yang sedang hamil besar itu tidak mudah jika hanya di gendong Rey saja.
Saat Rey dan Alan menggendong Alesha memasuki mobil banyak air ketuban yang menetes dari tubuh istrinya itu . Hal tersebut membuat Rey sangat cemas.
"Ya Allah, kamu pasti baik-baik aja kan sayang." lirih Rey mengusap kepala Alesha.
"Aku yakin Asha baik-baik aja bang, lebih baik kita berdoa demi keselamatan Alesha dan bayinya." ucap Alan menenangkan, sebetulnya ia tak kalah khawatir melihat adiknya yang tak sadarkan diri itu.
Beberapa saat kemudian , mereka sudah tiba di rumah sakit. Alan turun lebih dulu untuk mengambil brankar yang ada di depan IGD dan memanggil beberapa perawat untuk menolong mereka .
Setelah itu Alan pun mendorong brangkar itu ke dekat mobil dan membantu Rey menurunkan Alesha dari mobil. Lalu menaikkannya ke brankar.
"Tolong istri saya dok." Pinta Rey.
"Ketubannya sudah pecah, langsung bawa pasien ke ruang bersalin." ucap dokter menyuruhnya.
"Ketubannya sudah pecah, mau tidak mau kita harus mengeluarkan bayinya."
Rey yang sedang mendorong brankar Alesha pun menoleh ke arah dokter.
"Tapi dia sedang tidak sadarkan diri, bagaimana dok." tanya Rey khawatir akan keselamatan istri dan anaknya.
"Kita hanya harus berdoa saja demi keselamatan istri anda."
Alan mengusap bahu Rey "Abang tenang dulu." ucap Alan. Sementara itu, Bimo sedang mendaftarkan Alesha untuk segera di tangani.
"Dok, tolong cepat tangani istri saya."
"Bapak, tenang dulu, saya akan mengecek kondisi istri bapak."
Dokter pun langsung mengecek keadaan Alesha."Bagaimana dengan detak jantungnya."
"Lemah dok."
Dokter pun langsung menyuruh Rey untuk masuk."Bisa kita bicara pak?"
"Dari hasil pemeriksaan tadi, saat ini tidak memungkinkan untuk istri bapak melahirkan secara normal, jadi kita akan melakukan tindakan caesar."
"NGGAK." teriak Alesha yang baru saja sadar.
"Tapi Bu, saat ini kondisi ibu sangat lemah." ujar dokter memberitahu.
"Aku bisa, aku pasti bisa lahiran secara normal." Rey langsung mendekati brankar Alesha, dia memegang erat tangan istrinya menyiratkan rasa takut yang mendalam.
"Mas mohon Sha, Mas gak mau kamu kenapa-kenapa." lirih Rey mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Aku gak mau Mas, tolong aku." ujar Alesha.
"Ibu bisa melahirkan secara normal, tapi apa ibu yakin, kondisi ibu lemah saat ini."
"Aku yakin, tolong doain aku Mas, aku minta maaf kalau selama ini banyak salah."
Rey mengusap wajahnya, ia mengangguk mengiyakan permintaan istrinya.
"Baik, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya dok."
"Kalau mau, bapak bisa menemani istrinya di sini." Rey langsung mengangguk, tentu saja ia akan menemani Alesha melahirkan buah hatinya.
"Mas Rey, perut aku sakit banget." keluh Alesha memegangi perutnya yang terasa sakit luar biasa.
Rey menggenggam tangan Alesha." Mas yakin kamu bisa, demi anak kita sayang, kamu kuat sayang." Rey mengusap-usap perut istrinya guna menghilangkan rasa sakit.
Rey menatap khawatir keadaan istrinya, ia berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Alesha mengingat umur istrinya yang masih sangat muda.
Dokter pun segera menghampiri Alesha."Nanti ibu ikutin aba-aba saya ya, kalo saya suruh mengejan ibu langsung mengejan, tapi jika tidak, jangan lakuin." Alesha hanya mengangguk, ia tidak sanggup untuk menjawab ucapan dokter.
"Tarik nafas, lalu keluarkan perlahan Bu." instruksi dokter.
Alesha mengatur nafas dan membuangnya perlahan." Oke sekarang, ibu bisa mengejan." titah dokter tersebut.
"Akhhhh, huuuuh....huh." Alesha mengejan, namun tenaga sudah sangat lemah mengakibatkan dia berhenti dan mengambil nafas lagi.
Rey merasakan tangannya perih akibat cengkraman Alesha, tetapi melihat istrinya yang jauh terlihat lebih menyakitkan membuat dirinya hanya bisa berdoa demi keselamatan Alesha.
"Sekali lagi Bu." ujar dokter.
Alesha kembali mengejan." Akhhhhhhhh huuuuh, akh."
"Oek....oekk...."
"Alhamdulillah." ucap Rey dan dokter yang membantunya.
Suara tangis bayi menggema di dalam ruang persalinan, Alesha menoleh ke arah dokter yang sedang menggendong bayi yang masih berlumuran darah.
Rey mengecup pucuk kepala Alesha dengan air mata yang mengalir, sungguh Rey merasa bersyukur karena kehadiran buah hatinya.
"Terimakasih Zaujati, Mas bahagia kamu bisa melahirkan buah cinta kita, semoga anak kita menjadi anak yang sholehah seperti Mama nya." ujar Rey berkali-kali mengecup seluruh wajah Alesha.
Bisa bertemu dengan sang buah hati yang selama 9 bulan berada di rahim. Kelahirannya menjadi anugerah sekaligus amanah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Kehadiran sang bayi di tengah-tengah kehidupan berumah tangga membuat suasana rumah dan kehidupan menjadi lebih berwarna. Momen bahagia ini sudah sepatut disyukuri serta dirayakan yang mana sang ibu berhasil melewati proses persalinan
Bayi perempuan lah yang hadir dari rahim Alesha, dia cantik seperti ibunya, dokter membawanya untuk segera di bersihkan, sedangkan Alesha ia memejamkan matanya sambil tersenyum ketika sudah berhasil memenuhi tugasnya melahirkan anak dari Rey.
"Ibu, ibu jangan tidur dulu Bu." ujar seorang dokter dengan nada panik melihat Alesha memejamkan matanya.
Rey yang melihat istrinya tidak sadarkan diri pun langsung panik."Sayang, bangun...." ujar Rey menepuk-nepuk pipi Alesha.
"Bapak boleh keluar terlebih dahulu." ujar dokter menyuruh Rey keluar agar tidak mengganggu pekerjaannya.
"Tapi istri saya----"
"Saya tau yang terbaik, jadi mending bapak keluar."
Bersambung