Until the End

Until the End
Tragedi



POV Alesha


"Aku bener-bener nggak percaya sama Juan Apa tadi katanya? Kebetulan lagi? Kebetulan apaan yang terus terusan gitu hah?" Mas Rey terlihat sedikit emosi. Tadi saat Mas Rey menanyakan alasan Juan kenapa bisa ada di villa kami, Juan kembali menjawab kalau ini semua hanya kebetulan. Tapi aku dan Mas Rey meragukan soal itu.


Karena kepalaku sudah pening memikirkan tentang Juan, aku lebih memilih masuk kamar, dan merebahkan tubuhku di kasur.


"Aku nggak mau liat kamu deket-deket Juan lagi ya sha," Ucap Mas Rey lalu ikut berbaring di sebelahku.


"Hm," Jawabku sambil menutup mata.


"Apalagi kalau kamu sampai punya hubungan sama Juan."


"Mas!" Aku membuka mataku dan melihat Mas Rey, "Tadi kita udah ngomongin ini ya. Aku nggak mungkin punya hubungan sama Juan."


"Ya siapa tau aja kan? Nggak ada yang nggak mungkin."


Aku tidak mengerti bagaimana Mas Rey bisa berpikir seperti itu, "Mas, kamu tau nggak sih? Dengan kamu yang ngomong gitu, sama aja kamu kayak ngeraguin kesetiaan aku tau nggak?"


Sadar apa yang di bicarakannya salah, Mas Rey menghela nafas. Ia mengusap wajahnya kasar, "Ah! Gara-gara Juan aku jadi jahat banget sama kamu."


"Aku tidur sekarang. Kalau Haidar bangun, kamu tinggal kasih ASI yang udah aku sediain di botol susu punya dia," Aku jadi kesal sendiri dengan Mas Rey. Aku tahu dia begini karena kesal dan tidak suka pada Juan. Tapi tidak seharusnya dia meragukanku seperti tadi.


"Sha? Maaf aku nggak ber---,"


"Berisik!" Potong Alesha cepat, "Aku mau tidur. Terus kalau bisa, besok kita pulang. Aku males di sini."


"Yah, sayang dong. Kan masih ada dua hari lagi."


Iya juga. Jika aku dan Mas Rey pulang besok, sia-sia saja Mas Rey mengambil cuti tiga hari di kantor. Ya sudahlah, liat saja bagaimana besok. Malam ini aku tidak mood untuk berbicara dengan Mas Rey.


*****


"Mama, bangunnn," Reysha menggoyangkan tubuh Alesha agar wanita itu bangun.


Alesha yang memang pekaan, langsung bangun dari tidurnya, "Apa sayang?" Tanya Alesha dengan suara paraunya, "Loh kamu kok pake baju renang sih sa?" Alesha bingung saat melihat Reysha hanya memakai baju renang.


"Mama, kakak mau berenang. Ayo berenang," Rengek Reysha sembari menarik lengan Alesha.


Alesha menghela nafas, "Mama masih ngantuk sayang. Nanti aja ya?"


Reysha menggeleng, "Mau sekarang. Ayo ma."


"Ya udah ayo," Alesha menuntun lengan Reysha ke kolam renang. Ia memakaikan Reysha pelampung lebih dulu agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, "kakak jangan masuk kolam renang dulu ya. Tunggu sini, Mama mau ganti baju dulu."


"Iya ma," Balas Reysha dengan mantap. Alesha tersenyum lalu meninggalkan putra sulungnya itu.


Sepeninggalnya Alesha, Reysha hanya diam di pinggiran kolam renang. Tapi ia sedikit terkejut saat mendengar sesuatu seperti jatuh dari atas,


"Om Juan?"


******


"Reysha mana sha?" Tanya Rey begitu Alesha memasuki kamarnya untuk mengganti pakaian.


"Dia mau renang. Tuh ada di belakang."


Rey mengangguk, ia melepaskan pakaian tidurnya dan berniat menemani Reysha untuk berenang, "Aku ke belakang duluan ya," Ucap Rey yang dibalas anggukan Alesha.


"REYSHAAA!" Alesha sedikit terkejut saat mendengar teriakan Rey dari arah belakang. Dengan segera ia berlari untuk menyusul suaminya.


Kaki Alesha seketika melemas saat melihat Rey sedang menyelamati Reysha yang tenggelam di tengah-tengah kolam.


Rey mengambil Reysha yang tidak sadarkan diri dan membawanya ke pinggiran kolam. Alesha yang melihat itu segera menghampiri mereka, "Astaghfirullah Mas...." Air mata Alesha turun.


Reysha langsung dibawa ke IGD, sedangkan Rey, Alesha menunggu diluar. Alesha tidak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan putrinya. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada anaknya di dalam sana.


"Kenapa bisa gini sih? Kenapa Reysha bisa sampai tenggelam hah?!" Bentak Rey tanpa sadar. Haidar yang berada dalam gendongan Alesha ikut menangis karena mendengar suara Rey.


"A-aku nggak tau Mas. Tadi aku udah nyuruh Reysha nunggu di pinggir kolam. Aku juga udah makein Reysha pelampung kok," Jelas Alesha sambil terisak.


"Pelampung? Tadi waktu aku nyelametin Reysha, aku nggak liat dia pakai pelampung."


Alesha mengerutkan keningnya. Ia yakin jika dirinya sudah memakaikan Reysha pelampung, "Bener Mas. Aku udah makein Reysha pelampung. Aku yakin itu."


"Jelas-jelas aku nggak liat dia pakai pelampung," Rey mengacak rambutnya, "Lain kali kalau nggak mampu ngurus anak-anak, bilang sama aku. Jangan sampai teledor kayak gini. Kamu mau anak kita kenapa-napa?"


Hati Alesha rasanya sakit saat Rey berbicara begitu. Tapi ia tidak bisa marah pada Rey, karena di sini memang salahnya sudah meninggalkan Reysha di pinggiran kolam renang sendirian.


Tidak lama kemudian pintu ruang IGD terbuka, menampakan seorang dokter dan suster di sampingnya, "Untung kalian cepat membawa pasien ke rumah sakit. Jika tidak, mungkin nyawanya tidak akan tertolong."


Alesha hanya menunduk sambil menepuk-nepuk bokong Haidar agar anak itu tenang. Ia benar-benar merasa bersalah. Hampir saja anaknya itu meninggal karena keteledorannya.


"Kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat. Mungkin jika keadaannya sudah membaik, ia bisa pulang besok atau lusa," Jelas dokter itu lalu pergi.


Niat liburan untuk bersenang-senang harus batal karena insiden yang tidak terduga. mereka juga harus menginap di rumah sakit malam ini.


Lalu bagaimana dengan Reysha? Keadaan anak itu mulai membaik, ia sudah sadarkan diri sejak empat jam yang lalu.


Tapi Alesha merasa aneh dengan Reysha. Sejak sadarkan diri, anaknya itu hanya diam dan tidak banyak bicara.


"Reysha, Reysha ceritain sama Mama ya. Kenapa Kakak bisa masuk ke kolam? Kan Mama udah larang kakak buat masuk kesana," Tanya Alesha lembut.


"Jangan tanyain dia soal itu dulu. Kamu nggak liat dia masih takut gitu?" Ujar Rey dengan dinginnya. Semenjak kejadian tadi, Rey benar-benar bersikap dingin pada Alesha.


"Maaf Mas...."


Rey kini beralih pada Reysha, "Sekarang kakak bobo ya? Biar Papa yang temenin."


Reysha menggeleng, "Mau sama Mama aja..."


Rey menghela nafas, "Sana kamu temenin Reysha tidur. Biar Haidar sama aku," Alesha mengangguk. Ia memberikan Haidar pada Rey.


Alesha menaiki brankar dan menemani Risa untuk tidur, "Mama?" Panggil Reysha


"Iya, kenapa sayang?"


"kakak takut," Cicit anak itu lalu memeluk Alesha.


Alesha membalas pelukan Reysha, ia mengusap-usap punggung kecil itu perlahan, "Jangan takut, sekarang kan udah ada Mama di sini."


"Kakak takut Mama pergi."


Alesha mengernyitkan dahinya, "Mama? Mama nggak pergi kemana-mana sayang."


Reysha menggeleng, "mama nggak boleh jauh-jauh dari kakak sama Papa."


Alesha sebenarnya bingung dengan ucapan Reysha. Tapi ia berusaha meresponnya, "Iya, Mama janji nggak akan pergi kemana-mana. Mama bakal terus deket kakak sama Ayah. Sekarang kakak tidur ya?"


Reysha mengangguk lalu memejamkan matanya. Alesha tersenyum saat melihat Reysha sudah tertidur lelap, lalu ia melihat ke sampingnya. Ternyata Rey dan Haidar pun sudah tertidur pulas di sofa. Baru saja Alesha ingin memejamkan mata, tapi tidak jadi karena ia mendengar Risa yang mengigau, "Jangan bawa Mama aku..." Lirih anak itu.


Alesha yang melihat itu segera mendekap Reysha, "Mama di sini," Balas Alesha pelan.


Alesha curiga jika terjadi sesuatu pada Reysha sebelum insiden tenggelam itu terjadi.


Bersambung.......