
Sudah hampir satu jam Rey menunggu Alesha di cafe dekat sekolah, namun tidak ada tanda-tanda kedatangan istrinya membuat Rey khawatir. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan Alesha mengingat tadi pagi Alesha pingsan di depan kelas.
Rey sudah berusaha menghubungi istrinya,namun nomor Alesha tidak aktif mampu membuat Rey bingung mencari keberadaan Alesha, ia yakin gerbang sekolah sudah di tutup mengingat semua siswa telah pulang.
Rey melajukan motornya menuju rumah, ia berharap Alesha sudah pulang dengan selamat sampai rumah.
Motor Rey berhenti tepat di halaman rumahnya, ia memasuki rumah dengan berlari kecil memastikan Alesha sudah berada di rumah.
"Assalamualaikum, Asha" salam Rey
"Waalaikumsalam, kamu kenapa mas? Kok kaya orang panik gitu" tanya Safira menyalimi tangan suaminya, namun Rey yang panik tidak menerima uluran tangan Safira.
Safira membeku melihat kepanikan suaminya, ia memegang tangan Rey untuk mendengarkannya.
"Asha udah pulang?" tanya Rey
"Loh kok tanya aku, kan seharusnya dia pulang sama kamu mas" ucap Safira mengernyitkan dahinya tidak mengerti.
"Aku udah nunggu dia tapi dia gak muncul-muncul, aku pikir dia udah pulang sendiri kesini"
"Terus kemana Alesha"
Rey melangkahkan kaki keluar dari rumah meninggalkan Safira dengan banyak pertanyaan.
"Apa ada masalah antara mas Rey sama Alesha? tapi masalah apa" tanya Safira pada dirinya sendiri.
Dilain sisi Alesha sedang bersandar di sofa dengan ditemani aneka ragam makanan. Ada Resa, Friza, Ciko,Randi,dan Kaivan yang sedang asik bermain PS di markas tempat mereka sedang berkumpul sekarang.
Alesha memejamkan matanya untuk meredakan rasa pusing di kepala, banyak hal yang terjadi hari ini, sejak ia cemburu dengan Rey, di bentak Rey ,bahkan hingga hampir tertabrak karena menghindar dari Rey.
"Lo kok jadi alim gini sha, pakaian lo juga tertutup banget udah kaya mau ngikut pengajian" celetuk Ciko sambil memakan kacang dan melemparkan kulitnya ke arah Randi.
"Sialan" umpat Randi yang hampir tersedak karena kulit kacang itu masuk ke dalam mulutnya.
"Lo kaya gak tau aja sih, kan emang keluarga Alesha semuanya harus tertutup, cuma emang Alesha aja yang badung" timpal Resa bersandar di bahu Randi.
Alesha tidak menggubris perkataan teman-temannya, ia lebih memilih mengaktifkan ponsel yang sedari tadi sengaja dimatikan.
Setelah ponsel menyala, banyak sekali panggilan masuk dari Rey dan beberapa pesan dari Safira. Alesha menatap jam yang melingkar ditangannya dan membelalakan mata terkejut kala jam menunjukan pukul 19.30 malam yang berarti ia sudah pergi selama lima jam.
Alesha langsung bangkit dan mengambil tasnya" gue pulang dulu ya" ujar Alesha berlari kecil keluar dari markas.
"GUE ANTERIN SHA" teriak Kaivan bangkit dari duduknya sambil menyambar kunci motor.
"GAK USAH,GUE PULANG SENDIRI AJA" balas Alesha tak kalah keras.
*****
Rey bersandar di kursi ruang tamu menunggu kepulangan istrinya, ia khawatir dengan keadaan Alesha yang sempat pingsan,namun badannya juga lelah karena sudah hampir tiga jam mencari Alesha namun istrinya itu tak kunjung ia temukan.
Cklek!
Alesha memasuki rumah dengan santai tanpa ada raut wajah bersalah sedikitpun membuat Rey yang melihatnya langsung berdiri dihadapan Alesha.
"Assalamualaikum" salam Alesha mengulurkan tangannya dihadapan Rey. Rey membalas uluran tangan istrinya dengan raut wajah tajam.
"Waalaikumsalam,dari mana kamu Alesha" tanya Rey yang masih menatap tajam Alesha.
"Main" jawab Alesha dengan nada santai namun ada rasa ketakutan dibalik itu semua.
"Jangan nunduk" ucap Rey.
"Bukankah kenyataannya aku adalah seorang remaja yang masih menginginkan kebebasan namun aku dipaksa menjadi dewasa oleh keadaan dengan beban ini, sejujurnya jika bukan karena orang tuaku, aku tidak ingin masuk ke dalam rumah tangga orang lain"
Safira yang baru saja keluar dari kamar menatap khawatir Alesha dan langsung berlari memeluk madunya.
"Kamu gak papa kan sha? Kamu dari mana aja, mba takut kamu kenapa-kenapa"
"Alesha, saya mengkhawatirkan kamu, saya takut terjadi sesuatu sama kamu disaat kondisi kamu sedang lemah, bahkan saya melihat dengan mata kepala saya sendiri kamu terkulai lemas didepan saya, dan sekarang kamu pergi tanpa memberitahu saya" lirih Rey, matanya yang tadi tajam berubah dengan raut wajah khawatir.
"Maafkan aku kalau tingkahku kekanakan, aku masih labil dan kadang masih lupa dengan kewajiban ku yang sekarang, aku ingin bimbinganmu, bimbing aku menjadi orang yang lebih baik lagi" lirih Alesha meninggalkan Safira dan juga Rey dengan mata yang berkaca-kaca.
Alesha membuang asal tasnya dan langsung memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Alesha menangis didalam sana merutuki kebodohannya, baru dua hari ia masuk kedalam rumah ini tapi dia sudah membuat kekacauan.
Alesha menangis sesegukan, dia menyesal telah membuat Rey dan Safira khawatir sedangkan dia malah asik berkumpul dan bercengkrama dengan teman-teman lelakinya.
Cklek!
Alesha terkejut kala melihat Rey yang tengah bersandar di kepala ranjang dengan mata yang menatap Alesha dari atas hingga bawah, pasalnya sekarang Alesha hanya menggunakan handuk sebatas menutupi dada dan pahanya, ia pikir Rey tidak akan memasuki kamar ini,jadi dia bisa bebas sesukanya.
Rey bangkit mendekati istrinya yang mematung di depan pintu kamar mandi, Alesha yang masih mematung tidak menyadari kalau Rey tengah memegang kedua bahunya.
"Alesha, jangan lakuin hal seperti itu lagi, mas khawatir Sha, mas gak akan larang apapun yang kamu mau jika itu tidak melewati batas wajar, mas memaklumi sifat kamu,karena memang benar kamu masih remaja" tutur Rey mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Alesha, Alesha yang tersadar langsung memejamkan matanya.
Rey membawa Alesha agar duduk di pinggir ranjang, ia memakaikan baju Alesha membuat Alesha memejamkan kembali matanya kala lilitan handuk tersebut ditarik oleh Rey.
Setelah selesai memakaikan Alesha baju, Rey menatap teduh wajah istrinya, walau ia masih ragu dengan rasa cintanya kepada Alesha,tapi ia yakin jika rasa sayangnya terhadap Alesha kian tumbuh didalam dirinya.
"M-maafin aku" ucap Alesha setelah lama bungkam.
"A-ku minta maaf karena udah bikin kalian khawatir, aku kangen sama temen-temen aku, jadi aku harus terpaksa gak izin dulu, kalo aku izin pasti kamu bakal larang aku ketemu mereka" ucap Alesha menundukan wajahnya tidak berani menatap Rey, sedangkan Rey memegang dagu Alesha agar istrinya menatap wajahnya.
"Kamu gak salah sha, mas cuma khawatir, mas takut sama keadaan kamu tadi pagi, kamu dari mana aja? Kamu pergi sama Resa?"
"Maafin aku" ujar Alesha lagi sambil menitikkan air matanya. Rey segera membawa Alesha ke pelukannya menyalurkan rasa damai untuk hati Alesha.
"Maafin aku, aku hiks tadi abis ketemu sama temen-temen cowok aku hiks"
Rey melerai pelukan Alesha dan menampilkan raut wajah datar kala mendengar Alesha telah bertemu dengan teman prianya.
"Jadi kamu udah bikin mas khawatir tapi kamu malah asik asik ketemu sama cowok lain?" ujar Rey dengan nada dingin.
"Kamu gak tau seberapa berharganya mereka dalam hidup aku, aku gak bisa gitu aja memutus hubungan pertemanan sama mereka, mereka yang selalu ada buat aku, mereka sangat penting buat aku"
"Jadi kamu pikir dia lebih penting dari pada suami kamu sendiri?"
"Bukan gitu, tahta kamu sama mereka beda, aku disini sebagai istri kamu sedangkan mereka sahabat yang selalu ada untuk aku"
"Kamu tau bukan kedekatan antara pria dan wanita yang bukan mahrom itu dilarang?"
"Aku tau" jawab Alesha
"Terus kenapa kamu masih melanggar Alesha"
"Aku udah bilang bimbingan aku buat jadi wanita yang lebih baik lagi, aku tau masih banyak kesalahan, bukannya seorang suami wajib membimbing istrinya menjadi lebih baik"
Rey menghela nafas kasar dan mengangguk, dari pada ia semakin emosi lebih baik sekarang ia belajar untuk bisa menghadapi sikap istirnya yang masih labil dan membimbingnya menjadi yang lebih baik lagi.