Until the End

Until the End
Ungkapan cinta



Rey memasuki kamarnya dan Alesha, ketika melihat Alesha masih saja melamun dengan tiba-tiba ia memeluk istrinya dari belakang.


Alesha yang merasakan ada tangan hangat yang melingkar di perutnya berbalik menatap Rey dengan senyuman, senyuman tulus yang Alesha berikan untuk suaminya.


"Gimana keadaan Mba Safira?" tanya Alesha.


"Kita harus secepatnya mencari pendonor sumsum tulang belakang untuknya, Mas gak tau harus kemana mencari pendonor untuk Safira."


Kepala Alesha rasanya pening, kenapa cobaan terus menghampiri keluarganya." Aku bakal bantu cari pendonor buat Mba Safira, dan kita juga harus banyak-banyak berdoa untuk kesembuhannya."


"Apa kamu yakin setelah anak kita lahir kamu bakal ninggalin Mas?" tanya Rey mengalihkan pembicaraan berharap Alesha berubah pikiran dengan keputusannya.


Alesha mengangguk mantap."Aku sangat yakin, memang kita gak seharusnya berdampingan Mas."


"Apa boleh aku meminta waktu? Kamu tau kan keadaan Safira saat ini tapi kenapa kamu juga berusaha ninggalin aku? Aku gak yakin bisa jaga Safira dan anak kita nanti, setidaknya sampai Safira pulih." lirih Rey mengusap perut Alesha dengan air mata yang hampir membasahi pipinya.


Alesha memegang tangan Rey yang masih setia mengusap perutnya."Aku gak bisa, itu mungkin membutuhkan waktu yang lama."


"Kamu tega sama aku Sha, jika ujung-ujungnya kamu pergi, kenapa kamu harus hadir di hidup aku, kenapa kamu menerima pernikahan ini." ujar Rey dengan suara sedikit meninggi.


"Kalo kamu tanya kenapa aku gak nolak, aku udah berusaha nolak permintaan ayah, tapi ayah tetep kekeuh nikahin aku sama kamu, bahkan ibu kamu juga menekan aku agar menerima pernikahan ini."


Rey tampak bungkam, ia tidak tau harus berbicara apa lagi kepada Alesha agar wanita itu mau memberinya waktu menciptakan kenangan yang akan Rey ingat untuk selamanya.


"Kalo boleh jujur aku udah cinta sama kamu, bahkan aku berat ninggalin kamu dan anak kita nanti, tapi aku gak mau tetap berada di situasi ini, aku ingin mengejar masa depan aku tanpa merusak kebahagiaan orang lain, aku ingin hidup dengan kebahagiaan yang di dalamnya tidak ada kebohongan, aku ingin memulai hidupku dengan bunda Maura."


"Aku yakin kita bisa hidup sama-sama, kita hanya perlu menerima takdir ini Sha." ujar Rey tak mau kalah.


"Dan takdir kita bersama cuma sampai di sini, sekarang Mas cuma harus fokus sama kesehatan Mba Safira, aku akan memberi waktu sampai anak aku berusia satu tahun, karena selama itu mungkin anak ini butuh ASI dari aku, setelahnya aku akan mundur, aku gak akan lupain tanggung jawab aku sebagai seorang ibu, kita bertiga masih bisa mengurus anak kita sama-sama, hanya saja aku tidak akan ada ikatan lagi sama kamu." final Alesha beranjak memasuki kamar mandi agar Rey tidak tau jika Alesha pun ingin menangis merasa sesak ketika mengatakan itu semua.


Rey menatap sendu pintu kamar mandi yang tertutup, rasanya hidup Rey begitu rumit dan serba salah.


Perceraian?


Rey tidak menginginkan itu semua, jika boleh memilih Rey ingin hidup seperti orang-orang tetapi dia tidak bisa memilih, apalagi memilih antara Safira dan Alesha. Mereka bukan pilihan yang harus Rey pilih.