
Reysha mengajak Azzam untuk pergi ke rumah orang tuanya karena Alesha menyuruh Reysha untuk berkunjung, Azzam hanya mengiyakan ajakan Reysha.
Ia juga ingin mengakrabkan dirinya dengan keluarga Reysha, bahkan dia sangat menyukai kedua mertuanya yang terlihat sangat bijaksana.
Azzam ingin seperti Rey yang bisa menjadi pengusaha hebat, walaupun Arkan juga tak kalah hebat tetapi Azzam akan menjadikan kedua ayahnya itu sebagai panutan.
Mereka telah sampai di depan halaman rumah keluarga Prayoga. Reysha menarik Azzam agar segera memasuki rumahnya.
"Jangan buru-buru Sa."
"Aku udah kangen banget sama Mama, Zam." ucapnya.
bI Ijah membukakan pintu untuk Reysha."Eh non Reysha, apa kabar?" tanya bi Ijah menyambut kedatangan Reysha.
"Alhamdulillah baik bi, gimana sama bibi, sama Mama Papa, Haidar juga?" tanya Reysha.
"Bibi naik non, tapi bu Alesha sedang sakit." tentu saja hal itu membuat Reysha terkejut.
"Hah! sakit apa bi?" tanya Reysha.
"Bibi nggak tau, udah beberapa hari ini ibu sakit, Pak Rey selalu menyuruh ibu untuk istirahat."
Reysha langsung memasuki rumah untuk menuju kamar ibunya, tetapi Reysha langsung membelalakkan matanya saat melihat kedua orang tuanya malah sedang asik bercumbu di dalam kamar.
"MAMA, PAPA." pekik Reysha sontak membuat kedua insang yang sedang dimabuk asmara itu terpaksa menyudahi aksinya.
"Reysha." ujar Rey yang syok akan kehadiran putrinya, sungguh Rey sangat malu saat terciduk oleh putrinya sendiri.
"Maaf, aku tunggu di bawah." ujar Reysha langsung berlari menuju ruang tamu yang dimana sudah ada Haidar dan Azzam.
Alesha menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangan, rasa-rasanya dia ingin menghilang saat ini juga, bisa-bisanya dia tidak menyadari kehadiran orang lain saat sedang bermesraan dengan sang suami.
Bukan hanya yang dipergoki saja yang malu, tapi Reysha yang memergokinya juga ikut malu melihat hal tidak senonoh walupun hanya sebatas berciuman.
"Mas! liat kan aku jadi malu gara-gara kepergok Reysha." lirih Alesha sambil memejamkan matanya mengingat wajah polos Reysha yang tengah memergokinya.
"Udah Reysha juga pasti ngerti, dia udah nikah Sha, lagian dulu juga dia pernah mergokin Mas sewaktu minum ASI dari kamu." Alesha langsung saja memukul Rey dengan gemas. bisa-bisanya suaminya itu tampak tenang dan biasa-biasa saja. padahal Alesha sudah malu seperti habis dipergoki orang karena telah melakukan hal tidak senonoh.
"Udah mending kita turun, nggak enak lama-lama disini. Nanti Reysha malah mikir yang nggak-nggak kalau kita nggak cepet turun Sha."
Panik jika kepergok anak saat berhubungan akan membuat mereka curiga bahwa yang sedang Anda lakukan itu salah. Selain itu, anak mungkin akan menjadi penasaran. apalagi di usia Reysha, bahkan putrinya itu sudah menikah, tetapi Rey meyakini jika Azzam dan Reysha belum pernah melakukannya mengingat jika pernikahan ini dilaksanakan karena kesalah pahaman semata.
Alesha dan Rey menuruni tangga dengan bergandengan tangan, sontak Reysha langsung mengalihkan pandangannya saat orang tuanya itu akan ikut bergabung bersamanya.
"Assalamualaikum Ma, Pa.." salam Azzam mencium kedua tangan mertuanya dengan takzim.
"Wa'alaikumussalam apa kabar Zam?" tanya Rey mengambil duduk di sebelah kanan Haidar dan Alesha duduk di sebelah kiri putranya itu.
"Alhamdulillah baik Pa, Papa sama Mama apa kabar?"
"Lancar-lancar aja Pa."
"Kakak nggak mau peluk Papa? atau udah nggak kangen lagi sama Papa?" Reysha langsung saja berdiri dan berhambur ke dalam pelukan Papanya.
"Kakak kangen sama Papa, kangen juga sama Mama, katanya Mama sakit ya? kenapa nggak ada yang bilang sama Kakak kalau Mama sakit?"
Rey mengusap puncak kepala Reysha dengan sayang, dia sangat menyayangi Reysha begitu juga Haidar. Kedua anaknya itu pernah mengalami kesulitan gara-gara dirinya.
Dimulai dari kelahiran Reysha yang tidak pernah Rey perhatikan karena kepergian Safira membuat Rey merasakan sedih yang berlebihan sampai-sampai membuat dirinya dan Alesha hampir saja berpisah.
Kemudian kehamilan Haidar yang bersamaan dengan dirinya memiliki penyakit hingga tidak bisa menemani hari-hari Alesha mengidam bahkan sampai melahirkan pun Rey tidak melihatnya.
"Mama cuma kecapean aja sayang, Mama kan setiap hari sibuk di butik, makannya Mama sering ngerasa capek sampai buat Mama sakit." sahut Alesha.
"Kirain sakit karena Papa yang tiap hari manja." cibir Reysha yang mendapatkan sentilan dari Rey.
"Manja sama istri sendiri nggak salah Sa, kalau manjanya sama istri orang baru salah."
Alesha langsung saja melotot tajam mendengar ucapan Rey, nyalinya langsung menciut saat mendapatkan tatapan tajam istrinya.
"Emang berani manja sama istri orang hah?"
"Beranilah, buktinya sekarang Papa lagi di peluk istri orang." Azzam langsung terkekeh melihat keharmonisan keluarga Reysha, berbeda dengan dirinya yang setiap hari hanya di rumah sendirian karena ayah dan bundanya sibuk dengan kerjaan masing-masing, berbeda dengan keluarga Reysha, walaupun mereka sibuk sendiri, tetapi mereka akan berusaha meluangkan waktu bersama.
"Sebenarnya ada yang mau Mama omongin sama kalian berdua Zam." sahut Alesha memulai pembicaraan yang serius.
"Mau ngomong apa Ma?" tanya Reysha penasaran.
"Mama sebenarnya mau kalian tinggal disini, paling nggak kalau nggak ada rumah di samping kan walaupun kita nggak serumah tapi Mama bisa memantau kalian, lagian di rumah Azzam kan semuanya pada sibuk jadi kayaknya nggak masalah kalau kalian tinggal di sini." ujar Alesha yang membuat Reysha turut senang.
"Reysha mau banget Ma."
Azzam berpikir sejenak, ia sebenarnya berat meninggalkan keluarganya,tetapi keluarganya juga jarang di rumah membuat Azzam mempertimbangkan lagi keinginan mertuanya.
"Azzam bakal bicarain dulu sama orang tua Azzam, Ma. Sebenarnya Azzam nggak terlalu keberatan, tetapi kita juga perlu diskusikan semuanya juga kan? Azzam juga kangen suasana keluarga bahagia, selama ini orang tua Azzam sibuk sama dunianya masing-masing sampai lupa kalau mereka punya Azzam." Reysha merasa bersalah setelah mendengar penuturan Azzam, selama ini ternyata Azzam merindukan keluarganya.
"Iya sebaiknya diskusikan semuanya dulu, Papa nggak mau kalian terburu-buru mengambil keputusan." ucap Rey.
Sebagai seorang suami Rey juga mengerti perasaan Azzam, bahkan Rey juga merindukan mendiang ayahnya yang sudah lama tiada, semoga kebahagiaan nya tidak cepat berakhir karena Rey masih ingin menikmati semuanya.
"Iya Pa."
"Ya udah mending kita makan, Tadi Mama sempet masak buat kalian di bantu bi Ijah, Reysha mending ganti baju dulu sana, Mama juga udah siapin baju buat Azzam di lemari Reysha, kita tunggu di ruang makan ya."
Reysha dan Azzam mengangguk, Azzam mengikut Reysha menuju kamarnya untuk berganti pakaian.