
Terhitung sudah tiga bulan Alesha dan Rey pisah rumah sejak dirinya melahirkan Haidar. Alesha tinggal di rumah Maura untuk sementara waktu,tadinya Bimo memaksa Alesha untuk tinggal di rumahnya di bantu Mega, tapi Alesha menolak kemauan ayahnya, ia ingin dekat dengan Maura kali ini. Dan Rey tinggal di rumah Ira pasca operasinya.
Ira, Mega,Bimo dan Maura sepakat agar Alesha pisah rumah karena Alesha yang harus fokus dengan anaknya dan Rey yang harus fokus dengan pengobatannya. Mama Maura tidak ingin Alesha kerepotan karena mengurus Reysha dan Haidar sendirian, jadi mereka meminta Alesha untuk tinggal sementara di sini. Begitupun dengan Rey yang disuruh Ira untuk tinggal di rumahnya dulu supaya ada yang mengurusnya.
Ya pada intinya para orang tua ingin membantu Alesha dan Rey supaya tidak kerepotan. Apalagi Mas Rey butuh perhatian exstra setelah pembedahannya beberapa waktu lalu.
"Udah dua hari Mas Rey nggak bisa di hubungin. Nomor ibu, Mba Kinan sama Mas Danu juga nggak ada yang aktif," Alesha duduk di samping Mama Maura yang tengah menimang Haidar.
"Mas Rey nggak kangen apa sama Risa sama Haidar," Kesal Alesha. Meskipun dia pisah rumah, Alesha dan Rey selalu telponan setiap harinya. Tapi sudah dua hari belakangan ini Rey tidak menghubungi Alesha. Setiap kali Alesha mengirim pesan, pasti tidak di baca atau di balas.
"Bukannya yang bener gini ya, Mas Rey nggak kangen apa sama aku?" Maura meniru gaya bicara Alesha untuk meledeknya.
Alesha mendengus, "Nggak ya!" Bantahnya.
Alesha mengambil alih Haidar dari gendongan Maura, "Haidar kangen Papa gak sih?"
"Mama buat makan siang dulu Sha," Maura pergi meninggalkan Alesha berdua dengan Haidar.
Alesha mendekatkan telinganya ke telinga Haidar setelah memastikan Maura pergi, "Sama, Mama juga kangen banget sama Papa."
"Papa kamu itu kemana ya nggak angkat telpon Mama."
"Sebel deh. Nggak tau apa aku udah kangen banget liat mukanya."
"Mana bang Alan sama Resa nggak bisa di hubungin juga."
"Kan aku jadi bingung. Ini di rumah Mama nggak ada jaringan apa gimana. Atau jangan-jangan mereka pada nggak punya paketan pulsa sama data."
"Eh tapi nggak mungkin. Masa orang kaya nggak punya pulsa."
"Ngomong sendiri udah kayak orang gila."
"Iya emang udah gila," Alesha mengerutkan kening saat sadar ada seseorang yang mengatainya gila, "Mas Rey!" Alesha memekik girang saat melihat kehadiran Rey dan Alan.
Rey duduk di samping Alesha lalu memeluknya dengan hati-hati. Mengingat Alesha sedang menggendong Haidar, "Kasian yang gila karena nggak ketemu-temu sama suaminya," Ledek Rey.
"Ih nyebelin," Rengek Alesha. Air mata Alesha reflek turun saat Rey memeluknya.
"Nggak tau. Aku kangen sama kamu." balas Alesha.
Rey terkekeh. Ia melepaskan pelukannya, "Mas juga kangen."
"Kamu kemana aja dua hari nggak menghubungi aku?" Alesha beralih menatap Alan, "Abang juga kenapa Asha telpon nggak pernah diangkat?"
Alan tersenyum, "Di suruh suami kamu tuh."
"Kok gitu Mas?" Tanya Alesha kesal.
"Mau kasih kejutan aja sih. Semua keluarga kita aku ajak kerja sama supaya nggak ngangkat telpon dari kamu. Soalnya Mas udah niat buat jemput kamu sama anak-anak hari ini."
"Semua keluarga?" tanya Alesha
Rey mengangguk, "Mama Maura juga Mas ajak kerja sama."
Alesha melirik kearah Mama Maura yang kini sedang menunjukan cengiran giginya kepadanya dari dapur, "Mama nyebelin! Pantes kalau aku curhat tentang kamu Mama cuma bilang, santai aja nanti juga pasti Rey telpon."
"Hehehe berhasil dong ya kejutan Mas."
"Ga!" ketus Alesha
"Idih ngambek," Rey mencubit hidung Alesha, "Padahal hari ini mau diajak pulang ke rumah."
"Emangnya keadaan kamu udah baikan?" tanya Alesha dengan serius.
Rey mengangguk, "Jauh lebih baik setelah operasi. Tapi ya Mas tetep harus kontrol ke dokter buat tau sel kankernya udah benar-benar hilang atau belum."
"Beneran udah baikan?" Tanyanya memastikan.
"Iya sayang. Mas juga udah bisa beraktivitas secara normal. Makanya Mas berani datang kesini."
Setelah tiga bulan tinggal di rumah Maura, akhirnya hari ini Alesha ikut pulang dengan suaminya dan kembali ke rumah mereka.
Tidak berapa lama kemudian mobil Alan terparkir rapih di depan rumah bercat putih.
"Bahagia itu sederhana, sesederhana melihat orang yang kita sayangi baik-baik saja"