
Jatuh cinta berjuta rasanya. Sebuah kalimat yang menggambarkan bagaimana perasaan orang saat jatuh cinta. Saat kamu jatuh cinta, semua rela dilakukan untuk bisa membahagiakan pujaan hati.
Terkadang tanpa mempertimbangkan akal sehat dan emosi, cinta seakan membuat buta.
Saat seseorang sudah serius dengan pasangan, ada keinginan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius. Keinginan untuk menikah dan memiliki anak, hidup bahagia bersama selamanya telah ada dalam bayangan. Kalau berjodoh, maka semua itu bisa terjadi. Itulah impian Alesha untuk hidup bahagia bersama Alvin orang tercinta.
Hidup seakan tak berati saat mengingat kepergiannya. Sosok dirinya yang selama ini ada untukmu, hadir menemani di kala senang maupun duka sudah menghilang.
Memang harus kuakui aku sangat merindukanmu. Dunia ini terasa begitu sepi tanpa adanya dirimu di dekatku, itulah mungkin kata-kata yang ingin Alesha ungkapkan selama ini.
Perpisahan begitu menyakitkan ketika cerita belum usai tapi kita harus menutup bukunya. Untuk kedua kalinya Alesha akan mengalami perpisahan dengan orang tercintanya, bukan hanya satu tetapi dua sekaligus, setelah kepergian Alvin kini dirinya juga harus berpisah dengan Rey dan juga Reysha putri tercintanya.
Ingin melepaskan tapi belum siap untuk melepaskan, apakah Alesha hanya hadir untuk selalu mengikhlaskan seseorang yang sangat berharga baginya.
Alesha menatap sekeliling kamarnya, kamar yang menjadi saksi kehidupan singkatnya bersama Rey, dan kamar yang menjadi saksi tangis seorang anak kecil di malam hari, dan kamar ini lah tempat Alesha berkeluh kesah dengan apa yang di alaminya.
Pelakor, ******, perusak, bahkan masih banyak cacian yang Alesha dapatkan, bahkan teman-temannya sewaktu SMA kerap kali mencaci dan memaki Alesha sebagai penggoda.
Apakah ini kemauan Alesha? Jika bisa, Alesha ingin menentang takdir yang sudah di tetapkan, andai Alvin masih ada, pasti sekarang mereka sedang berbahagia melanjutkan pendidikannya dan setelahnya mereka akan menikah dan bahagia bersama.
Begitu banyak pengorbanan Alesha di dalam rumah tangga ini, mulai dari kehilangan masa mudanya dan juga harus ikhlas memberikan anaknya.
"Lagi ngelamun apa Sha?" tanya Rey yang baru saja memasuki kamar.
"Enggak, aku cuma capek aja jadi diem mulu, Reysha rewel banget dari semalem gak mau tidur, dan sekarang juga belum tidur tidur padahal aku belum mandi." ucap Alesha berbohong, namun dia tidak sepenuhnya bohong kalau dia merasa lelah.
"Maaf ya karena semalam Mas gak bisa bantu kamu ngurus Reysha." ujar Rey penuh sesal.
"Nggak papa, kamu fokus aja sama kesembuhan Mba Safira." ucap Alesha memalingkan wajahnya menatap Reysha yang sudah mulai terlelap di gendongannya.
Menjadi seorang ibu memang tidaklah mudah. Ia memberikan seluruh waktu dan energi untuk keluarganya, Namun menjadi ibu adalah pekerjaan mulia yang diimpikan semua wanita.
Menjadi seorang ibu bagi sebagian orang merupakan anugerah terindah. Bukan hanya mengasihi dengan sepenuh hati, tugas seorang ibu juga menjadi guru pertama untuk anaknya. Tapi sekian kalinya Alesha berpikir apakah dia mampu menjadi ibu yang baik untuk putrinya, dan menjadi guru untuk putrinya? Rasanya Alesha tidak pantas mengharapkan itu semua jika nyatanya nanti Safira lah yang akan menjadi guru untuk anaknya kelak.
"Mas udah dapat pendonor buat Safira, dan Mas minta maaf sama kamu kalo kita akan melakukan operasi di luar negri mengingat penanganan medis di sana lebih baik." Alesha hanya mengangguk mengiyakan, dengan begini iya bisa menghabiskan waktunya dengan Reysha dan dia juga akan mencari Maura.
"Mau pergi kapan?" tanya Alesha.
"Lusa kita akan berangkat, tapi Mas gak bisa ninggalin kamu sendirian di sini, nanti aku suruh ibu buat nemenin kamu ya."
"Nggak usah, aku mau belajar ngurus anak aku sendiri." tolak Alesha, rasanya ia sekarang mulai canggung dengan Ira setelah mengetahui beberapa fakta yang mertuanya sembunyikan.
"Kamu yakin?" tanya Rey memastikan.
"Aku yakin, oh iya nanti siang aku mau beli peralatan bayi buat Reysha."
"Kamu mau aku antar?"
"Nggak usah, aku pergi sendiri aja, kamu jaga Reysha sama Mba Safira di rumah ya."
*****
Rumah tangga yang bahagia tak selalu tentang berlimpah materi. Makna sesungguhnya pernikahan adalah tentang kebersamaan, bersama menghadapi suka dan duka.
Menjalani biduk rumah tangga itu berarti kita harus punya cara untuk bahagia bersama dalam suka maupun duka. Terkadang terasa lelah, tapi tak boleh menyerah. Tetapi Alesha akan menyerah demi kebahagiaan mereka semua.
Tapi menapaki jalan perceraian juga tak mudah, dalam masyarakat kita pasangan yang memilih berpisah dianggap cacat nilai. Ada stigma-stigma yang akan menempel pada kedua belah pihak karena status janda atau duda, demikian juga anak-anak mereka yang tak luput dilabeli “anak broken home".
Anak broken home identik melekat pada mereka yang tumbuh sebagai anak dengan berbagai gangguan mental, kurang kasih sayang, dan buruk dari sisi pendidikan. Itu hanya pandangan buruk tentang anak broken home. Tidak semuanya akan terkena gangguan mental dan kasih sayang.
Buktinya Alesha mendapatkan kasih sayang walaupun dia juga termasuk anak broken home jika dipandang pada umumnya. Mega bukanlah ibu kandungnya tetapi selama ini dia menyayanginya, begitupun Safira, dia adalah anak kandung Mega yang berarti sifat kasih sayang Mega akan menurun kepada Safira untuk mengasuh dan menyayangi Reysha seperti anaknya sendiri.
Bruk
Alesha yang tidak hati-hati dalam berjalan tidak sengaja menabrak seseorang hingga minuman yang ia genggam tumpah pada baju seorang lelaki yang ia tabrak.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria tersebut mengulurkan tangannya untuk membantu Alesha berdiri, tetapi Alesha menolak bantuan tersebut.
"Maaf aku gak sengaja." ujar Alesha merasa bersalah.
"Nyonya Prayoga." ucap pria tersebut membuat Alesha yang tadi sedang menunduk seketika mendongakkan kepalanya.
"Pak Refan?" beo Alesha menatap lelaki yang ada di depannya.
"Apa Kamu baik-baik saja?" tanya Refan menaikkan sebelah alisnya.
"Ya aku baik, maaf sudah mengotori baju anda."
"Sedang apa sendirian di sini? Dimana Pak Rey?" tanya Refan lagi.
"Aku sendiri, dan Mas Rey sedang di rumah menjaga Reysha."
Refan hanya mengangguk tanda mengerti." Bisa kita makan siang bersama? Ah itu sebagai tanda permintaan maaf kamu karena sudah mengotori baju saya." alibi Refan, padahal ia ingin lebih mengenal Alesha.
Alesha menimang-nimang permintaan Refan, ia ingat Rey selalu mengingatkan jika dia tidak boleh terlalu dekat dengan orang yang bukan mahromnya.
"Saya mengerti kamu tidak ingin hanya berdua dengan saya, tapi kita tidak makan berdua karena saya mengajak anak-anak saya."
"Aku harus minta ijin dulu sama Mas Rey."
Refan mengangguk sambil menunggu Alesha yang sedang menelepon Rey untuk meminta ijin. Jarang sekali Refan menemukan wanita muda seperti Alesha yang sangat patuh kepada suaminya, kelihatannya Alesha tidak seburuk perempuan yang pada umumnya menjadi istri kedua. Terlihat dari cara bicara dan sifatnya, Alesha memang dewasa oleh waktu dan keadaan.
"Gimana?" tanya Refan ketika Alesha sudah selesai menghubungi suaminya.
"Boleh asal tidak hanya berdua." jawab Alesha.
Refan mengangguk dan menyuruh Alesha mengikutinya dimana di sana sudah ada empat orang yang menunggu Refan.
"Daddy lama." ujar seorang anak berusia lima tahun.
"Maaf sayang tadi Daddy ada urusan sebentar, oh iya kenalin ini kakak Alesha." ucap Refan memperkenalkan Alesha.
"Kakak cantik" celetuk Ramon putra kedua Refan.
Alesha hanya tersenyum canggung, Kaira keponakan Refan yang berusia empat belas tahun menatap kagum Alesha." Kakak gak gerah pakai baju panjang kaya gini?" tanya Kaira polos.
"Nggak, karena memang sebagai muslimah kita di suruh untuk tidak memperlihatkan lekuk tubuh kita." jawaban Alesha membuat Refan semakin kagum dengan wanita muda di hadapannya.
Bersambung......