
Hari ketiga di bulan Ramadan Safira meminta Rey dan Alesha menemaninya bertemu keluarga Alvin. Safira sudah bertekad akan meminta maaf atas segala perbuatan yang tidak disengaja.
Safira menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya. Jujur Safira sangat amat takut memasuki rumah yang ada di depannya, Rey menggenggam tangan Safira untuk menguatkan istrinya.
Alesha berjalan mendahului Rey dan Safira memasuki rumah tersebut"Assalamu'alaikum tante Mila"
"Wa'alaikumussalam" jawab wanita paru baya yang membukakan pintu untuk Alesha.
"Tante Asha kangen" pekik Alesha menghamburkan badannya memeluk wanita yang tak lain ibu dari Alvin.
"Tante juga kangen banget sama kamu, kamu apa kabar sayang?"
"Alhamdulillah kabar Asha baik tan"
"Alhamdulillah, perut kamu udah keliatan besar ya" ucap Mila mengusap perut Alesha yang tidak rata lagi.
"Namanya juga ada bayinya tan"
"Ayo masuk Rey, Safira" ajak Mila
Safira menatap bingung dengan sikap Mila, kenapa Mila masih bisa bersikap baik kepadanya disaat Safira sudah merenggut putranya.
"Ayo sayang" ucap Rey menarik tangan Safira memasuki rumah keluarga Alvian, sejujurnya Rey juga takut dengan respon keluarga Alvin.
Sesampainya di ruang tamu, Alesha, Rey dan Safira di persilahkan duduk oleh Mila. Mila memberitahu suami dan putra pertamanya kalau mereka sedang ada tamu.
Rajendra Alviandra ayah dari Alvin menatap datar kedatangan mereka. Sedangkan Alkan langsung duduk di samping ibunya dan menatap Alesha sambil tersenyum.
"Mau apa kalian datang kesini" tanya Rajendra dengan tegas.
Safira langsung menunduk mendengar pertanyaan Rajendra. Rey yang paham langsung menggenggam erat tangan istrinya.
"S-saya kesini mau minta ma--"
"STOP" ucapan Safira langsung di potong Alkan begitu saja tanpa mau mendengar kelanjutannya.
"Kamu pasti cuma bilang mau minta maaf gitu? Apa dengan kata-kata maaf kamu adik saya bisa kembali hidup?" ucap Alkan dengan tangan mengepal.
Safira menatap takut Alkan yang memandangnya dengan tatapan tajam."Saya memang tidak bisa membuat adik anda hidup kembali, tapi saya siap mempertanggungjawabkan perbuatan saya"
"Kenapa baru sekarang?" tanya Rajendra yang sejak tadi menyimak pertikaian Alkan dan Safira.
"Saya tau saya terlambat, dan saya minta maaf" ujar Safira meremas kuat tangan Rey yang sedang menggenggamnya.
"Sudahlah lupakan semua itu, saya rasa tidak ada gunanya saya menuntut kamu atas kematian putra saya. Putra saya orang yang baik, jadi saya yakin di juga pasti sudah memaafkan kamu"
"Ayah" pekik Alkan tidak terima dengan keputusan ayahnya yang memaafkan Safira segampang itu.
"Sudahlah Alkan, ayah rasa ini hanya sebuah kecelakaan, kamu juga sudah melihat cctv tersebut memperlihatkan bahwa Safira tidak sengaja menabrak Alvin" ucap Rajendra pergi meninggalkan mereka semua yang masih menatapnya.
Brak!
Alkan melemparkan vas bunga yang ada disampingnya dan melangkahkan kaki meninggalkan rumah dengan amarah yang kian memuncak.
"Tante" panggil Alesha
"Sudahlah nak, berbahagialah dengan kehidupan kalian. Tante percaya bahwa ini hanya takdir yang sudah digariskan"
"Safira minta maaf atas kesalahan Safira"
"Tante sudah memaafkan kamu jauh sebelum kamu meminta maaf, tolong selalu doakan anak tante biar dia tenang di sana" ucap Mila dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Safira mengangguk dan langsung bersimpuh di hadapan Mila yang sedang duduk di atas sofa.
"Bangunlah nak, kehidupan kamu masih panjang, kalian bertiga harus tetap bahagia ya" Mila menatap bergantian Safira dan Alesha, kemudian terakhir ia menatap Rey yang duduk dihadapannya.
"Rey Tante cuma minta tolong jaga Safira dan Alesha. Berlaku adil lah kamu kepada mereka berdua, jangan pernah sakiti mereka"
"Alesha" panggil Mila memegang tangan Alesha yang sedang duduk disampingnya.
"Tante mohon ikhlaskan Alvin, Tante tau kamu sayang sama dia. Sekarang kamu istri Rey,tidak pantas jika seorang istri mencintai pria lain yang mana dia haram bagi kamu. Hargai perasaan Rey, dan hidup rukun lah antara kamu dan Safira" nasihat Mila, Alesha langsung mengangguk dan memeluk Mila dengan erat.
*****
Sepulang dari rumah keluarga Alvin, Alesha pulang ke rumah orang tuanya karena ingin bermalam di sana. Rey tentu saja mengijinkan Alesha menginap di rumah orang tuanya. Itung-itung sekarang ia bisa menghabiskan waktu berdua bersama Safira. Semenjak kehamilan Alesha, Rey cenderung lebih sering menghabiskan waktu dengan istri keduanya.
Jika boleh jujur membagi waktu untuk keduanya sangatlah sulit, ditambah mereka tinggal seatap yang mana disaat Rey sedang bersama salah satunya pasti yang lainnya akan cemburu dan sakit hati.
Kalau kalian berpikir Rey tidaklah adil, itu semua memang benar adanya, Rey juga menyadari sikapnya akhir-akhir ini terlalu ketus kepada Safira semenjak ia tau insiden kecelakaan itu.
Tapi Rey akan berusaha agar bisa membuat Safira tersenyum kembali disaat banyaknya cobaan yang menghampirinya.
"Humaira" panggil Rey ketika Safira sedang berada di dapur untuk memasak makanan buka puasa nanti.
"Di dapur Mas" ucap Safira sedikit berteriak.
"Kamu lagi bikin apa?" tanya Rey yang sudah berdiri di samping Safira.
"Aku masak asem-asem daging Mas, udah lama juga kan kamu gak makan itu" ucap Safira sambil memotong-motong dagingnya.
"Iya udah lama kamu gak masak kaya gitu, sini biar Mas bantu" ujar Rey mengambil alih pekerjaan Safira.
"Ya udah aku mau bikin bumbunya dulu, motongnya jangan terlalu kecil ya Mas"
"Siap" ucap Rey
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam akhirnya mereka pun selesai memasak makanan untuk berbuka puasa.
Rey dan Safira kini sedang menunggu adzan magrib di ruang makan sambil berbincang-bincang tentang pertemuan pertama mereka.
"Aku gak nyangka aja bisa jadi istri kamu Mas" ucap Safira tersenyum mengingat pertemuannya yang sangat konyol.
"Mas juga gak nyangka sih fir, tapi Alhamdulillah rumah tangga kita masih tetap bertahan walaupun banyak rintangan yang menghalangi kita"
"Iya Mas Alhamdulillah"
"Sejujurnya Mas merasa bersalah banget sama kamu, akhir-akhir ini Mas lebih sering merhatiin Alesha dari pada kamu fir, maafin Mas ya. Mas masih gagal menjadi suami yang baik untuk kamu"
"Mas gak salah, justru aku yang salah selama ini. Andai aja aku bisa kasih kamu keturunan, mungkin ibu gak bakal maksa kamu nikah lagi, ibu sayang banget sama aku sebelum dia tau aku gak bisa hamil, tapi aku gak nyesel kamu nikah lagi, karena Alesha bukan orang yang cemburuan dan dia wanita baik-baik"
"Mas sayang banget sama kamu fir" ucap Rey memegang tangan Safira..
Setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara sampai adzan magrib berkumandang, mereka memakan kurma terlebih dahulu setelahnya mereka lebih memilih sholat Magrib sebelum memakan makanan yang berat, karena takutnya ketika sudah kenyang mereka menjadi malas beribadah.
Bersambung............
Disini aku mau sedikit jelasin, karena di tiktok banyak yang nanya nanti ada yang jahat gak?
Aku jawab nggak.
Karena apa? Karena selagi pemimpinnya bisa adil di antara mereka pasti gak bakal ada yang jahat.
Kasian ya Safira.
Nah ini perlu diketahui kalau ini semua garis takdirnya, dan juga buah dari perbuatan Safira di masa lalu. Kecelakaan Alvin kan bukan salah Safira, memang bukan salah Safira. Tapi seharusnya Safira gak kabur.
Kok Rey lebih romantis sama Alesha dari pada Safira?
Kalau soal ini maaf, aku terlalu fokus sama pemeran utama sampe lupa sama yang lain-lainnya. Nanti aku bakal bikin part khusus Safira sama Rey.
Masalah panggilan sayang?
Di part berapa aku lupa udah pernah jelasin kalau panggilan khusus dari Rey ke Safira itu Humaira dan untuk Alesha Zaujati, tapi di dialog tertentu kadang aku ganti panggilannya jadi sayang.