
Meeting dengan perusahaan Ganendra grup berjalan dengan lancar, mereka akan memulai bisnis bersama dengan Refan yang akan menjadi investor di perusahaan Prayoga company.
"Saya ucapkan terimakasih kepada Pak Refan, saya harap kerja sama kita berjalan dengan lancar." ujar Rey menjabat tangan Refan.
"Saya harap begitu."
Refan mengeluarkan undangan pesta ulang tahun anaknya yang berusia lima tahun, dia memberikan undangan tersebut kepada Rey.
"Saya harap anda bisa hadir di acara ulang tahun anak saya nanti, Pak Rey juga bisa membawa istrinya datang."
"Saya usahakan." jawab Rey.
Setelah kepergian Refan, kini Rey kembali ke kantor dengan Nia yang berjalan di belakangnya, Rey sengaja menyuruh supri Danu untung mengantarkannya karena Rey tidak ingin hanya berdua dengan Nia.
"Saya boleh duduk di belakang Pak? Saya tidak nyaman jika harus duduk di depan." ujar Nia berusaha mendekati Rey, tadi saat ia menuju tempat meeting Rey menyuruhnya agar duduk di samping supir, dan itu mampu membuat Nia kesal.
"Ya sudah lebih baik kamu kembali ke kantor dengan Pak supir, saya bisa naik taksi."
"Loh, kok gitu Pak?" tanya Nia tidak habis pikir dengan ucapan Rey.
"Iya saya harus pulang, saya harus memberitahu istri saya untuk pergi ke acara Pak Refan."
"Tapi kita bisa mengantar Pak Rey dulu." ucap Nia berusaha membujuk Rey agar pulang bersamanya.
"Itu hanya membuang waktu Nia, tolong hargai waktu, kamu harus segera menyelesaikan pekerjaan kamu." ujar Rey turun dari mobilnya, jujur ia risih dengan sikap Nia yang sangat ramah terhadapnya. Bukan apa, tapi Rey takut jika terlalu merespon Nia bakal terjadi hal yang tidak-tidak dari sudut pandang orang. Apalagi Rey sudah di cap tidak baik karena memiliki dua istri sekaligus.
Rey baru saja turun dari taksi yang di tumpanginya, ia memasuki rumah dengan keadaan senang karena bisa pulang lebih cepat."Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam Mas." jawab Safira menyambut kedatangan suaminya.
"Kok tumben pulang cepet." tanya Safira.
"Kamu benernya seneng liat suami pulang cepet malah di tanyain." gerutu Rey karena Safira tidak antusias dengan kepulangannya.
"Enggak gitu Mas."
"Iya Mas ngerti sayang, Mas sengaja pulang cepet karena kerjaan Mas udah selesai, terus nanti malam ada rekan kerja yang ngundang kita buat dateng ke acara ulang tahun anaknya, niatnya Mas mau ajak kalian berdua." jawab Rey mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Mau kemana?" celetuk Alesha yang baru saja melewati ruang keluarga.
"Kita pergi ke pesta rekan kerja Mas Sha." jawab Rey, Alesha hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti.
"Kamu mau ikut kan Sha?" tanya Safira.
Alesha berpikir sejenak dengan tawaran Safira, ia tidak ingin Rey di pandang buruk karena membawa kedua istrinya."Nggak deh Mba, mending aku istirahat aja di rumah rasanya semakin perut aku besar aku tambah males kemana-mana, kaki aku gampang pegel." jawab Alesha.
"Kalo gitu mending Mas pergi sendiri aja, aku mau nemenin Alesha."
"Nggak, Mba mending pergi sama Mas Rey, emang Mba gak takut kalo Mas Rey kecantol perempuan-perempuan di luar sana? Siapa tau mau nambah jadi tiga." gurau Alesha yang mendapatkan tatapan tajam dari Rey.
"Enak aja kamu Sha, Mas gak kaya gitu ya."
Alesha hanya mengedikan bahunya dan berlalu meninggalkan keduanya.
*****
Malam harinya mobil yang di kendarai Rey berhenti tepat di rumah mewah rekan kerjanya Refan Ganendra. Banyak orang-orang penting yang hadir di acara putranya.
Rey dan Safira memasuki rumah Refan dengan bergandengan tangan, mereka tampak serasi dengan Rey yang memakai kemeja putih dilapisi jas hitam sedangkan Safira memakai gamis simple berwarna navy.
"Selamat datang Pak Rey Prayoga." sapa Refan melihat kedatangan tamunya.
"Panggil saya Refan, kita tidak sedang bekerja."
"Berarti anda juga harus memanggil saya Rey." gurau Rey di sambut kekehan dari Refan.
Refan menatap kagum Safira, sepertinya Rey beruntung memiliki istri secantik Safira.
"Perkenalkan ini istri saya Safira." Refan hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau gitu saya permisi, masih banyak tamu yang harus saya sambut." pamit Refan meninggalkan kedua pasutri tersebut.
Rey dan Safira menikmati acara pesta malam ini, mereka merasa seperti pengantin baru yang sedang berkencan romantis, ya walaupun ini hanya acara ulang tahun anak-anak,tetapi dekorasinya sangat mewah.
Setelah semua tamu hadir, Refan langsung berdiri bersama tiga putrinya dan seorang gadis yang merupakan keponakannya.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Alhamdulillahi rabbil 'alamin wasshalatu wassalamu 'ala asyrafil ambiya'i wal mursalin, wa'ala alihi wasahbihi ajma'in 'amma ba'du."
"Bapak-bapak dan ibu-ibu,sertaAnak-anak yang saya cintai,
Pertama-tama marilah kita bersama-sama memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan nikmat, rahmat serta karunia-Nya yang diberikan kepada kita semua, terutama nikmat sehat, sehingga kita semua bisa berkumpul di tempat ini dalam keadaan sehat wal’afiat tidak kurang suatu apapun."
"Sholawat dan salam tidak lupa kita sanjungkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya, semoga kita yang hadir di tempat ini mendapatkan Syafaat beliau di yaumil akhir nanti. Aamiin Ya Rabbal A'lamin."
"Sebagai orang tua dari Riza Ganendra, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kesediaan kalian untuk meluangkan waktu menghadiri acara ulang tahun anak saya yang hari ini telah berusia 5 tahun."
Sekali lagi saya sampaikan terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas kehadiran kalian semua, saya mohon doa agar kelak anak saya menjadi anak yang Sholeh serta mampu membanggakan keluarganya."
"Kurang dan lebihnya saya selaku orang tua mohon maaf, dan saya akhiri,Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Selamat menikmati acaranya." ujar Refan sebelum mengakhiri kata-katanya.
Rey saat ini tengah berbincang-bincang dengan rekan bisnisnya, tadi Rey menyuruh agar Safira duduk bersama istri dari rekan-rekannya, tetapi Safira lebih memilih duduk sendiri dari pada harus bergabung dengan ibu-ibu sosialita.
"Apa nyonya merasa tidak nyaman dengan keramaian?" tanya seseorang pria yang sedang berdiri di hadapan Safira dengan membawa dua gelas minuman di tangannya.
Safira melirik sebentar pria di hadapannya." Ya, saya tidak nyaman karena ini bukan lingkungan saya."
"Kenapa? Bukannya istri dari pemilik perusahaan besar biasanya suka bergabung dengan ibu-ibu sosialita dan memamerkan barang-barang serta perhiasannya?" tanya Refan menaik turunkan alisnya.
"Saya bukan mereka, saya lebih nyaman mengikuti pengajian dari pada harus mengikuti arisan."
Refan hanya mengedikan bahunya kemudian berjalan menuju Kaira, keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya.
Refan menatap sendu ketiga putranya, andai Clara masih ada bersama mereka, pasti hari ini Clara akan mempersiapkan semuanya sendiri untuk ulang tahun Riza.
Kehilangan seseorang untuk selamanya memang menjadi sebuah hal yang sangat menyedihkan dan terpukul. Bagaimana tidak, mereka yang selalu ada di kehidupan kita akan pergi dan tidak akan kembali lagi. Tentu bayang-bayang rindu akan menyelimuti kita yang masih merasa sedih karena kehilangan seseorang tersebut.
"Betapa beruntungnya aku memiliki sesuatu yang membuatku mengucapkan selamat tinggal begitu sulit, dan mengingat namamu begitu sakit Ra, Mas rindu sama kamu." lirih Refan mengusap sudut matanya yang mulai berair.
"Aku mencintaimu setiap hari. Dan sekarang aku akan merindukanmu setiap hari."
Kehilangan membuat Refan belajar untuk menerima dan mensyukuri dengan apa yang masih dia miliki, dia harus bangkit demi ketiga putranya, ah tidak, empat dengan Kaira.
Refan hanya mampu berdoa untuk mendiang istri, kedua orang tua beserta kakaknya. Rasanya Refan ingin mengeluh, dia belum siap menanggung semua ini sendiri.
Orang tuanya meninggal di saat dia dan kakaknya masih kecil, setelah menemukan kebahagiaannya bersama Clara, dia juga harus menerima jika Clara telah di panggilnya tuhan setelah melahirkan anak ketiganya, kesedihan tidak ada henti-hentinya, kakaknya kecelakaan dan tewas di tempat bersama suaminya, dan kini Refan harus mengurus keempat anaknya sendirian.
Dan Refan menganggap semua yang terjadi pada dirinya pasti ada hikmahnya.
Tuhan memberikan ujian berupa kegagalan dan kehilangan untuk mengajarkan hikmah didalamnya pada kita.