Until the End

Until the End
Mendoakan



Rey, Alesha dan Haidar telah sampai di dimakan Safira, mereka bertiga berjongkok, Alesha menaburkan bunga di atas makam madunya itu.


Rey memegang batu nisan Safira dengan sendu, raut wajahnya tidak bisa dibohongi kalau dia sangat amat merindukan mendiang istrinya. Bukan hanya Rey yang merasakan sedih, tetapi Alesha juga ikut merasakan kerinduan terhadap Safira.


"Humaira...."


Rey berucap lirih. Air matanya tidak bisa dibendung lagi melihat nama Safira yang tertulis di batu nisan itu. Walaupun sudah bertahun-tahun kepergian Safira, tetapi Rey masih tetap merasa istrinya itu ada disekitarnya.


"Mas merindukan kamu Humaira." Rey memeluk nisan Safira sambil menangis. Terdengar isak pilu itu mampu menyayat hati Haidar dan Alesha.


"Mas datang kesini untuk mendoakan kamu, Mas mau sesekali datanglah ke mimpi Mas untuk mengobati rindu ini Fir, Mas ingin melihat wajah cantik kamu, Mas juga ingin melihat senyuman kamu walaupun semua itu hanya ada di mimpi Mas."


Alesha mengusap punggung Rey yang bergetar, dia juga merasakan sakit saat mengingat penderitaan Safira dulu, dimulai dari kehilangan orang tuanya, lalu kemudian Safira harus berbagi suami dengan dirinya.


"Mbak Safira, aku juga datang kesini bersama Haidar, anak kedua kita,maaf karena baru pertama kali membawa Haidar menemui Mbak, tapi kita semua selalu mendoakan Mbak di sini."


"Sebenarnya sampai detik ini aku masih marah sama Mbak, karena apa? Karena Mbak bilang mau bantuin aku jagain anak-anak, tetapi Mbak Safira malah lepas tangan gitu aja." ujar Alesha terkekeh pelan dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya.


"Maaf karena aku belum sempat bawa putri kita, aku yakin suatu saat dia akan mengunjungi Mbak disini, Mbak tau? suami Mbak ini hebat, makasih karena telah membagi suami hebat Mbak kepada aku."


"Semoga Mbak tenang di sana, semoga suatu saat nanti kita bisa berkumpul bersama-sama di surga, dan Mbak akan bertemu lagi dengan suami Mbak yang saat ini sedang bersama aku."


Haidar pun ikut terharu melihat kedua orang tuanya yang menangisi Safira, bahkan Haidar mulai mengusap nisan Safira.


"Bunda...."


Alesha dan Rey sontak menatap Haidar yang memanggil Safira dengan sebutan bunda.


"Terimakasih karena sudah hadir di kehidupan Papa, terimakasih juga karena bunda udah baik sama Mama, Haidar nggak tau gimana bunda, tetapi Haidar tau kalau bunda orang yang baik, terlepas dari masalah apapun, bunda Safira juga ibu bagi Haidar."


"Haidar sayang sama bunda, Bahagia selalu disana bunda, sekali lagi makasih karena udah pernah bikin Mama sama Papa bahagia bersama bunda." setelah mengucapkan itu Haidar mundur selangkah ke belakang Rey.


Alesha dan Rey mengadahkan kedua tangannya, mereka semua berdoa untuk ketenangan Safira, baik Rey dan Alesha pun sama-sama memejamkan matanya.


Setelah selesai mereka semua berdiri, Alesha dan Haidar meninggalkan Rey yang masih ingin sendiri berada di makam istrinya.


"Humaira... Bahagia disana, Mas disini sudah bahagia bersama keluarga kecil Mas, kamu tau? kamu sudah memiliki menantu, Reysha sudah menikah, dia sudah mengemban tanggung jawab sebagai seorang istri."


Terlintas dalam bayangan Rey masa-masa awal pernikahan mereka. Rey dan Safira begitu mencintai satu sama lain, bahkan Rey pernah menolak untuk menikah kembali saat Safira menyuruhnya.


Tetapi semuanya berubah kala Rey mengingat jika memang cinta pertamanya bukanlah Safira melainkan Alesha, bahkan Rey pernah kecewa karena Safira telah merenggut nyawa seseorang.


Berpisah dengan pasangan karena kematian adalah hal terberat yang mungkin pernah dirasakan oleh sebagian orang. Banyak kenangan manis yang rasanya nggak mungkin bisa dihapuskan dalam ingatan. Meski begitu, sebagian orang ada yang tetap kuat dan justru ingin mengenang kembali masa-masa indahnya bersama pasangan dengan berbagai cara.


"Mas pulang dulu ya Fir, lain kali Mas akan ajak putri kita dan menantu kita ke sini, Mas akan selalu sayang kamu selamanya Safira Khumaira bidadari surganya Mas."


Rey menuju mobilnya, disana Haidar dan Alesha tengah menunggunya sambil sesekali bercerita satu sama lain.


"Udah, kenapa kamu duduk di belakang?" tanya Rey saat Alesha malah duduk di samping Haidar.


"Karena hari ini kamu harus jadi supir kita berdua." sahut Alesha dengan senyum manisnya. Rey hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alesha.


"Baik nyonya, sekarang tuan muda dan nyonya mau kemana?" tanya Rey sambil membungkuk.


"Tuan muda mau ke rumah Om Alan sama Tante Resa, tuan muda mau bertemu dengan teman disana." kata Haidar sambil terkekeh geli dengan gaya bicaranya saat ini.


Mata Alesha menyipit saat melihat seorang wanita yang tengah duduk di pinggir jalan sambil mengadahkan kedua tangannya, wanita itu terasa tidak asing bagi Alesha.


"Siap tuan muda, mari kita jalan."


"Tunggu" cegah Alesha yang masih mengamati wajah wanita itu.


"Kenapa sayang?" tanya Rey mengikuti arah pandang Alesha.


"Mas, bukannya itu bunda? bener kan Mas itu bunda. Aku pasti nggak salah liat kalau itu bunda." ucap Alesha membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri wanita tua itu.


Namun tanpa melihat sekitar, Alesha tidak tau jika ada motor yang melaju kencang, Rey yang melihat itu langsung berlari dan memeluk Alesha hingga terguling di tepi jalan.


"ALESHA!"


"Seharusnya kamu lebih berhati-hati lagi, gimana kalau kamu sampai kenapa-kenapa hah!" bentak Rey saat Alesha sudah duduk di tepi jalan seperti orang linglung.


"Mama nggak apa-apa?" tanya Haidar yang datang sambil membawa sebotol minuman yang ia dapat di mobilnya.


"Mama nggak apa-apa, tapi bunda.." lirih Alesha saat tidak lagi melihat Mega yang tadi duduk di tepi jalan tadi.


"Jangan ceroboh Alesha! kalau memang tadi bunda, kita bisa suruh orang buat cari, tapi nggak dengan membahayakan diri kamu. Mas tau kamu rindu sama bunda, tetapi nggak seperti ini juga." ujar Rey.


"Maaf Mas, aku nggak akan lagi ceroboh kaya tadi, aku cuma terlampau seneng sampai nggak liat ada motor yang hampir aja nabrak aku."


"Kita pulang sekarang." ajak Rey memapah istrinya yang masih terlihat lemas setelah kejadian tadi.


Mungkin Alesha masih syok karena hampir saja tertabrak motor yang melaju kencang, bukan hanya Alesha, tetapi Haidar dan Rey juga merasa syok akan kejadian barusan.


Entah apa yang akan mereka lakukan jika benar Alesha tertabrak, mungkin Rey akan menyalahkan dirinya lagi karena tidak becus dalam menjaga keluarganya.


"Tangan kamu luka Mas." ujar Alesha memegang telapak tangan Rey yang mengeluarkan darah.


"Mas nggak apa-apa, nanti kamu yang harus tanggung jawab buat ngobatin luka Mas."


"Masih modus aja." guman Haidar yang dapat di dengar Rey dan Alesha.