Until the End

Until the End
Berangsur membaik



Hari telah gelap. Pukul sembilan malam, Alesha naik ke atas ranjang dan langsung merebahkan tubuh. Rey masih banyak melarang Alesha untuk melakukan berbagai aktivitas.


Dan baru saja ia akan memejamkan mata, Rey yang baru masuk ke kamar melihat istrinya yang sedang berbaring. Ia, pun kemudian juga langsung ikut naik ke atas ranjang dan menidurkan diri di sebelah Alesha. Ia merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri, menghadap pada perempuan itu sambil memeluknya.


Alesha yang tadi hendak tidur, kembali membuka mata saat tubuhnya terasa didekap oleh seseorang. Ia menoleh pada Rey yang kini sedang menatap tersenyum padanya.


"Udah lama, ya kita ngga kaya gini. ucap Rey.


"Iya."


Rey diam sesaat. "Maafin aku, ya? Karena aku telat nolongin kamu, andai waktu itu Mas percaya, pasti semua ini nggak akan terjadi.


"Bukan salah kamu, Mas."


"Tapi aku harap, kamu jangan terlalu meratapi musibah ini ya? Sedihnya jangan berlarut. Allah pasti punya sesuatu yang indah yang sudah disiapkan dari setiap kejadian. Meski itu kejadian pahit yang kita rasa sekalipun."


"Iya Mas, maafin aku juga yang selama ini acuh terhadap kalian." kemudian Alesha pun memejamkan matanya.


Rey tersenyum mendengar jawaban istrinya, terkekeh ringan.


Senyum tipis tercipta di bibir pria tersebut, terasa tenang rasanya melihat wajah cantik istrinya ini.


Lalu, ia pun berulah, Rey memainkan jemarinya di wajah Alesha. Memainkan pipi, hidung, bibir, dagu dan semua area wajah istrinya menggunakan jari telunjuk yang ia toel-toel dan menekannya dengan lembut.


"Kamu ngapain, Mas?" tanya Alesha membuka mata.


"Kamu belum tidur?"


"Mana bisa aku tidur, kamu dari tadi gangguin aku mulu."


"Habisnya aku gemes banget sama kamu sayang." jari telunjuknya ia pindahkan ke area bibir milik Alesha.


"Ngga usah pegang-pegang, ya, Mas. Kamu Bisa-bisanya nyosor terus."


"Kapan?"


"Kapan apanya? Pura-pura lupa?"


Rey pun terkekeh. "Nggak papa dong, masa nyosor istri sendiri nggak boleh."


"Mas kamu janji kan nggak bakal ninggalin aku kaya ayah yang ninggalin bunda." lirih Alesha, dari kemarin ia takut jika Rey meninggalkannya, apalagi kasus Alesha dan Rey sama saja.


"Aku nggak bakal ninggalin kamu, cukup sekali aja aku berbuat bodoh, aku sayang banget sama kamu, jangan pernah berpikir kalau aku sanggup ninggalin kamu, terlepas dari semua masalah ini, kamu adalah wanita terhebat dalam hidup Mas."


"Terimakasih karena sudah menerima aku apa adanya."


"boleh apa?"


Rey menatap bibir ranum istrinya, jari-jarinya pun berhenti di benda kenyal itu.


"Apaan, sih? Engga, aku mau tidur." ia menyingkirkan tangan Rey dari bibirnya.


"Pas aku langsung nyosor, kamu diam saja. Pas aku izin, kamu tolak. Apa sekarang juga langsung saja?" ujar Rey.


"Ih, Mas, aku mau tidur ngga usah ganggu."


"Langsung saja, ya?"


Tangannya pun langsung menyentuh wajah Alesha, Alesha segera menahan diri, tidak mau masuk perangkap lagi. Hingga akhirnya, Rey yang berusaha mencari benda kenyal itu dan Alesha yang juga dengan kuat berusaha menyembunyikannya.


Dan karena tidak juga berhasil, Rey pun kemudian menciumi leher istrinya yang membuat Alesha langsung menggeliat geli. Sehingga akhirnya gelak tawa pun timbul di antara keduanya.


"Mas Rey! Berhenti!"


Tapi laki-laki itu tak juga menghentikan, justru semakin semangat menciumi leher sang istri.


"Kamu kamu nggak berhenti aku bakal marah sama kamu."


Mendengar itu, barulah Rey akhirnya menghentikan tangannya dengan masih menyisakan tawa di masing-masing mereka.


"Kamu suka banget sih jahil." ucapnya cemberut.


"Aku suka liat kamu kaya gini, jadi jangan pernah berubah lagi ya cantik, tetap jadi Alesha yang Mas kenal." ujar Rey menyeludupkan tangannya dibalik piyama Alesha.


"Jangan nakal sih Mas." keluh Alesha, Rey pun merapatkan tubuhnya dengan Alesha dan memeluknya erat.


"Sekarang kamu tidur, ya."


Alesha mengangguk. "Kamu juga."


"Iya."


Sejenak mereka saling pandang dengan senyum yang sama-sama masih terlihat di wajah. Lalu kemudian, wajah Rey ia dekatkan pada perempuan tersebut lalu mengecup lembut kening istrinya seperti biasa Rey lakukan sebelum tidur kepada Alesha..


"Selamat tidur, Zaujati."


"Selamat tidur juga, Zaujii." jawab Alesha membalas pelukan Rey dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.