
Keadaan Mega saat ini memang jauh dari kata baik-baik saja, setelah Bimo menalaknya kini dia harus tinggal di rumahnya dulu yang hanya beralaskan tikar tanpa keramik.
Mega juga sangat kecewa dengan Bimo, selama bertahun-tahun berhubungan ternyata Bimo telah melakukan Vasektomi agar tidak memiliki anak selain dengan Maura.
Dilecehkan, kehilangan suami dan anak membuat Mega tidak punya tujuan apa-apa lagi. Banyak berita menyebar tentang dirinya yang telah dilecehkan membuat Mega hanya mengurung diri di kamar.
Terkadang Mega ikut tetangga yang mengajaknya untuk bekerja di sawah dan mendapatkan uang untuk kebutuhannya.
Takdir Mega memang menyedihkan, di ceraikan suami pertamanya dan sekarang dibuang oleh suami lainnya.
"Pokoknya kamu harus keluar dari kampung ini, kita tidak mau ada penjahat di kampung ini." ujar ibu-ibu berbadan gempal sambil membawa kipas yang tidak pernah tertinggal di tangannya.
"Benar, dia di buang suaminya karena ketahuan memasukkan pria lain ke rumahnya, padahal Pak Bimo itu orang baik, gara-gara dia juga istri Pak Bimo harus menderita dan berpisah dengan anak-anaknya."
"Iya emang nggak ada malunya, sok-sokan baik, ternyata munafik." cibirnya lagi.
Mega tak menghiraukan mereka suami, ia memasuki rumahnya dan duduk diatas tikar sambil memandang foto Safira.
"Kenapa kamu ninggalin bunda nak, bunda nggak punya siapa-siapa lagi, bunda cuma punya kamu, bunda malu ketemu Alan sama Alesha, bunda malu Saf." lirih Mega memeluk foto putrinya. Ia pun kemudian membuka tasnya yang berisi foto dirinya, Bimo, Alan dan Alesha.
"Maafin bunda nak, gara-gara bunda kalian harus pisah sama ibu kandung kalian sendiri, gara-gara bunda juga ibu kalian harus menderita, aku memang mendapatkan Mas Bimo, tapi aku tidak mendapatkan hatinya, selama ini Mas Bimo tidak mau memiliki anak selain kalian."
*****
Di sisi lain, seorang pria paruh baya tengah berdiri di depan pintu rumah Maura sejak satu jam yang lalu, pria itu ragu untuk mengetuk pintu dan ragu untuk kembali pulang.
Maura terkejut saat mendapati Bimo yang sedang berdiri di depannya saat ini.
"Kamu ngapain di sini?" ketus Maura.
"Maura, aku mohon maafkan semua kesalahanku kepadamu, aku ingin memperbaiki semuanya, aku ingin mengulang kembali semuanya, aku ingin membahagiakanmu, ijinkan aku untuk menjadi suami kamu lagi Ra, aku ingin di masa tuaku nanti hanya kamu yang menemaniku, aku ingin menebus semuanya."
Maura menatap datar lelaki yang ada di hadapannya, sampai saat ini tidak ada yang bisa menggantikan Bimo di hati Maura, selama duapuluh tahun lebih, Maura harus menahan gejolak yang ada di hatinya, selalu berharap Bimo akan kembali lagi, tapi sekarang Maura ragu untuk hidup kembali dengan pria yang sudah menyakitinya begitu hebat.
Salahkah jika Maura ragu terhadap pria itu?
"Percaya sama aku Ra, rasanya cinta aku cuma buat kamu."
"Pembohong, apa yang bisa aku percaya dari laki-laki seperti kamu." desis Maura.
"Aku memang bersama Mega, tapi hati aku selalu bersama kamu, bahkan sebelum menikahi Mega aku melakukan Vasektomi agar tidak memiliki anak selain dengan kamu, setiap kali aku bersama Mega, selalu saja kamu yang ada dalam bayanganku Ra."
"Menjijikan, sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, aku tidak mau melihat wajah kamu lagi Mas."
"Harus bagaimana lagi aku membuktikan kalau aku sangat mencintai kamu Maura."
"Kalau kamu memang mencintaiku, bisakah semua hartamu menjadi atas namaku, aku hanya berusaha agar aku tidak terbuang seperti dulu lagi."
Bimo hanya diam mematung, bisakah dirinya memberikan itu semua untuk Maura?